JAKARTA – Dalam dunia bisnis, menjadi miliarder biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai titik tersebut. Namun, dengan ledakan kecerdasan buatan (AI), banyak individu kini bisa meraih kekayaan yang luar biasa dalam waktu singkat. Teknologi ini telah mengubah para pendiri perusahaan rintisan menjadi tokoh penting di Silicon Valley dan bahkan menjadi miliarder baru.
Miliarder AI Baru Muncul
Ketika para taipan properti atau tambang membutuhkan puluhan tahun untuk menjadi miliarder, sejumlah pengusaha muda kini bisa meraih status tersebut hanya dalam beberapa tahun. Fenomena ini mirip dengan kegilaan dot-com pada akhir 1990-an, di mana banyak orang kaya mendadak karena teknologi.
Beberapa contohnya adalah Alexandr Wang dan Lucy Guo, pendiri Scale AI, yang menerima investasi besar dari Meta. Perusahaan mereka dinilai sebesar US$14,3 miliar. Sementara itu, pendiri Cursor, sebuah startup pengodean AI, juga masuk daftar miliarder setelah valuasi perusahaan mereka mencapai US$27 miliar.
Selain itu, ada juga para pengusaha di balik Perplexity, Mercor, Figure AI, Safe Superintelligence, Harvey, dan Thinking Machines Lab. Mereka semua berada dalam klub perusahaan dengan pendapatan sembilan digit.
Kekayaan yang Cepat dan Tidak Pasti
Sebagian besar miliarder AI baru ini mencapai titik tersebut setelah valuasi perusahaan mereka melonjak. Namun, seperti yang disampaikan Jai Das dari Sapphire Ventures, kekayaan mereka bisa jadi bersifat sementara jika perusahaan tidak mampu memenuhi harapan.
“Pertanyaannya adalah perusahaan mana yang akan bertahan, dan pendiri mana yang benar-benar bisa menjadi miliarder sejati,” katanya.
Perjalanan Miliarder AI
Banyak dari mereka mulai membangun perusahaan mereka kurang dari tiga tahun lalu setelah ChatGPT dirilis oleh OpenAI. Contohnya, Mira Murati, mantan eksekutif OpenAI, meluncurkan Thinking Machines Lab pada Februari 2025. Dalam waktu singkat, startup ini mencapai valuasi US$10 miliar tanpa merilis produk apa pun.
Ilya Sutskever, mantan eksekutif OpenAI lainnya, juga meluncurkan Safe Superintelligence. Meski belum memiliki produk, perusahaan ini sudah bernilai US$32 miliar setelah mengumpulkan dana sebesar US$2 miliar.
Usia Muda dan Kekayaan Mendadak
Usia muda menjadi ciri khas dari booming teknologi. Seperti Larry Page dan Sergey Brin saat mendirikan Google, atau Mark Zuckerberg saat membuat Facebook, para miliarder AI juga masih muda. Misalnya, Brendan Foody, CEO Mercor, keluar dari Georgetown University pada 2023 dan sudah membawa perusahaan ini bernilai US$10 miliar.
Para pendiri Cursor juga berusia di bawah 30 tahun. Mereka bertemu di MIT dan lulus pada 2022. Putaran pendanaan sebesar US$2,3 miliar membawa valuasi startup mereka mencapai US$27 miliar.
Dominasi Laki-laki dalam Teknologi
Ledakan AI juga menunjukkan dominasi laki-laki dalam industri ini. Hanya sedikit wanita yang berhasil mencapai tingkat kekayaan yang sama. Contohnya adalah Lucy Guo dan Mira Murati, yang masing-masing merupakan pendiri Scale AI dan Thinking Machines Lab.
Meskipun demikian, fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi bisa mengubah dunia bisnis secara cepat dan memberi peluang bagi generasi muda untuk menjadi tokoh penting dalam ekonomi global.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











