Ada satu hal yang tidak pernah saya duga dalam perjalanan menulis di platform ini: bahwa sebuah ruang berbagi gagasan ternyata mampu mempertemukan masa lalu dengan masa kini, menghubungkan orang-orang yang sempat berjalan di jalur yang sama, namun tidak pernah benar-benar bertemu.
Pada Hari Guru Nasional, 25 November, saya menerima sebuah pesan WhatsApp yang sangat hangat dari Rinta Wulandari, seorang penulis yang dikenal lewat tulisan-tulisannya yang menenangkan hati dan menyejukkan pikiran.
Rinta adalah seorang perawat, pernah bertugas dalam program Nusantara Sehat, dan kini menjadi penulis aktif di platform ini. Tahun ini, ia masuk nominasi Kompasianival 2025 pada kategori Best in Passion, kategori yang ditujukan bagi penulis yang setia berkarya sesuai panggilan hatinya.
Ia mengucapkan selamat Hari Guru pada saya dengan sopan dan penuh penghormatan – seolah saya pernah mengajarnya. Padahal, saya tak pernah mengajar Rinta secara langsung. Namun, ia adalah alumni SMAN 2 Bandar Lampung, sekolah tempat saya mengabdikan sebagian besar hidup saya. Dan entah bagaimana, status “smanda” itu membuatnya merasa dekat, seolah kami sudah saling mengenal lama.
Dalam dunia pendidikan, kadang hubungan guru-murid tidak selalu terjadi di ruang kelas. Ada murid yang kita ajar; ada pula murid yang Tuhan titipkan lewat perjalanan hidup. Rinta adalah yang kedua.
Dimensi Pertemuan yang Berbeda
Yang membuat pertemuan ini lebih menggetarkan adalah kenyataan bahwa almarhum ayahnya adalah sahabat saya. Kami dulu sering berbincang dan berdiskusi banyak hal. Setelah beliau berpulang, saya kehilangan jejak keluarganya.
Lalu, waktu berjalan. Belasan tahun kemudian. Siapa sangka, justru platform ini menjadi jembatan yang mempertemukan saya kembali dengan putrinya – bukan sebagai guru dan murid, tapi sebagai dua penulis yang dipertemukan oleh ruang literasi.
Di platform ini, saya membaca tulisannya yang berjudul “Ternyata Tiap Hari Selalu Ada Kesempatan, Refleksi Menerima Nominasi Best in Passion 2025.” Tulisan itu memperlihatkan sisi dirinya yang matang: reflektif, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan penuh rasa syukur. Dari situ, saya semakin memahami karakter dan passion yang ia bawa dalam tulisannya.
“Pak, saya minder… saya belum jadi apa-apa.”
Dalam percakapan kami, Rinta berkata:
“Pak, saya minder. Saya belum jadi apa-apa dibanding alumni smanda lainnya.”
Ia menyebut seorang alumni yang kini menjadi tokoh publik nasional. Ia membandingkan dirinya yang menurutnya “belum jadi apa-apa”.
Tentu saya tertawa kecil. Karena saya tahu:
Keberhasilan tidak pernah semata-mata diukur dari jabatan. Tidak selalu diukur dari headline. Tidak selalu tampak di panggung besar.
Saya menjawabnya:
“Tidak semua keberhasilan diukur dari pencapaian seperti itu, Mbak Rinta.”
Ada keberhasilan yang tumbuh dalam diam: ketulusan merawat pasien, empati dalam pelayanan, kesabaran dalam tugas, kecintaan pada menulis, dan keberanian bercerita dari hati.
Profesi perawat adalah profesi dengan nilai kemanusiaan yang tinggi – dan menulis adalah cara meningkatkan makna hidup bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi banyak orang.
Rinta menggabungkan keduanya. Dan itu pencapaian tersendiri.
Rinta, Perawat yang Setia pada Passion
Salah satu hal yang membuat saya bangga adalah bagaimana Rinta mengekspresikan passion-nya dengan konsisten. Ia tidak hanya merawat pasien, tetapi juga merawat pikiran banyak orang melalui tulisannya.
Tidak mengherankan jika ia terpilih sebagai Nominasi Best in Passion Kompasianival 2025. Kategori ini bukan tentang popularitas, tapi tentang kesetiaan berkarya. Dan Rinta menjalani itu dengan jujur. Rinta sendiri telah bergabung sejak 9 Juli 2012, sebuah perjalanan waktu yang sangat panjang.
Doa untuk 29 November
Menjelang 29 November, hari pengumuman Kompasianival, saya hanya dapat menyampaikan doa untuknya:
“Semoga Rinta memperoleh hasil terbaik. Semoga passion-nya bersinar semakin terang. Dan semoga apa pun hasilnya, ia tetap menjadi pemenang dalam perjalanan hidup dan profesinya.”
Karena pada akhirnya, seorang perawat yang menulis dari hati – adalah sosok yang sudah menang sejak awal.
Guru Tidak Selalu Mengajar di Kelas
Dari pesan singkatnya di Hari Guru itu, saya tersentuh bukan semata karena ucapannya, tetapi karena ia merasa saya guru baginya, meski tak pernah saya ajar.
Sebagian menyebutnya kehormatan. Saya menyebutnya anugerah.
: Bukan Sekadar Ruang Menulis
Bagi saya, platform ini adalah ruang untuk menemukan kembali:
menemukan kembali murid yang tak pernah saya ajar,
menemukan kembali persahabatan lama lewat jejak keluarga,
menemukan kembali makna menjadi guru di luar ruang kelas,
bahkan menemukan kembali diri sendiri dalam dunia literasi.
Terkadang, yang paling indah dari dunia digital bukanlah teknologinya, tetapi pertemuan-pertemuan kecil yang tidak pernah kita duga.
Pesan untuk Para Nominator Lain di Kompasianival 2025
Sebagai pendatang baru yang bahkan belum memiliki hak memilih di Kompasianival tahun ini, saya turut bersukacita melihat begitu banyak penulis yang berhasil menembus nominasi.
Setiap nama yang masuk bukan hanya membawa karya, tetapi juga membawa perjalanan panjang, konsistensi, dan keberanian untuk terus menulis di tengah kesibukan masing-masing.
Meskipun saya baru melangkah di ruang besar bernama platform ini, saya merasa ikut bangga melihat rekan-rekan penulis – baik yang sudah lama berkarya maupun yang baru menemukan rumahnya – dirayakan atas dedikasinya.
Bagi saya, keberhasilan para nominator adalah kemenangan kolektif bagi dunia literasi.
Semoga prestasi tahun ini menjadi penyemangat bagi kita semua untuk terus berbagi cerita, terus menghidupkan ruang ini dengan gagasan-gagasan jernih, dan terus menuliskan kebaikan yang sederhana namun berarti.
Akhirnya…
Saya menutup percakapan itu dengan satu kesadaran:
Menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan identitas yang hidup selamanya.
Dan platform ini, dengan caranya yang sederhana, menghadirkan kembali momen itu.
Terima kasih, Rinta. Terima kasih, platform ini.
Terima kasih pada pertemuan yang melampaui ruang dan waktu.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











