"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Berita  

Mengapa BRICS Gagal Menaklukkan Dominasi Dolar, Salah Satunya Karena Tekanan yang Terlalu Besar

BRICS Terhimpit Tekanan, Dolar Tetap Dominan di Pasar Global

BRICS, singkatan dari Brazil, Rusia, India, China, dan South Africa, telah lama berusaha untuk mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat di pasar global. Namun, upaya mereka belum membuahkan hasil yang diharapkan. Salah satu faktornya adalah tekanan yang terlalu besar yang dihadapi oleh BRICS dalam mencoba menyaingi kekuatan dolar. Meskipun demikian, BRICS tidak menyerah dan terus berupaya untuk menaklukkan dominasi dolar yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, hingga saat ini, dolar tetap menjadi mata uang yang dominan di pasar global.

3. Terlalu Bergantung pada Dolar AS

Sebagian besar perdagangan internasional dilakukan dalam dolar AS, dan sebagian besar cadangan devisa negara-negara di seluruh dunia juga dikuasai oleh dolar AS.

Sehingga, jika BRICS ingin mengurangi penggunaan dolar AS dalam perdagangan internasional, mereka harus menghadapi tantangan yang sangat besar. Terlebih lagi, negara-negara BRICS masih bergantung pada dolar AS untuk perdagangan dan investasi mereka.

pojokmedan.com – JAKARTA – BRICS kemungkinan tidak akan dengan mudah bergerak setelah Donald Trump kembali ke Gedung Putih. Hal ini telah banyak dikatakan oleh para analis yang berpendapat bahwa kelompok ekonomi tersebut akan mengalami hambatan.

BRICS telah lama menjadi kelompok negara yang paling vokal dalam menyuarakan dedolarisasi selama beberapa tahun terakhir. Namun, meninggalkan dolar AS dan menciptakan mata uang baru bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Meskipun meninggalkan dolar AS terlihat menjanjikan bagi sebagian besar negara, namun ada risiko besar yang terkandung di dalamnya. Salah satunya adalah kesulitan untuk AS melepaskan dominasinya dengan mudah.

Berikut adalah 3 alasan mengapa BRICS akan gagal mengatasi dominasi dolar AS:

1. Dolar AS masih sangat kuat

Sejak tahun 1970-an, dolar yang memiliki nilai mengambang bebas terus berfungsi sebagai mata uang cadangan utama dunia, dan mendominasi perdagangan serta perbankan internasional. Surat utang pemerintah AS juga terbukti sebagai investasi yang dapat diandalkan dan memiliki risiko yang rendah. Kedalaman sistem keuangan AS dan ukuran serta keragaman pasar saham AS semakin meningkatkan permintaan terhadap dolar. Kemudahan dolar untuk ditukarkan juga menjaga biaya transaksi tetap rendah. Secara keseluruhan, hal ini telah meyakinkan banyak pembuat kebijakan di seluruh dunia bahwa dolar adalah penyimpan nilai yang dapat diandalkan.

2. Tekanan yang besar

Menteri Urusan Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, mengatakan bahwa meskipun India sedang mengejar kepentingan perdagangannya, menghindari penggunaan dolar AS bukanlah bagian dari kebijakan ekonomi India. Jaishankar menyebutkan bahwa kebijakan AS sering kali mempersulit perdagangan dengan negara-negara tertentu, namun India mencari “solusi” tanpa bermaksud untuk meninggalkan penggunaan dolar.

3. Terlalu bergantung pada dolar AS

Sebagian besar perdagangan internasional masih dilakukan dalam dolar AS, dan sebagian besar cadangan devisa negara-negara di seluruh dunia juga dikuasai oleh dolar AS. Oleh karena itu, jika BRICS ingin mengurangi penggunaan dolar AS dalam perdagangan internasional, mereka harus menghadapi tantangan yang sangat besar. Terlebih lagi, negara-negara BRICS masih sangat bergantung pada dolar AS untuk perdagangan dan investasi mereka.

Fitri Rafifah

Seorang Jurnalis yang rutin meliput dunia kecantikan, lifestyle, dan keseharian. Ia suka mencoba skincare, menonton ulasan produk, dan memotret detail kecil. Hobinya membantu meningkatkan sensitivitasnya pada tren. Motto: “Kecantikan adalah cerita yang terus berubah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *