Fase In Between: Masa Transisi yang Penting untuk Anak Usia 5–12 Tahun
Usia 5–12 tahun sering disebut sebagai fase In Between, masa peralihan ketika anak bukan lagi balita, tetapi juga belum remaja. Pada fase ini terjadi perubahan perilaku yang sangat kuat! Mereka semakin mandiri secara fisik, tetapi justru membutuhkan stimulasi sosial-emosional yang lebih kompleks.
Sayangnya, banyak orangtua menganggap anak pra-remaja sudah “bisa sendiri”, padahal menurut para ahli, justru mereka membutuhkan ruang eksplorasi yang aman, stimulatif, dan relevan dengan kebutuhan perkembangan otak serta identitas diri mereka. Di sini, akan dibahas pentingnya bermain untuk pra-remaja, serta pilihan kegiatan berkualitas yang bisa diambil.
1. Anak Sebagai Generasi Hybrid yang Hidup di Dua Dunia
Anak-anak usia 6–12 tahun sekarang bisa menghabiskan hingga 6 jam per minggu untuk penggunaan digital. Padahal rekomendasi WHO adalah maksimal 2 jam per hari untuk screen time. Artinya, kebutuhan bermain fisik makin mendesak. Anak sebenarnya butuh bergerak, berinteraksi, dan mendapatkan stimulasi multisensori yang tidak bisa digantikan oleh dunia digital.
Ruang bermain fisik, terutama yang mengintegrasikan indoor, outdoor, dan water play, memberikan pengalaman eksplorasi yang jauh lebih kaya untuk tubuh dan otak mereka.
2. Eksplorasi Fisik Membangun Keberanian dan Problem Solving
Setelah melakukan Focus Group Discussion dengan anak-anak pra-remaja, Playclub by Buumi menemukan bahwa anak membutuhkan permainan yang menantang, bukan sekadar rekreasional. Fasilitas seperti arena ninja warrior yang memicu adenalin, hingga permainan air memberi mereka pengalaman:
- Mengambil keputusan sendiri,
- Menguasai rasa takut,
- Menghadapi rintangan,
- Memecahkan masalah secara langsung,
- Mencoba lagi dan lagi ketika gagal.
Ini sangat penting karena pada fase ini, anak sedang mengembangkan self-control, resilience, dan self-identity yang semuanya dibangun melalui pengalaman real lewat permainan.

3. Sosialisasi Real-Time Mencegah Masalah Emosional di Masa Remaja
Menurut psikolog, anak pra-remaja membutuhkan:
- Rasa aman saat bermain,
- Koneksi dengan teman sebaya,
- Permainan imaginatif,
- Tantangan eksekutif (executive functioning) yang didapatkan dari permainan.
Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, risiko yang muncul bisa menjadi sangat kompleks. Gangguan emosi seperti rasa inferior, agresi tersembunyi, hingga kecenderungan menarik diri sangat mungkin muncul di kemudian hari. Bermain bersama, berinteraksi nyata, bercanda, berkompetisi, dan menyelesaikan konflik kecil secara langsung adalah fondasi penting bagi kesehatan mental mereka.

4. Program Berbasis Peran (Roleplay) Mengembangkan Identitas dan Kompetensi Diri
Menurut Nucha Bachri, co-founder Parentalk, anak pra-remaja membutuhkan permainan yang strategis, penuh aktivitas, kompetitif, menumbuhkan keberanian, dan melibatkan dirinya. Inilah mengapa playground ini mengadakan Junior Internship Program bagi anak-anak dari usia 8–12 tahun untuk menjadi:
- Tour guide,
- Frontliners,
- Housekeeper,
- Restoran server,
- Petugas bioskop.
Bekerja sama dengan berbagai tenant, playground ini menyediakan wadah untuk anak-anak dapat merasakan pengalaman langsung sekaligus belajar di lapangan. Tujuannya, agar mereka menumbuhkan karakter disiplin, tanggung jawab, leadership, komunikasi, dan problem solving.
Program ini dapat dijalani satu hari (selama 3,5 jam hingga satu hari penuh) dan paket 4 kali bekerja setiap hari Sabtu.

5. Orangtua Harus Proaktif dalam Mendorong Tumbuh Kembang Anak Lebih Lanjut
Psikolog mengatakan bermain bukan sekadar hiburan. Ini adalah kebutuhan perkembangan yang menentukan identitas diri, kemampuan sosial, dan kesehatan mental mereka. Maka, orangtua perlu proaktif memastikan anak mendapatkan stimulasi yang tepat, bukan hanya aktivitas digital, tetapi aktivitas fisik, sosial, dan yang memberi tantangan nyata.

6. Ruang Bermain yang Imajinatif dan Terintegrasi
Setelah melakukan benchmarking ke Shanghai dan riset terhadap kebutuhan keluarga Indonesia, sangat terlihat bahwa jarang sekali ada ruang bermain yang benar-benar menyatukan aktivitas fisik, sosial, sensori, imajinatif, dan roleplay dalam satu ekosistem terkhusus untuk pra-remaja.
Playclub by Buumi di Urban Forest Cipete menghadirkan hiburan dan tantangan seru dalam satu ruang bermain yang luas lengkap dengan kolam renang! Setiap sudutnya dirancang imajinatif, bersih, dan berstandar internasional, playground ini siap membersamai anak-anak di Indonesia untuk tumbuh dan berkembang.

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











