Duet Maut Hilirisasi dan Industrialisasi
Hilirisasi dan industrialisasi menjadi dua faktor penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang kerja. Kedua aspek ini dianggap sebagai kunci utama untuk mewujudkan transformasi ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengangkat hilirisasi dan industrialisasi sebagai salah satu dari Asta Cita, yaitu lima program prioritas pemerintah. Namun, bagaimana perkembangan terkini dari dua program tersebut?
Komitmen Pemerintah untuk Mempercepat Hilirisasi
Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam mempercepat program hilirisasi. Dalam rapat terbatas dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih pada Kamis (6/11/2025), Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya program hilirisasi di berbagai sektor strategis seperti perikanan, pertanian, energi, dan sumber daya mineral.
Pemerintah juga menargetkan penyelesaian prastudi kelayakan 18 proyek hilirisasi dengan nilai investasi hampir mencapai Rp600 triliun pada tahun ini. DataIndonesia, tim riset Bisnis Indonesia Group, mencatat bahwa potensi nilai investasi penghiliran mineral dan batu bara (minerba) menjadi yang tertinggi.
Potensi Investasi di Sektor Minerba dan Energi
Menurut data Editor DataIndonesia Gita Arwana Cakti, sektor minerba mencapai potensi investasi sebesar Rp321,8 triliun, sedangkan ketahanan energi sebesar Rp232 triliun. Diikuti oleh transisi energi senilai Rp40 triliun. Sementara itu, sektor kelautan dan perikanan memiliki potensi investasi sebesar Rp17,22 triliun, dan pertanian hanya sebesar Rp7,11 triliun meskipun kontribusi terhadap PDB lebih besar.
Dari sisi investasi, sektor logam menjadi penyerap terbesar dengan nilai investasi Rp62,02 triliun pada kuartal III/2025. Diikuti oleh sektor pertambangan sebesar Rp55,87 triliun. Lebih rinci lagi, realisasi investasi hilirisasi paling besar diserap oleh komoditas nikel senilai Rp42 triliun. Pemerintah sebelumnya berharap hilirisasi nikel bisa mendukung pengembangan produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Sayangnya, proses tersebut belum tersambung karena mobil listrik yang dipasarkan lebih banyak menggunakan baterai jenis lithium ferro phosphate (LFP).
Pengaruh Terhadap Lapangan Kerja
Investasi besar dalam proyek hilirisasi tidak sepenuhnya berdampak optimal terhadap penyerapan tenaga kerja. Hingga kuartal III/2025, penyerapan tenaga kerja mencapai 696.478 orang, naik dari 650.172 orang pada periode yang sama pada 2024. Namun, jika dilihat lebih dekat, industri makanan masih menjadi yang terbesar dalam jumlah pekerja manufaktur dengan persentase 4%, diikuti oleh industri tekstil sebesar 2%.
Berbeda dengan sektor industri logam yang hanya berkontribusi masing-masing 0,43% dan 0,16%. Industri batu bara dan pengilangan minyak bumi juga tidak lebih baik, dengan proporsi tenaga kerja manufaktur sebesar 0,03%. Hal ini menunjukkan bahwa hilirisasi bersifat padat modal tetapi minim dampak terhadap industri padat karya lainnya.
Tantangan dalam Mewujudkan Industrialisasi
Industrialisasi merupakan proses transformasi ekonomi dari sektor agraris ke sektor manufaktur yang menghasilkan barang produksi massal. Oleh karena itu, penghiliran menjadi langkah awal menciptakan industrialisasi. Namun, data menunjukkan bahwa hilirisasi di Indonesia belum mampu mendorong geliat industri sebagaimana harapan.
Kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada kuartal II tahun 2023–2025 masih datang dari industri pengolahan, yang menyumbang 18,67%. Angka ini menurun dari tren kontribusi manufaktur terhadap PDB pada awal 2000-an yang bisa mencapai 30%.
Indikator Manufaktur yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan laporan S&P Global Market, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia terus mengalami fluktuasi selama setahun terakhir. Pada Oktober 2025, PMI manufaktur Indonesia tercatat 51,2 poin. Sebelumnya, sempat mengalami kontraksi dari 51,5 poin pada Agustus 2025 menjadi 50,4 poin di September 2025.
Meski terkadang naik ke level ekspansif, PMI manufaktur Indonesia tetap rendah dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Thailand mencatat PMI sebesar 56,6 poin dan Vietnam 54,5 poin pada Oktober 2025.
Kesimpulan
Berdasarkan data-data tersebut, pemerintah perlu meningkatkan upaya agar hilirisasi dapat mendongkrak industri. Selain itu, kedua aspek ini sangat penting untuk membuka lapangan kerja yang luas, sehingga Indonesia Emas bisa diwujudkan. Jika tidak, justru terjadi deindustrialisasi dini!
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











