JAKARTA — Sejumlah pejabat di Federal Reserve (The Fed) berpendapat bahwa suku bunga acuan sebaiknya tetap stabil hingga akhir 2025. Informasi ini terungkap melalui risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang digelar pada 28—29 Oktober 2025. Dokumen tersebut dirilis di Washington pada Rabu (19/1/2025) waktu setempat.
Dalam risalah tersebut, terdapat indikasi bahwa beberapa pembuat kebijakan menolak untuk melakukan pemangkasan suku bunga acuan dalam pertemuan tersebut. Menurut kutipan dari dokumen tersebut, banyak peserta menyarankan bahwa berdasarkan proyeksi ekonomi mereka, rentang target suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah sepanjang sisa tahun ini.
Namun, beberapa peserta menyatakan bahwa pemangkasan lanjutan pada Desember 2025 masih mungkin dilakukan jika kondisi ekonomi berkembang sesuai dengan perkiraan mereka sebelum pertemuan berikutnya. Dalam istilah teknis yang digunakan oleh The Fed, kata “many” berada di bawah “most/majority”. Artinya, kelompok yang menganggap pemangkasan suku bunga Desember 2025 tidak perlu masih berada dalam posisi minoritas saat pertemuan Oktober 2025 berlangsung.
Risalah tersebut juga menunjukkan adanya ketidakpastian besar mengenai peluang penurunan suku bunga bulan depan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pandangan internal The Fed terkait risiko terbesar bagi ekonomi AS, yaitu apakah inflasi atau pengangguran yang lebih menjadi ancaman utama.
Mayoritas panel pemungutan suara menyetujui pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk kedua kalinya secara beruntun. Meski demikian, dua pejabat menyampaikan perbedaan pendapat (dissenting vote). Gubernur Stephen Miran, yang baru ditunjuk oleh Presiden Donald Trump, memilih untuk melakukan pemangkasan setengah poin. Sementara itu, Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid mendukung penahanan suku bunga.
Pada konferensi pers usai pertemuan, Ketua The Fed Jerome Powell mengejutkan pasar dengan menegaskan bahwa pemangkasan Desember bukanlah sesuatu yang sudah pasti. Tiga minggu setelah pertemuan tersebut, pejabat Fed yang lebih khawatir terhadap inflasi dan kurang mendukung penurunan suku bunga pada Desember mulai mendominasi percakapan publik mengenai arah kebijakan moneter.
Ekspektasi investor terhadap pemangkasan suku bunga pada Desember 2025 kini turun menjadi sekitar 30%, berdasarkan harga kontrak federal funds futures. Dalam pembahasan mengenai risiko stabilitas keuangan, sejumlah pejabat menyoroti penilaian aset yang terlalu tinggi di pasar keuangan. Beberapa di antaranya memperingatkan potensi penurunan tajam harga saham, terutama jika terjadi perubahan persepsi secara mendadak terhadap prospek teknologi berbasis artificial intelligence (AI).
Risalah juga menunjukkan bahwa “hampir semua peserta” menilai tepat untuk menghentikan pengurangan neraca (balance sheet runoff) The Fed pada 1 Desember 2025, atau setidaknya mendukung keputusan tersebut. The Fed telah mengurangi neracanya sejak pertengahan 2022 dan pada pertemuan Oktober sepakat untuk mengakhiri proses itu mulai bulan depan.
Di sisi lain, sebagian pelaku pasar khawatir The Fed terlalu lama menunggu untuk menghentikan runoff, sehingga tekanan likuiditas berpotensi memicu volatilitas pada suku bunga pendanaan overnight.











