"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Wali Kota Cak Eri Siapkan Strategi Atasi Kekurangan Guru di Surabaya dengan Smartboard dan Kolaborasi Swasta

Surabaya Menghadapi Kekurangan Guru, Pemkot Siapkan Strategi Jangka Panjang

Surabaya kini menghadapi tantangan serius dalam hal kebutuhan guru. Berdasarkan laporan terbaru, sekitar 800 guru SMP dan sisanya guru SD di Kota Pahlawan mengalami kekurangan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas pendidikan yang diberikan kepada siswa-siswi di berbagai tingkat sekolah. Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah merancang beberapa strategi yang akan dijalankan dalam waktu dekat.

Usulan Formasi Guru Baru

Salah satu langkah utama yang dilakukan oleh Pemkot adalah pengajuan formasi guru baru kepada pemerintah pusat. Namun, proses ini tidak dapat dilakukan secara instan karena pemerintah pusat memiliki batasan alokasi anggaran dan jumlah formasi yang bisa diterima. Oleh karena itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan bahwa pemkot akan mengikuti seluruh mekanisme yang ditetapkan pemerintah pusat, termasuk pengangkatan melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Yang terkait guru negeri, kita sudah sampaikan. Tapi tidak bisa PNS semua. Ada jumlahnya berapa kita usulkan, dan turunnya berapa, kan begitu,” ujar mantan ASN Pemkot Surabaya ini.

Pemanfaatan Teknologi Smart Board

Selain mengusulkan formasi baru, Pemkot juga menyiapkan penguatan teknologi pembelajaran berbasis smart board di sekolah-sekolah. Teknologi ini memungkinkan satu guru memberikan penjelasan secara serentak ke beberapa kelas. Dengan adanya smart board, satu guru bisa menerangkan untuk semua kelas, sehingga efisiensi dalam pengajaran meningkat.

“Guru itu satu kelas cuma 30 murid. Maka di Surabaya ini menggunakan smart board. Dengan smart board, satu guru bisa menerangkan untuk semua kelas,” kata Eri yang juga Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) Jawa Timur ini.

Teknologi tersebut menjadi salah satu strategi untuk menjaga kualitas pembelajaran di tengah keterbatasan jumlah guru. Pemkot telah lebih dulu menerapkan sistem ini sebelum pemerintah pusat meluncurkan program serupa.

Kolaborasi Negeri dan Swasta

Menanggapi pernyataan DPRD Surabaya mengenai kekurangan guru, Eri menyatakan bahwa pemerintah kota akan menghitung ulang kebutuhan riil guru. Ini akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

“Kalau yang negeri itu tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, harus gabung (berkoordinasi) dengan swasta. Pendidikan itu negeri dan swasta harus berimbang. Maka kita akan hitung jangan hanya lihat guru negeri saja, tapi bagaimana mereka saling bergerak bersama,” ujar Eri.

Untuk menghitung kebutuhan guru secara akurat, Pemkot akan melakukan evaluasi terpadu bersama Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Negeri dan Swasta dari jenjang SD hingga SMP. Proses ini juga melibatkan organisasi profesi seperti PGRI.

Evaluasi Terpadu Bersama MKKS dan PGRI

“Nanti kita hitung jumlah sekolah, jumlah murid, dan jumlah guru. Dari situ baru kelihatan berapa kekurangannya,” kata Eri.

Ia menilai, selama ini perhitungan kebutuhan guru sering terkotak antara negeri dan swasta. Padahal, banyak guru yang berpotensi mengajar lebih dari satu sekolah.

“Kadang sekolah A kekurangan guru Matematika, tapi guru di sekolah lain setelah mengajar beberapa jam justru menganggur. Harusnya dia connect ke sekolah lainnya,” ujarnya.

Karena itu, Eri menyampaikan bahwa Pemkot akan “merobohkan batas” antar sekolah agar sistem penugasan guru bisa lebih fleksibel.

Target Pemkot Surabaya

Pemkot menargetkan hasil pemutakhiran data guru dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan terkait penempatan, kolaborasi, dan pengusulan formasi tambahan ke pemerintah pusat.

Saat ini, Surabaya berpotensi mengalami kekurangan guru. Menurut Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Akmarawita Kadir, jumlah kekurangan guru untuk jenjang SMP mencapai 800 orang, selebihnya adalah kekurangan guru untuk jenjang SD.

“Bisa guru mata pelajaran atau guru kelas. Jika kondisi tidak segera dicarikan solusi bisa berdampak pada proses belajar mengajar pendidikan dasar di Surabaya,” kata dr Akmarawita, Senin (16/11/2025).


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *