"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Asing lari Rp 42,34 triliun dari pasar saham 2025, ini proyeksi 2026

Aliran Dana Asing di Pasar Saham Indonesia Tahun 2025

Di akhir tahun 2025, aliran dana asing tercatat keluar dari pasar saham Indonesia. Pada hari terakhir perdagangan tahun tersebut, Selasa (30/12/2025), dana asing mengalir keluar sebesar Rp 937,79 miliar di seluruh pasar dan Rp 888,53 miliar di pasar reguler. Sejak awal tahun, total aliran dana asing yang keluar mencapai Rp 17,34 triliun secara year to date (YTD) di seluruh pasar, sementara di pasar reguler mencapai Rp 42,34 triliun YTD.

Menurut pengamat pasar modal dan Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor utama keluarnya dana asing. Meskipun saham-saham di Indonesia naik sepanjang tahun ini, investor asing merasa akan mengalami kerugian karena fluktuasi nilai tukar.

Namun, kondisi pasar saham Indonesia menunjukkan perbaikan dalam tiga bulan terakhir. Terdapat net buy sebesar Rp 37,13 triliun di seluruh pasar dan Rp 3,55 triliun di pasar reguler. Hal ini didorong oleh penurunan suku bunga The Fed dan adanya quantitative tightening yang meningkatkan jumlah dolar AS beredar di dunia. Kondisi ini membuat pasar saham Jepang dan China mengalami kenaikan signifikan, termasuk pasar Indonesia.

Meski demikian, aliran dana asing ke Indonesia tidak secepat ke negara-negara lain karena hanya sebagai diversifikasi portofolio.

Penyebab Net Sell Asing Sepanjang 2025

Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menyebut beberapa alasan mengapa net sell asing terjadi sepanjang tahun 2025. Pertama, suku bunga global yang masih tinggi membuat investor lebih memilih aset aman seperti US bond dan dolar AS. Kedua, sentimen global yang cenderung risk-off akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi. Ketiga, rotasi dana ke obligasi Indonesia (SBN/SRBI) yang memiliki imbal hasil lebih menarik.

Emiten yang paling banyak dilego oleh asing biasanya adalah saham blue chip likuid seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, serta sebagian saham komoditas saat harga melemah.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa outflow asing di pasar saham domestik disebabkan oleh yield war US Treasury dan Stimulus China yang membuat aliran dana beralih ke bursa ASEAN. Akibatnya, bursa Indonesia menjadi kurang menarik.

Emiten yang paling sering dilego oleh asing adalah saham big banks seperti BBRI dan BBCA, TLKM, serta ASII. Mereka dilepas bukan karena fundamental yang buruk, tetapi karena asing membutuhkan dana cepat dan menjual saham yang mudah dijual.

Proyeksi Tahun 2026: Kembalinya Dana Asing

Pada tahun 2026, kondisi diperkirakan akan membaik dengan kembalinya net buy asing di pasar saham Indonesia. David Kurniawan menyatakan, aliran dana asing di tahun 2026 kemungkinan lebih baik dibanding 2025, meskipun belum sepenuhnya deras. Jika The Fed mulai memangkas suku bunga, minat asing terhadap emerging market bisa meningkat.

Masuknya dana asing di tahun 2026 dapat menjadi katalis penguatan indeks IHSG, terutama untuk saham big caps. Tanpa masuknya dana asing, IHSG masih bisa naik, tetapi laju dan distribusi kenaikannya akan lebih terbatas.

Sektor yang berpotensi menjadi pintu masuk asing di tahun 2026 antara lain perbankan besar, energi dan komoditas, serta sektor telco dan consumer staples. Untuk perbankan besar, alasan utamanya adalah likuiditas tinggi dan fundamental kuat seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.

Untuk sektor energi dan komoditas, alasan utamanya adalah siklus harga global, yaitu ADRO, ANTM, dan MDKA. Sementara sektor telco dan consumer staples dipilih karena termasuk sektor defensif dengan arus kas stabil.

Rekomendasi Saham dan Target Harga

David mengatakan, jika IHSG tahun 2026 masih berada di area all time high, fokus pada saham dengan likuiditas tinggi, fundamental kuat, dan valuasi masuk akal. Target harga bersifat bertahap sesuai arus dana asing dan sentimen global, bukan agresif seperti era bull market penuh.

Wafi melihat tahun 2026 sebagai tahun perbaikan. Dengan The Fed yang mulai memotong bunga dan dolar AS yang melemah, pergerakan IHSG diharapkan lebih kencang dan berkelanjutan. Kenaikan IHSG di tahun 2026 akan dipimpin oleh saham blue chip (LQ45) yang didorong inflow asing.

Sektor utama yang menjadi pintu masuk asing adalah emiten big banks dan telco karena valuasi yang sudah murah. Wafi merekomendasikan investor memperhatikan saham BBRI, TLKM, dan BMRI dengan target harga masing-masing Rp 5.600 per saham, Rp 4.500 per saham, dan Rp 7.000 per saham.

Teguh Hidayat juga optimis bahwa kembalinya dana asing akan memperkuat IHSG di tahun 2026. Sektor komoditas akan tetap menjadi favorit lantaran tren kenaikan harga global hingga tahun 2026. Batubara dan nikel menjadi komoditas primadona. Teguh merekomendasikan beli saham ITMG dan NCKL dengan target harga masing-masing Rp 30.000 per saham dan Rp 1.500 per saham.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *