Masalah yang Menghambat Harga Gambir di Sumatra Barat
Seorang pelaku usaha dan eksportir asal Payakumbuh, Sumatra Barat, Sepdi Tito mengungkapkan beberapa masalah yang menjadi penyebab anjloknya harga komoditas gambir di Ranah Minang. Ia menilai, para petani sering mengeluhkan kondisi pasar yang tidak stabil, namun kenyataannya lebih kompleks dari yang diperkirakan.
Menurut Tito, hampir 90% pasar gambir di Sumatera Barat diekspor ke India. Produk tersebut digunakan untuk membuat gutkha atau pan masala, yang merupakan produk konsumsi masyarakat India. Bahkan, permintaan akan katekin (catechin) untuk produk-produk ini tidak mengalami penurunan. Justru, permintaan tetap stabil di angka 1.200 hingga 1.500 ton per bulan.
Namun, meskipun permintaan tinggi, ekspor gambir mentah ke India justru mengalami penurunan baik dalam hal harga maupun kuantitas. Menurut Tito, alasan utamanya adalah karena sebagian kebutuhan katekin India kini dipenuhi oleh pabrik-pabrik pemurnian katekin yang berdiri di Indonesia, terutama di Padang dan Kabupaten Lima Puluh Kota.
“Dulunya, pabrik-pabrik di India membeli gambir mentah dalam jumlah besar dari Sumbar. Kini, mereka membeli gambir, memurnikannya di Indonesia, lalu mengekspor katekin 99% langsung ke India,” ujar Tito saat berbicara di hadapan Menteri Perdagangan RI Budi Santoso di Padang, Selasa (18/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa akibat adanya pabrik katekin di Indonesia, pabrik-pabrik di India kehilangan pangsa pasarnya. Hal ini menyebabkan permintaan gambir mentah dari pabrik-pabrik di India mengalami penurunan signifikan.
Masalah Regulasi dan Pemahaman Pasar
Tito juga menyampaikan bahwa salah satu tantangan besar yang dihadapi pelaku usaha adalah belum adanya aturan yang jelas mengenai pabrik katekin di Sumbar. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar telah berjuang selama tiga tahun untuk membantu pelaku usaha, namun masih ada kendala.
Salah satu isu penting adalah belum adanya regulasi yang mengklasifikasikan katekin sebagai barang jadi, bukan barang mentah. Saat ini, dokumen ekspor katekin masih menggunakan HS Code yang sama dengan gambir mentah. Padahal, produk yang dikirim ke India adalah katekin, bukan gambir mentah.
“Impaknya, pabrik di India kesulitan bersaing dengan pabrik di Indonesia,” kata Tito.
Potensi Ekspor yang Masih Terbuka
Meski banyak tantangan, Tito melihat bahwa berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengembalikan kejayaan gambir di Sumbar. Namun, hasilnya masih kurang memuaskan. Meski begitu, masyarakat Minang yang memiliki semangat pantang menyerah terus berupaya agar kondisi harga bisa diperbaiki.
Menurut Tito, penting bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan yang mendukung pengembangan nilai gambir. Ia menghitung bahwa jika 25 ton katekin diproduksi di Indonesia, harganya bisa lebih murah hingga Rp280 juta dibandingkan memproduksinya di India.
“Ini karena yang dikirim dari Indonesia adalah katekin murni, sementara jika diekspor dalam bentuk gambir mentah, kandungan katekin hanya 50%. Sisanya 50% tidak dibutuhkan, tapi tetap kena ongkos pengapalan dan bea masuk di India,” jelasnya.
Visi Masa Depan Gambir Sumbar
Tito berharap katekin gambir Sumbar bisa terkenal seperti ginseng Korea. Produk ini bisa menjadi ikon kesehatan dan kebanggaan bangsa, bukan hanya diekspor ke India untuk gutkha, tetapi juga ke Eropa, Timur Tengah, dan negara-negara lainnya.
“Jika Korea bisa memasarkan ginseng ke seluruh dunia, mengapa Sumatra Barat tidak bisa memasarkan katekin gambir? Saya bahkan membayangkan suatu hari nanti artis Korea Lisa Blackpink akan berkata, ‘Saya sekarang pakai skincare katekin gambir dari Indonesia,’” ujar Tito.
Ia berharap pemerintah pusat, daerah, serta dunia usaha lebih serius dalam mengembangkan hilirisasi gambir. Dengan langkah-langkah strategis, potensi ekonomi dari komoditas ini bisa dimaksimalkan.











