Pengalaman Pertama Naik MRT yang Menyenangkan
Tanggal 29 November menjadi pengalaman berkendara yang sangat berkesan dan menantang bagi saya. Bukan karena kemacetan atau drama perjalanan, tetapi karena hari itu adalah pertama kalinya saya merasakan sensasi naik MRT. Kereta bawah tanah yang selama ini hanya saya lihat melalui konten-konten orang lain sejak tahun 2024.
Saya awalnya mengira perjalanan akan lebih rumit daripada menggunakan KRL. Ternyata justru menjadi salah satu rute paling menyenangkan yang pernah saya lalui. Saya berangkat dari rumah di Tangerang untuk menghadiri acara Kompasianival 2025 di M Bloc Space. Saya ingin merasakan suasana perjalanan selain menggunakan TransJakarta, hanya ingin sampai tepat waktu dan menikmati acara.
Jika Anda sedang merencanakan perjalanan ke M Bloc Space menggunakan transportasi publik MRT Jakarta, berikut rute stasiun yang harus dilewati dan estimasi biayanya:
Rute Stasiun dari Tanah Tinggi ke Sudirman
Perjalanan dimulai dari Stasiun Tanah Tinggi, stasiun terdekat dari rumah saya. Saya sudah siap mental untuk melakukan transit berkali-kali. Ternyata, tidak serumit yang saya bayangkan.
Kereta pertama membawa saya ke Stasiun Duri. Di sinilah titik perpindahan peron menuju arah Sudirman. Bagi yang belum pernah, petunjuknya jelas. Tinggal ikuti tulisan jurusan Tanah Abang–Sudirman.
Dari Duri, kereta melanjutkan perjalanan ke Tanah Abang. Bagian ini penting karena di Tanah Abang kita tidak perlu turun. Banyak orang mungkin mengira harus ganti jalur, tapi tidak. Keretanya akan terus berjalan hingga ke Sudirman. Jadi, santai saja di dalam, nikmati perjalanan sambil mendengarkan lagu atau melihat orang-orang lalu-lalang.
Saat tiba di Stasiun Sudirman, saya turun. Dari sini, rutenya sangat sederhana, cukup berjalan kaki sekitar 100 meter menuju pintu masuk MRT Duku Atas BNI. Petunjuknya jelas, jadi hampir tidak mungkin tersesat.
Setelah masuk, tinggal tap in. Berita baiknya sekarang bisa bayar menggunakan GoPay atau blu BCA lewat aplikasi MRT. Praktis, tidak perlu lagi khawatir tentang kartu. Tarif menuju Stasiun Blok M BCA juga ramah kantong dengan tarif 7 ribu rupiah.
Sebelum masuk ke area peron MRT, ada pemeriksaan tas dulu. Standar kok, tapi prosesnya cepat sekali.
Saya pikir naik MRT akan terasa seperti naik KRL versi modern. Ternyata jauh berbeda. Begitu masuk gerbong, saya langsung disambut oleh udara dingin, bersih, dan cenderung sepi. Mungkin karena hari libur. Gerbong tidak sesesak KRL, dan ada vibe “kota besar” yang hanya bisa dirasakan ketika naik transportasi bawah tanah.
Dan iya, benar-benar terasa bahwa kereta ini berjalan di bawah tanah. Bukan hal yang menegangkan, tapi justru menarik. Suaranya lebih halus, goyangannya minim, dan pemandangan digantikan oleh gelap sepanjang terowongan. Ajaibnya, justru itu yang membuat tenang.
Sebagai orang yang baru pertama kali naik MRT, saya sempat senyum-senyum sendiri seperti turis. Mungkin jika ada yang melihat, mereka akan berpikir “wah ini pasti first timer.” Bahkan, saya melihat ada sepasang suami-istri bule yang menikmati MRT menuju Stasiun Blok M BCA.
Tapi ya biarkan, pengalaman pertama memang selalu memiliki tempat spesial, ‘kan?
Perjalanan dari Duku Atas ke Stasiun Blok M BCA
Dari Duku Atas ke Stasiun Blok M BCA jaraknya tidak jauh. Waktunya hanya beberapa menit, tapi cukup untuk merasakan sensasi lengkap naik MRT.
Turun di Stasiun Blok M dan Jalan Santai ke M Bloc Space
Setibanya di Stasiun Blok M BCA, saya keluar dan berjalan sedikit menuju pintu keluar. Blok M di akhir pekan terasa hidup, tapi tidak sesak. Dari situ, saya cukup berjalan kaki sebentar sekitar 5-7 menit untuk sampai di M Bloc Space.
Bagi Anda yang belum pernah ke sana, M Bloc punya suasana yang khas. Ada ramainya anak muda, kedai kopi, toko lokal, spot foto, tapi tetap dengan nuansa artsy yang bikin betah. Rasanya pas banget untuk acara kreatif atau sekadar nongkrong sambil melihat aktivitas orang.
Momen masuk ke area M Bloc sambil merasa “wah, akhirnya sampai” itu cukup rewarding setelah perjalanan panjang. Namun, perjalanan dua jam itu tidak terasa melelahkan sama sekali. Justru seru banget karena semuanya penuh hal baru bagi saya.
Dulu saya pikir pergi dari Tangerang ke Blok M akan melelahkan. Tapi hari itu, saya belajar satu hal bahwa jika rutenya benar dan fasilitasnya nyaman, perjalanan bisa menjadi pengalaman menyenangkan, bukan hambatan.
Naik KRL, lanjut MRT, turun di Blok M, dan tiba di M Bloc Space; semuanya terasa mulus. Bahkan saya merasa lebih rileks dibanding naik kendaraan pribadi di tengah macet.
Jika dihitung-hitung, total estimasi perjalanan pulang-pergi dari KRL Tangerang sampai ke M Bloc Space sekitar 20 ribu rupiah (KRL seharga 3 ribu/perjalanan, MRT seharga 7 ribu/perjalanan).
Dan mungkin ini salah satu alasan mengapa kota besar perlu transportasi publik yang baik supaya perjalanan tidak lagi hanya tentang sampai, tapi juga tentang menikmati prosesnya.
Tanggal 29 November itu, saya tidak hanya pergi ke sebuah acara. Saya belajar rute baru, mencoba transportasi baru, dan merasakan kembali kegembiraan kecil yang sering hilang di kehidupan sehari-hari.
Kadang, pengalaman berharga tidak harus yang luar biasa. Cukup perjalanan 2 jam dari Tangerang menuju M Bloc Space—dengan MRT pertama saya dan sudah cukup untuk membuat saya tersenyum saat mengingatnya.











