pojokmedan.com – JAKARTA – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) memperkirakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia dapat beroperasi hingga 80 tahun dengan emisi gas rumah kaca dan karbon dioksida yang minim. Hal ini diungkapkan oleh Pengawas Radiasi Ahli Madya Bapeten, Nur Syamsi Syam, sebagai tanggapan atas rencana pemerintah untuk membangun proyek PLTN.
“Tadi disampaikan bahwa PLTN bisa beroperasi cukup lama, bahkan sampai 80 tahun untuk satu PLTN,” ujar Nur Syamsi Syam dalam Market Review IDX Channel, Jumat (13/12/2024).
Ia menegaskan bahwa energi nuklir merupakan salah satu energi dengan emisi gas rumah kaca dan karbon dioksida yang sangat kecil, bahkan hampir tidak menghasilkan emisi selama operasionalnya.
Oleh karena itu, pembangunan proyek PLTN sangat penting, tidak hanya untuk memasok listrik dalam jumlah besar, tetapi juga untuk mempercepat implementasi net zero emission (NZE) atau emisi nol bersih di Indonesia di masa depan.
“Kami percaya bahwa PLTN adalah salah satu alternatif yang andal, sangat andal,” paparnya.
Dalam rencana pengerjaannya, pemerintah melalui PT PLN (Persero) akan bekerja sama dengan beberapa investor asing untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir dengan mempelajari teknologi reaktor modular nuklir skala kecil atau nuclear small modular reactor.
Menanggapi hal tersebut, Nur Syamsi Syam menjelaskan bahwa small modular reactor memiliki kapasitas daya sekitar 1.400 megawatt (MW) per unit PLTN.
“Sedangkan small ini adalah sekitar 300 MW elektrik, dan modularnya berarti dapat dibangun di fasilitas yang membuat PLTN tersebut, dan kemudian dapat diangkut ke lokasi di mana akan dioperasikan,” jelasnya.
“Jika PLTN yang besar saat ini dibangun di lokasi yang telah ditentukan, maka modular ini dapat dibangun di luar negeri, misalnya di Amerika, dan nantinya dapat dipasang di Indonesia setelah selesai dibuat,” tambahnya.





