Sumber Ilustrasi: id.pngtree.com
Perjalanan Kembali ke Pendidikan yang Inklusif
Setelah pulang dari Jakarta, semua harapan untuk kembali melihat dengan baik pupus. Bisa dibilang bertepuk dua belah mata. Mata yang seharusnya sembuh karena sudah diobati dokter, justru tidak kembali bugar lagi fungsinya.
Akhir 2018, saya mengambil keputusan akhir untuk membawa diri ini pada jalannya. Jalan yang memang didesain bisa membimbing sosok yang memiliki penurunan fungsi penglihatan. Jalan apa itu? Yupz… Sekolah MA N 2 Sleman, atau yang juga dikenal MA N Maguwo sebagai salah satu sekolah inklusif di daerah Sleman.
Perjalanan ini dimulai dari keresahan saya yang merasa lingkungan pondok tidak terlalu suportif bagi pendidikan saya. Meski dari pihak pengasuh bersedia mendampingi, namun hati kecil tetap ingin bersekolah di tempat yang dapat membina saya dengan lebih baik.
Masih saya ingat betul malam itu, ketika saya dipanggil menuju salah satu rumah pengasuh. Banyak nasihat saya terima, penguatan batin, dan suntikan semangat berupa doa. Apakah setelah itu saya langsung bangkit dengan penuh keyakinan? Tentu tidak, dong. Kalau iman bisa langsung penuh hanya dengan satu sesi nasihat, mungkin kita semua sudah antre masuk surga sejak remaja.
Namun setidaknya, saya tahu masih ada guru yang peduli pada mentalitas dan harapan hidup saya. Guru yang peduli tidak hanya menyimpulkan keadaan saya hanya dengan kata “Sabar”. Melainkan membantu menata batin, pikir, dan olah laku kedepannya.
Ditemani semilir angin malam, pandangan dan fisik saya berjalan lesu menuju rumah pengasuh. Suara ramai motor, hewan malam, dan bahkan dingin malam tidak lagi saya rasakan. Semua itu tertutup oleh kalut dan sendu atas nasib yang akan saya jalani.
Di teras sederhana, ditemani beberapa camilan yang entah rasanya apa, saya duduk menunduk di hadapan kiai. Detak jam dan suara cicak menemani suasana muram malam itu. Mungkin bisa dibilang mereka saksi dalam senyap—dan sejujurnya, cicak-cicak itu tampak lebih tenang menghadapi hidup dibanding saya saat itu.
“Saya paham Kang Wachid ingin kuliah ke timur tengah. Saya tahu kerunyaman yang dirasakan. Mungkin juga saya bisa meraba kesedihan yang kini menggelayut di wajahmu, kang,” tutur Kiai membuka obrolan.
Saya tetap menunduk. Tidak berani mendongakkan wajah. Ucapan itu tidak perlu saya jawab; hati rapuh ini sudah lebih dulu mengiyakan tanpa perlawanan.
“Mungkin sekedar berbagi sudut pandang, kang. Sepengalaman saya, kang mas, mbakyu, dan beberapa saudara di pengasuh itu malah tidak berkuliah ke luar negri,” lanjut kiai.
Beliau melanjutkan bila semua sudah ada di Indonesia. Ajaran Islam, ilmu tasawuf, fikkih, akidah, tariqh, dan ilmu lain matang tersebar di berbagai penjuru. Mulai pondok, STAI, dan perguruan islam lainnya.
“Bahkan kini banyak orang-orang Timur Tengah justru belajar Islam dari kita. Itu menandakan perkembangan Islam di Indonesia menunjukkan rahmatal lil alamin yang nyata,” jelas kiai. Beliau melanjutkan, “Jadi, tidak usah risau bila belum saat ini menuntut ilmu dan mencari pengalaman ke luar negri. Yakinlah sampean juga bisa memulai lagi semua dari sini”.
Kiai menjabarkan berbagai sudut pandang baru, cara melihat takdir, ikhlas terhadap yang terjadi, dan segera ikhtiar untuk kembali bangkit. Allah tidak menguji hambanya tanpa memperhatikan batas kemampuan umatnya. Beliau menegaskan hal itu berulang-ulang.
“Satu hal lagi, kang. Allah mengambil sesuatu dari makhluknya, tapi juga menyertakan hikmah juga hadiah yang lebih besar daripada yang kita anggap berharga,” lanjut kiai.
Sampai di sini saya masih terdiam. Nasehat kiai saya coba cerna dan selami. Namun yang terakhir tentu menjadi hentakan batin yang sulit dipahami.
Siapa yang bilang kalau penglihatan tidak berharga? Apa yang lebih besar dari penglihatan? Mungkinkah hadiah itu benar-benar ada. Atau hanya sebatas upaya kiai membangun moril saya yang tengah rapuh. Entahlah, saya hanya takdzim mendengarkan nasehat beliau tanpa pertentangan nyata.
Pada detik jam yang menunjukkan pukul 21.30, kiai kembali menegaskan hadiah itu bisa didapat dengan syarat berat. Saya harus ridlo, yakin ini adalah ketetapan, sebuah tugas yang diamanahkan kepada saya untuk menebar manfaat, dan Allah selalu mendampingi. Hal ini ditegaskan berulang kali dengan nada tegas namun hangat.
“Syaratnya sampean harus membangun diri untuk kuat dan menjalani dengan baik. Tapi kalau sampean malah memilih menyerah dan melakoni keputusan diri yang tidak diridloi, itu malah akan makin menambah hal yang tidak baik. Jadi, monggo dicerna dan pasrahkan saja kepada sang pencipta, kang!” jelas kiai mengakhiri pertemuan.
Saya kembali ke asrama dengan kepala penuh. Karena pikiran tak kunjung reda, saya melangkah ke makam pendiri pondok. Di sanalah saya benar-benar berhenti melawan. Wirid dan selawat menjadi pegangan. Al-Qur’an menjadi penyejuk.
Dan untuk pertama kalinya, saya mulai memahami: mungkin Allah tidak mengganti penglihatan dengan sesuatu yang langsung terlihat. Mungkin Dia menggantinya dengan cara melihat hidup—yang pelan, jujur, dan tidak lagi tergesa-gesa.
Pada awal 2019, sebuah keputusan besar saya ambil. Saya pergi ke Badan Sosial mardiwuto untuk belajar komputer bicara dan smartphone yang dipasang aplikasi pembaca layar, sehingga difabel netra seperti saya dapat memakainya. Ini menjadi langkah awal untuk menuju pertarungan berikutnya.
Saya berpikir, jika terus menunda, saya hanya akan makin tertinggal. Untuk apa bersedih terlalu lama? Toh kenyataannya penglihatan ini memang terus menurun, sementara hidup tidak pernah mau ikut berhenti menunggu kesiapan saya.
“Mau bangkit sekarang atau nanti, saya tetap akan menjadi buta,” gumam saya. “Kalau ujung ceritanya sama, ngapain menunda perjuangan?” Lagipula, menunda tidak membuat mata kembali terang—yang ada hanya membuat hari-hari makin gelap oleh penyesalan sendiri.
Maka, lebih baik dari sekarang saya mulai menyiapkan diri. Belajar berdiri lebih kuat, melangkah lebih sadar, dan—siapa tahu—bersinar kembali dengan cara yang berbeda. Bukan dengan mata yang sempurna, tetapi dengan keberanian untuk menerima diri dan terus hidup dengan nyata.
Momen ini memberi saya sudut pandang baru, dan saya meyakininya sebagai hadiah awal dari Allah. Dari sana, saya belajar menguatkan diri untuk terus melangkah, meski pelan. Tak masalah. Saya percaya, selama dijalani dengan sadar dan jujur, misi titipan takdir ini akan menemukan jalannya sendiri.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











