
Pada peringatan Hari Ayah setiap 12 November, kita sering kali menganggap ayah sebagai sosok yang tangguh dan bertanggung jawab dalam mencari nafkah. Namun, ada aspek lain yang tidak kalah penting: peran ayah dalam menjaga kesehatan anak, terutama dalam mencegah stunting—kondisi di mana anak gagal tumbuh secara optimal karena kekurangan gizi kronis.
Stunting bukan hanya tentang tinggi badan, tetapi juga berdampak pada kecerdasan dan masa depan anak. Sayangnya, selama ini perhatian lebih tertuju pada ibu, padahal ayah memiliki peran besar dalam pencegahan stunting. Berdasarkan penelitian global, keterlibatan ayah bisa menjadi kunci dalam pencegahan stunting, meskipun di Indonesia, kebijakan masih perlu meningkatkan partisipasi ayah dalam isu ini.
Progress Penurunan Stunting
Stunting telah menjadi isu nasional yang mendesak di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting pada anak di bawah lima tahun turun menjadi 19,8% pada 2024, meskipun target 14% belum tercapai sepenuhnya. Kondisi ini memengaruhi pertumbuhan fisik anak sekaligus perkembangan kognitif, yang akhirnya berdampak pada produktivitas bangsa.
World Health Organization (WHO) mendefinisikan stunting sebagai gangguan pertumbuhan kronis yang disebabkan oleh faktor multifaset, termasuk nutrisi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi yang tidak memadai selama 1.000 hari pertama kehidupan. Di Indonesia, stunting sering dikaitkan dengan kemiskinan, akses sanitasi yang buruk, dan pola pengasuhan yang tidak optimal. Namun, satu aspek yang sering terlupakan adalah peran ayah dalam dinamika keluarga ini.
Peran Ayah
Mari kita mulai dari akar masalahnya. Stunting sering dipicu oleh faktor keluarga seperti akses makanan bergizi yang kurang, pola makan yang buruk, dan paparan penyakit. Di sini, peran ayah sering terabaikan, padahal justru bisa menjadi penyebab tidak langsung. Penelitian dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa ketika ayah kurang terlibat dalam pengasuhan, keluarga cenderung kurang sadar akan pentingnya gizi seimbang. Misalnya, ayah yang jarang ikut memantau pola makan anak atau tidak mendukung ibu dalam menyusui, bisa membuat risiko stunting meningkat.
Studi di Bangladesh juga mengungkap bahwa jarak kelahiran anak yang terlalu dekat—sering kali karena kurangnya perencanaan keluarga bersama ayah—memperburuk kondisi ini, karena ibu belum pulih sepenuhnya dan sumber daya keluarga terpecah. Singkatnya, ketidakhadiran ayah dalam urusan sehari-hari bisa memperlemah fondasi kesehatan anak.
Lebih lanjut, Bustami (2025) menegaskan hubungan antara peran ayah dan pencegahan stunting. Ayah yang berperan sebagai pengasuh, pendidik, pengawas, pembentuk disiplin, pelindung, dan pendukung secara signifikan mengurangi risiko stunting. Dalam konteks Indonesia, di mana norma budaya sering menempatkan ayah sebagai penyedia utama, kurangnya keterlibatan ini memperburuk masalah. Sebuah studi literatur menunjukkan bahwa ayah yang tidak aktif dalam pengasuhan meningkatkan kemungkinan anak mengalami malnutrisi, karena keputusan nutrisi sering jatuh pada ibu saja.
Faktor lain seperti pendidikan ayah yang rendah atau pekerjaan yang menuntut waktu panjang juga berkontribusi, membuat ayah sulit berpartisipasi dalam rutinitas harian anak. Sebaliknya, ayah yang aktif justru menjadi pelindung utama. Penelitian yang sama menekankan bahwa ayah yang terlibat dalam pengasuhan—seperti memastikan anak makan makanan bergizi, memberikan dukungan emosional pada ibu, dan mengelola keuangan keluarga untuk prioritas kesehatan—bisa menurunkan risiko stunting secara signifikan.
Inovasi Puskesmas Meningkatkan Peran Ayah
Di tingkat lokal, sudah ada inovasi menarik dari puskesmas sebagai garda terdepan layanan kesehatan. Di Puskesmas Omben, Jawa Timur, program “Bapakku Hebat” berhasil melibatkan ayah melalui posyandu keluarga, di mana ayah diajak ikut penyuluhan gizi, pemantauan kesehatan anak, dan kegiatan bersama. Hasilnya? Risiko stunting turun 10% dalam setahun, berkat kolaborasi dengan pemerintah desa dan komunitas petani.
Sementara itu, di Universitas Muhammadiyah Palembang, program pengabdian masyarakat fokus pada edukasi ayah tentang nutrisi, yang berhasil meningkatkan partisipasi ayah dalam pengasuhan. Inovasi ini sederhana tapi efektif: menggunakan jaringan lokal untuk mengubah norma budaya.
Inovasi lain datang dari program ZeroStunting oleh Edu Farmers Foundation, yang menyediakan telur subsidi untuk anak stunting sambil melibatkan ayah dalam pemantauan nutrisi. Program ini bertujuan menurunkan stunting 20% dalam enam bulan dengan memberdayakan orang tua, termasuk ayah.
Di tingkat nasional, The Power of Nutrition mendorong ayah aktif dalam pengembangan anak untuk mengatasi malnutrisi, dengan bukti bahwa anak dengan perawatan dari ayah memiliki risiko stunting 1,7 kali lebih rendah.
Swedia-Negara Model Peran Ayah

Bandingkan dengan Swedia, negara yang sudah maju dalam hal ini. Di sana, kebijakan cuti ayah (paternity leave) selama berbulan-bulan memungkinkan ayah hadir penuh waktu sejak bayi lahir, yang terbukti meningkatkan ikatan emosional dan keterlibatan ayah dalam perawatan anak. Penelitian dari jurnal kesehatan pria menunjukkan bahwa ayah Swedia yang ambil cuti lebih aktif dalam memberi makan dan memantau kesehatan anak, sehingga tingkat stunting rendah.
Kebijakan ini juga mendukung peningkatan menyusui dan mengurangi interval kelahiran pendek, yang terkait dengan nutrisi anak. Studi dari Sukmawati menambahkan bahwa cuti orang tua di Swedia memiliki dampak positif pada kesehatan anak, termasuk pencegahan malnutrisi. Di Indonesia, kita belum punya kebijakan serupa secara nasional, meski cuti ayah sudah ada tapi terbatas hanya beberapa hari.
Sehingga ironi memang program penanganan stunting di Indonesia masih kurang melibatkan ayah secara eksplisit. Evaluasi kebijakan nasional tahun 2024 dari DPR RI menunjukkan penurunan stunting ke 19,8%, tapi tidak menyebut peran ayah sebagai faktor kunci.
Padahal, dalam rumah tangga Indonesia, urusan makanan masih sering dianggap tanggung jawab ibu semata—seperti yang disuarakan dalam aksi “Bunyikan Alat Masak” oleh para perempuan yang protes kegagalan program makan bergizi. Ini mencerminkan norma budaya yang perlu diubah: ayah bukan hanya penyedia, tapi juga mitra pengasuhan.
Evaluasi lebih lanjut dari UNICEF menunjukkan bahwa strategi nasional percepatan pencegahan stunting Indonesia fokus pada intervensi spesifik seperti pemberian makanan tambahan, tapi kurang menekankan keterlibatan ayah. Sebuah studi determinan stunting di Indonesia menemukan bahwa faktor orang tua, termasuk pendidikan ayah, berperan penting, tapi kebijakan belum mengintegrasikannya.
Untuk itu, sudah saatnya program nasional seperti Percepatan Penurunan Stunting mengintegrasikan peran ayah. Mulai dari edukasi di posyandu, cuti ayah yang lebih fleksibel, hingga kampanye yang menargetkan ayah sebagai teladan. Inspirasi dari Swedia bisa diadaptasi, seperti memperpanjang cuti ayah untuk meningkatkan ikatan keluarga.
Di Indonesia, inovasi seperti program CARE Indonesia yang holistik, melibatkan ayah dalam screening nutrisi dan edukasi, bisa diperluas. Selain itu, kolaborasi multisectoral seperti yang diusulkan KN E-Social, dengan inovasi berbasis teknologi seperti aplikasi pemantauan stunting yang melibatkan ayah, bisa menjadi solusi.
Penting juga melibatkan masyarakat sipil dan kesehatan kader, yang berperan dalam deteksi dini stunting sambil mendorong keterlibatan ayah. Edukasi berbasis budaya, seperti menggunakan kearifan lokal di pedesaan, bisa mengubah norma. Akhirnya, evaluasi kebijakan harus menyertakan indikator keterlibatan ayah untuk memastikan keberlanjutan.
Hari Ayah ini bisa jadi momentum: ayah, mari ambil bagian lebih besar. Karena mencegah stunting bukan tugas satu orang, tapi tanggung jawab bersama untuk generasi yang lebih sehat dan cerdas. Dengan mengadopsi prinsip keadilan dan keterlibatan seperti yang diajarkan para ahli, Indonesia bisa mencapai target stunting lebih cepat.











