"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Guru yang Mengajar di Pinggiran Jember dan Mendirikan 5 Sekolah

Guru yang Menjadi Pilar Pendidikan di Jember



Di sudut Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang jauh dari pusat kota, sosok Nur Fadli dikenal bukan hanya sebagai guru SDN Bintoro 05, tetapi juga sebagai contoh nyata bahwa pendidikan Indonesia bisa berdiri di atas pundak orang-orang yang bekerja dalam senyap. Dengan dedikasi dan semangat yang tak pernah padam, ia telah menjadi penggerak bagi banyak anak-anak di wilayah terpencil.

Fadli memulai kariernya sebagai guru sejak tahun 2001, dimulai sebagai honorer muda dengan semangat yang lebih besar daripada fasilitas yang tersedia. Ia tidak pernah memilih untuk mengajar di kota atau sekolah-sekolah favorit. Justru, ia memilih wilayah-wilayah paling pinggir di Jember seperti desa di Kecamatan Panti, Sukorambi, Patrang, hingga Arjasa. Di lokasi-lokasi tersebut, ia melihat keadaan yang menyedihkan, yaitu banyak anak yang tidak bersekolah karena tidak ada sekolah dekat tempat tinggal mereka.

Dari kegelisahan itu, Fadli membuat keputusan yang mengubah hidupnya dan hidup banyak anak di Jember. Pada usia yang masih sangat muda, ia membangun sekolah pertamanya dari gedek bambu, berdiri seadanya di antara rumah penduduk dan pepohonan kampung. Bangunan itu bukan proyek pemerintah, bukan pula hasil proposal, melainkan hasil keberanian seorang guru honorer yang menggunakan uang pribadinya dibantu swadaya masyarakat dan sejumlah rekannya.

Satu sekolah berdiri, lalu menyusul sekolah lain. Hingga kini setidaknya lima sekolah swasta berdiri karena inisiatifnya. Selain itu, ada puluhan sekolah pinggiran yang banyak ia bantu. Guru-guru pertama yang ia rekrut bukan tenaga profesional, melainkan mahasiswa pecinta alam semester awal yang ia rangkul untuk ikut mengajar. Kadang mereka dibayar, sering kali tidak.

“Kalau ada rezeki saya bayar,” ujarnya. Bagi Fadli, yang terpenting adalah sekolahnya berjalan, para siswa bisa belajar. Perjalanan hidupnya sendiri berliku. Saat mulai mengajar pada 2001, ia juga bekerja sebagai pedagang asongan untuk menyambung hidup. Baru pada 2004 ia menjadi kontraktor, peternak, dan pada 2010 mulai berpraktik sebagai pengacara. Penghasilan itulah selalu ia sisihkan untuk membantu keberlangsungan pendidikan di wilayah terpinggir.

Namun dari semua pekerjaan itu, hanya guru yang tidak pernah ia tinggalkan. “Menjadi guru itu panggilan nurani,” katanya. Menurutnya, profesi menjadi guru adalah yang utama, sementara pekerjaan lainnya hanya sampingan. Honor kecil tidak pernah menjadi alasan baginya, sebab ia percaya rezeki bisa dicari dari tempat lain. “Tetapi mendampingi anak-anak pinggiran yang tak punya pilihan tak mungkin dilakukan siapa saja,” sambung pria 45 tahun itu.

Keyakinan itu pula yang membuatnya memilih mengajar di SDN Bintoro 05 Kecamatan Patrang, sekolah yang berada di daerah perbukitan dengan akses cukup sulit. Setiap pagi ia menempuh perjalanan satu jam dari rumahnya di Desa Sukorambi, Kecamatan Sukorambi melewati jalur tanah, jurang, sungai, dan tikungan yang licin ketika hujan. Namun saat ini, sebagian kecil jalan sudah beraspal.

Fadli tak pernah bosan mengajar dengan segala tantangannya. Di sekolah pinggiran, katanya, ada anak-anak yang paling membutuhkan. Ia ingin mereka tahu bahwa pendidikan penting dan masa depan yang baik tidak hanya milik mereka yang bersekolah di kota. Fadli mengaku bahagia melihat murid-murid yang dulu dididiknya tumbuh dewasa, beberapa di antaranya kini juga menjadi guru di tempat mengajar yang sama. Ada juga yang akhirnya mengajar di sekolah yang Fadli dirikan.

Di tengah kesibukan mengajar, Fadli juga dikenal sebagai sosok yang vokal memperjuangkan kesejahteraan guru. Ia kerap turun ke Dinas Pendidikan, BKD, hingga Kemenag ketika status para guru belum jelas. “Banyak guru takut menyuarakan kebenaran. Tapi saya punya bekal, bisa bicara hukum, sosial, pendidikan, politik, jadi saya berani,” ungkapnya. Fadli awalnya hanya punya latar belakang pendidikan hukum. Ketika 2011 ia kembali kuliah dan mengambil jurusan pendidikan olahraga agar bisa terus menjadi guru dan keilmuannya mumpuni.

Sumber keberaniannya bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kemandirian ekonomi. Suara lantangnya tak pernah surut. Bila ada ketidakadilan di dunia pendidikan ia tak segan bersuara. Ia tak pernah takut statusnya sebagai guru PPPK terganggu atau dicopot. Status honorernya melekat selama 19 tahun. Baru 2020 Fadli menerima SK pengangkatan sebagai guru PPPK.

Perjalanan panjang itu membuatnya paham betapa timpangnya dunia pendidikan Indonesia. Ia melihat langsung perbedaan mencolok fasilitas, kesejahteraan, dan akses pendidikan antara sekolah negeri dan swasta, antara pusat dan pinggiran. Begitu juga kesejahteraan guru. “Infrastruktur pendidikan dan kesejahteraan pengajar itu jauh, masih miris,” tegasnya. Ia berharap sekolah-sekolah swasta beserta gurunya yang ada di pelosok desa juga diperhatikan oleh pemerintah.

Namun dari kesenjangan itu pula ia menemukan alasan untuk terus bertahan. Anak-anak pelosok, menurutnya, harus bisa membaca, menulis, memahami akhlak, dan punya kesempatan bersaing di luar daerah mereka. Di rumah, ia adalah ayah dari tiga anak yang masih mendampingi mimpinya. Fadli selalu menularkan semangatnya kepada buah hatinya.

Pada momen Hari Guru tahun ini, ia menitipkan pesan sederhana yang menjadi benang merah seluruh hidupnya. “Jadilah guru yang baik, punya niat yang lurus. Kalau niatmu baik, insyaAllah rezekimu akan ditambah dan anak-anak akan mendoakanmu,” tutur Fadli. Dari tangan seorang guru bernama Nur Fadli, Jember belajar bahwa sekolah bisa berdiri dari bambu, tetapi harapan bisa tumbuh seteguh batu. Pengabdiannya di pelosok Jember menjadi bukti bahwa guru bukan sekadar profesi, tetapi napas panjang perjuangan.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *