Pada 9 Juli 2014, Jokowi resmi mendapat dukungan dari PDIP untuk maju sebagai calon presiden. Jokowi memenangkan pemilu presiden tersebut dengan perolehan sekitar 53,15% suara, mengalahkan Prabowo Subianto.
pojokmedan.com – JAKARTA – Jasa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam karier politik Jokowi dan keluarganya patut untuk diketahui. Dengan dukungan dari PDIP, Jokowi berhasil meraih jabatan sebagai Wali Kota Solo hingga akhirnya menjadi Presiden ke-7 RI.
Hubungan antara PDIP dan Jokowi beserta keluarga menjadi sorotan publik setelah partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri secara resmi memecat Jokowi dari keanggotaan partai pada Senin, 16 Desember 2024. Tidak hanya Jokowi, anak dan menantunya, Gibran Rakabuming Raka yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres) RI dan Bobby Nasution yang terpilih sebagai Gubernur Sumatera Utara juga mendapat sanksi yang sama.
SK pemecatan Jokowi tercatat dengan nomor 1649/KPTS/DPP/XII/2024. Sementara SK pemecatan Gibran tercatat dengan nomor 1650/KPTS/DPP/XII/2024. Sedangkan pemecatan Bobby tercatat dengan nomor 1651/KPTS/XII/2024. Jokowi dipecat dari PDIP karena dianggap telah menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengintervensi Mahkamah Konstitusi, sementara Bobby Nasution dan Gibran Rakabuming Raka dianggap melanggar kode etik partai.
“Mulai saat ini, DPP-PDI Perjuangan tidak memiliki hubungan dan tidak bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan oleh saudara Joko Widodo,” ujar Komarudin dalam keterangan yang disampaikan melalui video, Senin (16/12/2024).
Pemecatan Jokowi dan keluarganya menarik perhatian publik. Pasalnya, PDIP merupakan kendaraan utama yang digunakan Jokowi dan keluarga ketika memasuki dunia politik. Dimulai dari kala Jokowi mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo pada tahun 2005 hingga berhasil meraih jabatan sebagai Presiden ke-7 RI.
Berikut ini adalah 6 dukungan yang diberikan oleh PDIP dalam karier politik Jokowi dan keluarga.
1. Mengusung Jokowi Menjadi Wali Kota Solo
Pada Pilkada Kota Solo tahun 2005, Jokowi diusung oleh PDIP dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk maju sebagai calon Wali Kota Surakarta. Ia berhasil memenangkan pemilihan tersebut dengan perolehan suara sebesar 36,62%.
Pada saat itu, Jokowi dikenal dengan pendekatan blusukan yang dilakukannya untuk turun langsung ke masyarakat dan mendengarkan keluhan mereka secara langsung.
2. Kembali Mengusung Jokowi Menjadi Wali Kota Solo
PDIP kembali mengusung Jokowi dalam Pilkada Solo 2010. Jokowi yang berpasangan dengan kader tulen PDIP, FX Hadi Rudyatmo, berhadapan dengan politikus Partai Demokrat Eddy Wirabhumi yang berpasangan dengan Supradi Kertamenawi.
Sebagai petahana, Jokowi lebih dikenal dan dekat dengan masyarakat. Tidak heran jika Jokowi kembali terpilih sebagai Wali Kota Surakarta dengan meraih suara sebesar 90,09%. Jokowi hanya kalah di satu dari 932 tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh Kota Solo.
3. Mengusung Jokowi Menjadi Gubernur DKI Jakarta
Pada tahun 2012, Jokowi yang namanya tengah naik daun diminta oleh Jusuf Kalla (JK) untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta dalam Pilgub DKI tahun 2012. Karena merupakan kader PDI Perjuangan, maka Jusuf Kalla meminta dukungan dari Megawati Soekarnoputri, yang awalnya masih ragu untuk memberikan izin.
Hasil putaran pertama pemilihan gubernur yang diumumkan oleh KPU menunjukkan bahwa Jokowi unggul dengan perolehan 42,6% suara, mengalahkan Fauzi Bowo yang berada di posisi kedua dengan perolehan 34,05% suara. Pada tanggal 29 September 2012, KPUD DKI Jakarta menetapkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang baru untuk masa bakti 2012-2017.
4. Mengusung Jokowi Menjadi Calon Presiden
Setelah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, popularitas Jokowi semakin meningkat berkat rekam jejaknya yang baik dan pendekatannya yang sederhana dan realistis. Hal ini membuat Jokowi mendominasi survei-survei calon presiden dan menggeser kandidat lainnya, sehingga muncul wacana untuk menjadikannya sebagai calon presiden.
Namun, wacana tersebut terus bergulir selama berbulan-bulan karena pencalonan Jokowi di PDIP harus mendapat persetujuan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Hingga pada tanggal 14 Maret 2014, Megawati akhirnya menulis surat mandat yang ditujukan langsung kepada Jokowi untuk menjadi calon presiden, dan Jokowi menyatakan bahwa ia bersedia dan siap untuk menjalankan mandat tersebut dan maju sebagai calon Presiden Republik Indonesia dalam pemilu 2014.
Pada tanggal 9 Juli 2014, Jokowi secara resmi mendapatkan dukungan dari PDIP untuk maju sebagai calon presiden. Jokowi berhasil memenangkan pemilihan presiden dengan perolehan suara sekitar 53,15%, mengalahkan Prabowo Subianto.











