Tren Gaya Hidup Analog yang Menjadi Solusi Kebosanan Digital
Di era digital saat ini, hampir semua aktivitas memerlukan kecanggihan dari gawai, terutama telepon cerdas. Perangkat ini membuat segala hal menjadi lebih cepat dan mudah. Namun, sering kali aktivitas positif setiap individu menjadi tidak fokus karena kebiasaan scrolling terus-menerus tanpa menghiraukan waktu maupun tempat.
Paparan dan dampak buruk dunia digital yang dikenal dengan istilah doomscrolling muncul ketika seseorang sedang asyik melihat berbagai macam konten melalui platform digital atau media sosial tanpa mengindahkan waktu, tempat, dan orang-orang di sekitarnya. Kebiasaan ini sangat berpotensi membelokan arah dan menurunkan mutu kehidupan tiap individu karena bisa membuat tujuan hidupnya keluar jauh dari jalur yang diinginkan.
Potensi tersebut bisa menjadi berkali lipat saat kebiasaan scrolling dibawa ke mana-mana, bahkan di ruang-ruang tunggu hingga ke tempat-tempat nongkrong. Aktivitas kumpul-kumpul yang juga sudah menjadi kebiasaan bagi generasi muda dalam beraktualisasi diri di luar rumah, karena dianggap sudah menjadi bagian dari gaya hidup.
Namun, belakangan ini muncul tren analog dikalangan Gen Z yang memicu kesadaran untuk mengajak orang-orang kembali ke masa lampau. Fenomena ini dimulai dari kejenuhan yang tampak hingga mengalami digital fatigue dan pembatasan usia pengguna media sosial yang menggejala di berbagai negara dengan dikeluarkannya kebijakan aturan resmi, kalangan muda kini mulai beralih pada tren analog.
Ciri-Ciri Gaya Hidup Analog
Ciri-ciri gaya hidup analog dimulai dengan tren penggunaan ponsel dumbphone oleh Gen Z yang viral di negara Eropa dan Amerika Serikat, penggunaan kamera rol film minimal kamera polaroid atau barang-barang analog, zero posting di media sosial dan nongkrong bawa tas analog atau ‘analogue bag’.
Dumbphone adalah jenis ponsel yang hanya dapat digunakan untuk melakukan panggilan suara, menerima pesan teks, dan melihat peta. Fitur-fitur yang tersedia sangat terbatas, penggunanya tidak bisa browsing atau pun bermain media sosial.
Kamera rol film, yang merupakan jenis kamera zaman dahulu dan penggunaannya harus diisi dengan rol film, lalu dicetak. Fotografi ini mendorong penggunanya untuk bersabar dan menikmati proses. Setidaknya, penggunaan kamera Polaroid atau lebih dikenal dengan kamera langsung jadi, sebuah model kamera yang dapat memproses foto sendiri di dalam badan kamera setelah dilakukan pemotretan, kini terlihat kembali digunakan oleh kalangan muda.
Zero posting atau zero post adalah istilah yang kali pertama dicetuskan oleh penulis esai Kyle Chayka. Frasa itu digunakan saat dirinya menyoroti bagaimana ritual berbagi kabar secara daring menjadi langka. Artikel yang diterbitkan dalam majalah mingguan The New Yorker yang berjudul Infinite Scroll menyatakan bahwa kita mungkin sedang menuju sesuatu seperti zero post, titik di mana orang-orang biasa, masyarakat awam yang tidak profesional dan tidak terkomersialkan berhenti berbagi hal-hal di media sosial karena mereka merasa bosan dengan kebisingan.
Kyle Chayka berpendapat, fenomena zero post menandakan berakhirnya media sosial, yakni masa di mana orang-orang tidak lagi menggunakan media sosial untuk berbagai kabar di era digital.
Sedangkan analogue bag atau tas analog menjadi populer belakangan ini karena dipercaya dapat mengurangi screen time atau waktu di depan layar yang terlalu lama. Yang membuat tas ini trending bukan karena label desainer, logo, atau bentuknya yang unik, namun dari isinya.
Analogue Bag, Ikigai dari Dunia Digital yang Dimulai dari Kontrol Isi Tas Nongkrong
Tas analog umumnya memiliki ukuran sedang ke ukuran besar sehingga dapat memuat banyak barang yang mampu menyibukkan penggunanya. Barang-barang yang akan menghubungkan pemiliknya pada aktivitas masa lalu untuk rehat dari aktivitas digital.
Bayangkan saat seseorang memiliki banyak waktu luang ketika berada di tempat nongkrongan atau ruang tunggu. Di dalam tas analog terdapat berbagai macam benda seperti alat rajut, buku jurnal, buku bacaan, produk perawatan diri, kamera rol atau polaroid, kertas gambar skesta dan pensil warna, permainan puzzle, sudoku atau teka-teki silang, atau bahkan walkman.
Sehingga alih-alih scrolling media sosial, orang tersebut memanfaatkan waktu untuk merajut, membaca buku, menulis catatan harian, memotret, menggambar sketsa, menyelesaikan puzzle, mengisi sudoku atau teka-teki silang hingga mendengarkan lagu analog dari kaset lama melalui walkman.
Dengan tas analog, seseorang dapat menghabiskan waktu dengan lebih produktif dan nyaman. Tren tas analog ini mendorong orang-orang untuk membawa benda-benda luar jaringan sebagai pengalihan atau substitusi bermain smartphone.
Untuk menjalani rutinitas gaya hidup analog sebagai upaya mengalihkan kejenuhan digital (digital fatigue), menekan kebiasaan buruk scrolling, tas analog dapat menjadi jembatan untuk menerapkan filosofi ikigai sebagai penyeimbang antara diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Manfaat Analogue Bag untuk Hidup Lebih Bermutu
Dengan uraian di atas, maka tas analog merupakan salah satu media yang bermanfaat untuk penyimpanan bagi barang-barang analog untuk memudahkan pemiliknya melakukan aktivitas tren gaya hidup analog dalam mendukung dan menempatkan arah dan tujuan menyeimbangkan aktitivitas agar pencapaian mutu hidupnya tak lagi dibelokan oleh pengaruh dunia digital terutama media sosial.
Sebab mutu kehidupan seseorang ternyata bisa ditentukan oleh jenis tas yang dibawanya dalam aktivitas sehari-hari. Tas analog mampu berperan sebagai substitusi yang dapat menyibukkan tiap orang dengan aktivitas sederhana namun produktif—mengingatkan setiap orang agar dapat tenang sesaat sambil mengasah kreativitas dan memecah kebosanan.
Tas analog juga bermanfaat sebagai alat bantu (media) dalam mengontrol setiap orang dalam menjalankan tren gaya hidup analog dan mengembangkannya untuk menyeimbangkan aktivitas kehidupan diri sendiri terkait dengan tujuan, misi, pekerjaan dan profesi terhadap lingkungan hingga pada akhirnya bermanfaat bagi tiap orang untuk mendapatkan hidup lebih bermutu.











