"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

KDM Beri Rp 400 Ribu, Warga Sewoharjo Tetap Nekat Sapu Koin: Pendapatan Kami 500 Ribu Per Hari

Fenomena Penyapu Koin di Jembatan Sewoharjo: Antara Tradisi, Rezeki, dan Keselamatan

Di tengah padatnya arus mudik Lebaran, satu fenomena lama kembali mencuat di Jembatan Sewoharjo. Aktivitas “menyapu koin” yang telah berlangsung puluhan tahun kini dihadapkan pada upaya penertiban dari pemerintah namun tak semudah yang dibayangkan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi mencoba pendekatan berbeda: bukan sekadar larangan, melainkan kompensasi langsung kepada warga. Sebanyak 457 penyapu koin di Desa Karanganyar, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang, menerima kompensasi sebesar Rp400.000 per orang selama periode arus mudik dan arus balik Idul Fitri 1447 Hijriah. Bantuan ini diberikan dengan satu syarat: warga diminta tidak melakukan aktivitas menyapu koin selama satu minggu di jembatan tersebut.

Salah satu penerima, Wastiti, mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah atas kompensasi yang diberikan. Uang tersebut digunakan untuk membayar zakat fitrah dan membeli baju. Ia juga menyatakan siap tidak melakukan aktifitas menyapu koin selama liburan Idul Fitri.

Namun, kebijakan ini tidak sepenuhnya diterima oleh semua warga. Sebagian tetap memilih bertahan di pinggir jalan dan melanjutkan aktivitas menyapu koin, yang mereka anggap sebagai tradisi turun-temurun. Bagi mereka, aktivitas ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga sumber penghasilan utama, terutama saat musim mudik.

Seorang warga lainnya, Warto, secara terbuka menyatakan keraguannya terhadap efektivitas kebijakan tersebut. Ia mengatakan bahwa ini sudah tradisi puluhan tahun warga Sewoharjo dan Sidorejo, walaupun KDM memberikan kompensasi, tetap saja warga disini akan kembali menyapu koin. Menurutnya, selama para pengguna jalan masih melemparkan uang ke jalan, aktivitas ini akan terus berlangsung. Ia bahkan mengungkapkan bahwa pendapatan dari menyapu koin jauh lebih besar dibanding kompensasi yang diberikan.

Dalam kondisi normal, ia bisa memperoleh sekitar Rp250.000 per hari. Namun saat puncak arus mudik, penghasilannya bisa melonjak hingga Rp500.000 per hari. Ia menilai bahwa ini momen setahun sekali lahan rejeki bagi warga selama arus mudik dan balik. Yang harus ditertibkan oleh petugas itu penyapu koin musiman yang datang dari luar.

Fenomena penyapu koin di Jembatan Sewoharjo memang bukan hal baru. Setiap musim mudik, aktivitas ini selalu menjadi sorotan karena dinilai membahayakan. Selain mengganggu kelancaran lalu lintas, praktik ini juga berisiko tinggi bagi keselamatan warga yang berada di tengah jalan, serta pengendara yang melintas dengan kecepatan tinggi.

Kompensasi yang diberikan pemerintah menjadi langkah kompromi berusaha menyeimbangkan antara aspek kemanusiaan dan keselamatan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa persoalan ini lebih kompleks. Di satu sisi, ada kebutuhan ekonomi dan tradisi yang mengakar. Di sisi lain, ada tuntutan keselamatan dan ketertiban publik yang tidak bisa ditawar.

Kisah di Sewoharjo ini menjadi gambaran nyata bahwa kebijakan publik tak selalu bisa diselesaikan dengan satu pendekatan saja. Diperlukan solusi yang lebih menyeluruh yang tidak hanya melarang, tetapi juga memberi alternatif nyata bagi warga agar tetap bisa mencari nafkah tanpa harus mempertaruhkan nyawa.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *