"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Bahaya Patriarki dan Misogini: Akar Femisida di Indonesia

● Tingkat kasus femisida di Indonesia semakin meningkat, namun masih jarang dilaporkan.
● Budaya patriarki dan pandangan yang tidak menghargai perempuan makin memperparah terjadinya femisida.
● Pendidikan dan partisipasi orang tua sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan setara.

Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam konteks kekerasan tersebut, sering kali berujung pada kematian, atau lebih dikenal dengan istilah femisida. Di Indonesia, kasus femisida meningkat cukup signifikan. Laporan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat 95 kasus femisida sepanjang 2020. Pada 2024, angkanya mencapai 290 kasus.

Baru-baru ini, media digemparkan oleh kejadian yang menimpa Irene Sokoy, seorang perempuan hamil yang harus meregang nyawa karena berkali-kali mengalami penolakan untuk mendapatkan pelayanan medis. Kasus ini adalah contoh nyata dari femisida tidak langsung. Sebab, ini sama dengan pembunuhan yang ditoleransi oleh otoritas atau negara melalui penyedia layanan kesehatan.

Contoh lainnya adalah kasus di Lombok Barat pada November 2025. Pelaku, yang merupakan kekasih korban, tega mengakhiri hidup kekasihnya dan mengecor jasad korban di rumah pelaku. Kasus femisida termasuk jenis kekerasan yang sering kali under reported (tidak terlapor dengan baik) karena isu ini belum cukup populer di tengah masyarakat Indonesia.

Kentalnya budaya patriarki dan pandangan misoginis yang membenci perempuan menjadi dua faktor utama penyebab femisida. Masyarakat kerap menormalisasi isu ini karena pengaruh budaya yang kuat.

Memahami Femisida

Femisida merupakan pembunuhan yang dilakukan secara sengaja terhadap perempuan karena adanya motivasi yang berkaitan dengan gender. Femisida bukanlah tindakan yang terjadi secara tiba-tiba atau instan, tetapi ada dinamika gender yang melatarbelakanginya.

Lalu, apa motif utama pelaku femisida? Berdasarkan Laporan Femisida 2024, dari 223 kasus femisida yang terjadi sepanjang tahun lalu, isu problem komunikasi dan masalah asmara menjadi dua pemicu tertinggi terjadinya femisida. Persentase masing-masing sebesar 25% dan 23% dari total kasus.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa sepanjang 2024, 90% pelaku berjenis kelamin laki-laki. Hampir setengah kasus femisida yang terjadi sepanjang 2024 terjadi dalam relasi intim. Artinya, korban merupakan istri, kekasih, atau teman kencan.

Ini menunjukkan bahwa femisida sering terjadi di lingkaran yang paling inti dari korban. Selain itu, lebih dari setengah femisida terjadi di rumah korban, sebuah tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman.

Isu kesehatan mental dan penggunaan obat-obatan terlarang atau minuman keras sebenarnya menjadi salah satu faktor pendorong pelaku melakukan femisida. Meski demikian, belum ada kesimpulan pasti terkait hubungan kedua faktor ini sebagai penyebab utama femisida.

Pengaruh budaya patriarki menjadi faktor kunci tingginya jumlah femisida di Indonesia. Ini terlihat dari data yang menunjukkan bahwa Asia, termasuk Indonesia, merupakan wilayah dengan kultur patriarki yang cukup kuat mengakar. Di Asia selama 2024, kira-kira setiap 10 menit ada satu perempuan dibunuh, baik oleh pasangan atau anggota keluarga.

Dalam sistem patriarki, laki-laki melakukan dominasi, menekan, dan mengeksploitasi perempuan. Studi literatur sistematis juga menunjukkan bahwa kentalnya budaya patriarki dapat meningkatkan risiko femisida. Dalam masyarakat yang tumbuh dengan sistem patriarki yang kuat, mereka melihat perempuan sebagai individu yang tidak berdaya, perlu diatur, dan memiliki value atau nilai yang lebih rendah dari laki-laki.

Kuatnya sistem patriarki juga punya andil dalam munculnya pandangan misoginis. Pandangan misoginis yang tumbuh subur di masyarakat patriarkal kerap menormalisasi kekerasan terhadap perempuan, termasuk femisida.

Apa yang perlu dilakukan?

Menghilangkan patriarki mungkin terdengar sebagai tugas yang sangat sulit. Namun, upaya tetap perlu dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih setara agar dapat menurunkan risiko terjadinya femisida.

Pendidikan tentu memegang peranan penting untuk menanamkan nilai kesetaraan dan inklusivitas. Sebuah studi di Nigeria tahun 2024 menekankan pentingnya guru untuk menciptakan suasana kelas yang inklusif dan menghadirkan diskusi yang tidak diskriminatif. Situasi ini diyakini dapat mendorong siswa untuk mengemukakan pendapatnya terhadap isu yang sedang dibahas di dalam kelas.

Upaya ini juga dapat mendorong pembuatan kurikulum yang lebih inklusif, misalnya membahas isu dari para ahli yang tidak hanya berjenis kelamin laki-laki, tapi juga dari kacamata ahli perempuan.

Selain di sekolah, orang tua juga berperan penting untuk mengawasi dan memberikan pendidikan yang berkaitan dengan isu kesetaraan gender. Orang tua bisa menghadirkan suasana yang mengedepankan keadilan gender. Misalnya dengan melakukan pembagian tugas di rumah tanpa terikat pandangan tradisional bahwa anak perempuan harus di dapur dan anak laki-laki tidak perlu melakukan pekerjaan rumah.

Ayah juga dapat memberikan contoh untuk ikut serta dalam melakukan pekerjaan rumah sehingga dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya. Di era digital ini, orang tua perlu mengawasi konten apa yang diakses oleh anak. Seringkali, orang tua menganggap bahwa anaknya adalah anak yang baik karena jarang keluar rumah. Padahal mereka tidak mengetahui konten apa yang diakses oleh anaknya di dalam kamar.

Pelibatan laki-laki juga dianggap penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah terhadap nilai-nilai keadilan gender. Sebuah studi di Kanada pada 2023 mengungkap bahwa nilai patriarki kerap mengucilkan laki-laki dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih adil. Sebab, banyak laki-laki yang merasa diri mereka sudah “dicap” sebagai sumber masalah.

Oleh karena itu, penting untuk menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi laki-laki untuk masuk menjadi teman demi mewujudkan lingkungan yang lebih setara.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *