"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Kekuasaan yang Menipu Mata

Surah Al-Balad: Kritik Spiritual terhadap Penyalahgunaan Kekuasaan

Surah Al-Balad dalam Alquran menjadi salah satu ayat yang menantang struktur mental manusia modern. Ayat ini menyentuh berbagai aspek penting, seperti kota atau negeri (balad), kekuasaan, nasib orang-orang tertindas, serta ilusi ego yang muncul ketika seseorang merasa tidak terbatas oleh apa pun. Dalam konteks ini, ayat 5 hingga 7 menjadi pusat analisis psikologis dan spiritual.

Terjemahan dari ayat tersebut adalah:

“Apakah manusia mengira tidak ada siapa pun yang berkuasa atasnya? Ia berkata: ‘Aku telah menghabiskan harta yang melimpah!’ Apakah ia mengira tidak ada yang melihat apa yang ia lakukan?”

Ayat-ayat ini bukan sekadar teguran moral, tetapi juga merupakan anotasi psikologi kekuasaan. Ketika kita membacanya melalui lensa teori modern, khususnya karya Dacher Keltner The Power Paradox, kita melihat bahwa Alquran telah menggambarkan mekanisme korupsi kekuasaan jauh sebelum ilmu psikologi sosial memformulasikannya.

Ketika Kekuasaan Membutakan

Dalam The Power Paradox, Dacher Keltner menjelaskan paradoks mendasar: “Kita memperoleh kekuasaan karena kebaikan, tapi kita kehilangan kebaikan karena kekuasaan.” Menurut risetnya, kekuasaan menurunkan sensitivitas empati, mengurangi aktivitas neural yang memproses perasaan orang lain, meningkatkan impulsivitas dan rasa kebal terhadap konsekuensi, serta menciptakan ilusi bahwa aturan moral “tidak berlaku” bagi dirinya.

Keltner menyebut empat mekanisme kerusakan kekuasaan:

  1. Ilusi kebal: Merasa tidak bisa disentuh. Ini selaras dengan ayat 5: “Apakah manusia mengira tidak ada yang mampu menguasainya?”
  2. Overconfidence: Kecanduan pamer. Ayat 6: “Ia berkata: ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak!’”
  3. Empathy breakdown: Orang berkuasa jadi tidak mampu “melihat” yang lain. Ayat 7: “Apakah ia mengira tidak ada yang melihat apa yang ia lakukan?”
  4. Disinhibisi moral: Kekuasaan membuat seseorang lebih impulsif, agresif, dan mudah melanggar etika.

Tafsir Al-Balad – Diagnosis Ilahiah atas Penyakit Kekuasaan

Para mufassir klasik seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, dan As-Sa’di memberikan tafsir yang mendalam terhadap ayat-ayat ini. Mereka menegaskan bahwa ayat 5–7 mengecam manusia yang merasa dirinya kuat, menganggap harta bisa menjamin segalanya, dan lupa bahwa ia selalu berada dalam pengawasan Allah.

Ibnu Katsir menekankan bahwa ayat 5 adalah peredam kesombongan. Al-Qurthubi membaca ayat ini sebagai celaan bagi orang yang yaqdur (berkuasa) lalu berlaku sewenang-wenang. Ayat 6 dijelaskan dalam tafsir Al Baghawi sebagai bentuk i’tiraf bil-fakhr, pengakuan yang sifatnya sombong. Ayat 7 ditafsirkan As Sa’di sebagai penyakit ghaflah — lupa bahwa Allah Maha Melihat.

Bagaimana Psikologi Modern dan Tafsir Qurani Bertemu?

Jika kita mendalami dua sudut pandang—riset empiris dan wahyu—ternyata keduanya saling menjelaskan. Pertama, Alquran memotret “ilusi kebal” lebih awal. Ayat “Apakah manusia mengira bahwa tidak ada yang berkuasa atasnya?” ini sama dengan temuan Keltner bahwa kekuasaan menanamkan invulnerability bias, membuat seseorang merasa diri lebih “besar” dari sistem hukum.

Kedua, Alquran memaparkan ‘konsumsi demonstratif’ 1400 tahun sebelum teori ekonomi modern. Ayat “Aku menghabiskan harta yang banyak!” ini persis teori Thorstein Veblen: conspicuous consumption; versi Pierre Bourdieu: economic capital sebagai symbolic capital.

Ketiga, Alquran memotret penurunan empati akibat kekuasaan. Versi Keltner: “Power diminishes empathy.” Sedangkan dalam Tafsir Al-Balad: orang berkuasa lupa melihat yang lapar, lupa melihat yatim, lupa melihat miskin yang merayap di kota.

QS Al-Balad: Obat untuk Penyakit Kekuasaan

QS Al-Balad tidak berhenti pada diagnosis. Ia memberikan obat. Pertama, jalan terjal: self-discipline. Ayat 11: “Falaqtahamal-‘aqabah” (“Mengapa ia tidak menempuh jalan terjal?”). Kekuatan sejati bukan kemewahan, melainkan mengatur ego, menahan nafsu, berkorban untuk yang lemah.

Kedua, memerdekakan manusia. Ayat 13: “Memerdekakan budak.” Dalam konteks modern membebaskan manusia dari struktur penindasan, reformasi ekonomi, pembebasan dari jerat oligarki.

Ketiga, menyantuni kaum rentan. Ayat 14–16: memberi makan saat sulit, peduli yatim, membantu miskin. Keltner menyebut ini sebagai compassion-based power, jenis kekuasaan yang bertahan.

Kesimpulan: Ketika Wahyu dan Ilmu Bersalaman

QS Al-Balad memberi kita bahasa spiritual filosofis bahwa: manusia mudah tertipu kuasa, lupa bahwa ia diawasi, sombong dengan harta, dan melampaui batas moral. Keltner memberi kita data neuroscientific bahwa kekuasaan mengurangi empati, meningkatkan ilusi kebal, membuat manusia pamer, menurunkan kontrol diri.

Keduanya menunjuk ke diagnosis yang sama: kekuasaan itu rapuh, dan lebih rapuh lagi jiwa yang memegangnya. Tetapi Alquran lebih jauh: Ia bukan hanya mendiagnosis, tetapi memandu manusia menuju “jalan terjal” — jalan pemerdekaan, keadilan, dan ketulusan sosial.

Jika Keltner mengatakan bahwa kekuasaan sejati dibangun oleh empati, maka Al-Balad mengatakan bahwa jalan ke surga dibangun oleh keberpihakan pada manusia yang tertindas. Substansinya adalah kekuasaan tanpa jiwa adalah kehancuran; kekuasaan dengan jiwa adalah jalan terjal menuju kemuliaan.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *