"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Harga Bahan Pokok Aceh Naik 100 Persen, Telur Rp110 Ribu Per Papan

Kebutuhan Dasar Masyarakat Aceh Mengalami Lonjakan Harga



Di tengah situasi kebencanaan banjir bandang dan tanah longsor yang melanda lebih dari separuh wilayah Aceh, harga-harga barang kebutuhan utama masyarakat mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini membuat kondisi semakin sulit bagi warga setempat.

  • Telur dan bahan pangan lainnya mengalami kenaikan hingga 100 persen.
  • Ketersediaan BBM seperti bensin maupun solar terbatas meskipun pasokannya ada.
  • Listrik masih belum menyala di sebagian besar wilayah, sehingga memengaruhi akses air bersih.

Kondisi Listrik yang Masih Tidak Stabil

Salah satu relawan kemanusiaan di Banda Aceh, Rahmiana Rahman, menjelaskan bahwa listrik menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Meskipun tidak lagi hujan dan cuaca cerah, listrik masih belum menyala secara stabil. Bahkan, jika sudah menyala, hanya bertahan sebentar sebelum kembali mati.

“Alhamdulillah dalam beberapa hari ini, tidak lagi hujan dan cerah. Tetapi listrik masih belum menyala. Kalau menyala, itu pun hanya sebentar karena mungkin giliran 1×24 jam, atau sampai 48 jam (listrik) mati, lalu nyala sebentar, lalu mati lampu lagi,” ujar dia saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (2/12/2025).

Listrik yang tidak stabil memengaruhi kebutuhan air bersih. Masyarakat Aceh mengandalkan sumur bor dengan mesin pompa yang membutuhkan listrik. Jika listrik mati, maka akses ke air bersih juga terganggu. Sementara itu, air dari saluran PAM tidak dapat diandalkan karena masih berlumpur.

Lonjakan Harga Barang Pokok

Menurut Rahmiana, lonjakan harga barang-barang pokok memang terjadi. Meskipun stok barang tidak langka, tetapi harga-harganya melambung tinggi. Contohnya, telur yang biasanya dijual Rp 55 ribu per papan kini naik menjadi Rp 110 ribu per papan. Ini menunjukkan kenaikan sebesar 100 persen.

Ikan yang tidak segar juga mengalami kenaikan harga, mencapai Rp 70 ribu per kilogram. Pasar-pasar tetap buka, namun harga tidak normal akibat panic buying. Cabai juga mengalami kenaikan hingga lebih dari 100 persen, dengan harga dasar pedagang berkisar antara Rp 80 sampai 100 ribu per kilogram.

Beras dengan kualitas biasa dijual dengan harga Rp 260 ribu per sak. Sementara itu, kue-kue basah di pasar kini dijual dengan harga Rp 3 ribu per unit, padahal sebelumnya hanya Rp 1 ribu.

Keterbatasan BBM

Meskipun pom bensin tetap beroperasi, antrean panjang membuat masyarakat kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar. Antrean bisa mencapai tiga jam atau lebih. Pedagang bensin eceran juga tidak memiliki stok jual.

Kebutuhan Mendesak di Aceh Tamiang

Rahmiana juga menyampaikan kebutuhan mendesak di Aceh Tamiang. Akses ke wilayah tersebut terputus, sehingga masyarakat di Desa Baling Karang belum menerima bantuan. Sebanyak lebih dari 63 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 150-an warga terisolasi.

“Kalau ada bantuan paling bagus kalau lewat udara. Karena jalan darat, benar-benar terputus ke wilayah itu,” ujar Rahmiana.

Di jalur darat antara Langsa dan Aceh Tamiang, banyak warga mulai menyetop mobil-mobil relawan yang membawa bantuan demi mendapatkan stok pangan. Meskipun tidak ada penjarahan, situasi ini menunjukkan kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani.

Rahmiana menekankan bahwa meski gejala masyarakat di wilayah kebencanaan wajar, masyarakat terkena bencana juga perlu memahami bahwa ada warga-warga lain yang juga membutuhkan bantuan serupa.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *