JAKARTA,
Nilai tukar rupiah mengalami penurunan yang signifikan terhadap dolar AS pada hari Selasa (20/1/2026), mencapai rekor terendah sepanjang sejarah. Meskipun indeks dollar AS mengalami pelemahan, rupiah tetap terpuruk akibat berbagai faktor yang memengaruhi sentimen pasar.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi Bank Indonesia (BI). Hal ini dipicu oleh pilihan Presiden Prabowo Subianto yang menunjuk keponakannya, Thomas Djiwandono, sebagai salah satu kandidat untuk jabatan senior di BI. Kekhawatiran ini muncul karena adanya dugaan bahwa intervensi politik dapat memengaruhi kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi.
Sepanjang bulan Januari 2026, rupiah telah melemah hampir 2 persen terhadap dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang Asia berkembang dengan kinerja terburuk. Pada awal tahun ini, rupiah juga terdepresiasi sebesar 3,5 persen sepanjang 2025. Level terendah intraday pada Selasa adalah Rp 16.985 per dollar AS, yang menjadi rekor baru bagi rupiah.
Mengapa Rupiah Melemah?
Secara historis, rupiah sangat sensitif terhadap sentimen pasar global. Namun, dalam setahun terakhir, faktor domestik juga turut berperan besar dalam menentukan arah nilai tukar. Salah satu faktor utama adalah defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92 persen dari PDB, yang merupakan defisit terlebar dalam dua dekade terakhir, kecuali pada masa pandemi Covid-19.
Defisit ini memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal di Indonesia, negara ekonomi terbesar Asia Tenggara. Kepercayaan investor mulai goyah, sehingga menyebabkan arus keluar modal dari pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke 6,33 persen pada Selasa, level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Selain itu, permintaan dolar untuk impor menjelang bulan puasa Ramadan juga turut memberi tekanan terhadap rupiah. Bulan puasa akan dimulai pada pekan ketiga Februari, sehingga meningkatkan permintaan dolar untuk kebutuhan impor.
Mengapa Defisit Anggaran Menjadi Perhatian?
Meskipun defisit APBN Indonesia 2025 tergolong rendah dibandingkan banyak negara lain, batasan defisit tahunan dan rasio utang publik masing-masing sebesar 3 persen dan 60 persen dari PDB menjadi fondasi kepercayaan investor sejak krisis keuangan Asia akhir 1990-an.
Sejak sebelum Prabowo resmi menjabat pada Oktober 2024, investor dan analis berspekulasi apakah ia akan mengubah aturan tersebut untuk memberi ruang bagi program kesejahteraan yang mahal, seperti program makan gratis senilai 20 miliar dollar AS serta peningkatan belanja pertahanan.
Pada tahun lalu, investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar 6,4 miliar dollar AS pada obligasi pemerintah Indonesia, dengan aksi jual terbesar terjadi pada September 2025 ketika Prabowo secara mendadak mencopot Menteri Keuangan lama Sri Mulyani Indrawati.
Kekhawatiran Terkait Independensi Bank Sentral
Kekhawatiran terhadap independensi BI juga meningkat pada September setelah bank sentral menyatakan akan membantu pendanaan sejumlah program Prabowo melalui skema “burden sharing” dengan Kementerian Keuangan. Parlemen juga tengah membahas rancangan undang-undang yang memuat ketentuan untuk memperkuat peran BI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah dan pejabat BI berulang kali membantah adanya intervensi terhadap kebijakan BI. Setelah pencalonan Djiwandono, Purbaya kembali menegaskan bahwa BI akan tetap independen dan tidak akan mendanai program pemerintah.
Sejak 2024, BI berada dalam siklus pelonggaran moneter, dengan memangkas suku bunga total 150 basis poin guna mendorong pertumbuhan ekonomi. BI diperkirakan akan menahan suku bunga pada Rabu untuk membatasi tekanan lanjutan terhadap rupiah.
Ke Mana Arah Rupiah?
Sejumlah analis menilai rupiah masih berpotensi berada di bawah tekanan tahun ini, menghadapi hambatan jangka pendek dari permintaan dolar musiman untuk impor serta pembayaran dividen. Namun, dukungan dapat datang dari komitmen BI untuk terus melakukan intervensi di pasar guna menjaga stabilitas rupiah.
Cadangan devisa BI tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS pada akhir 2025, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Angka ini berpotensi meningkat seiring rencana pemerintah memperketat aturan penempatan devisa hasil ekspor. Menteri Keuangan menyatakan rupiah akan menguat ke depan, sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat.
Dampak Bagi Perekonomian Indonesia
Sejauh ini, pelemahan rupiah berdampak terbatas terhadap inflasi, yang sejak pertengahan 2023 tetap berada di dalam, bahkan di bawah, target bank sentral. Namun, pelemahan berkelanjutan dapat memukul sektor-sektor yang sangat bergantung pada impor bahan baku, seperti farmasi, kosmetik, dan baja.
Data BI menunjukkan sektor manufaktur, keuangan, listrik dan gas, serta pertambangan memiliki utang luar negeri terbesar di sektor swasta. Purbaya mengatakan dampak ekonomi dari depresiasi rupiah sejauh ini masih “minimal”. Biasanya, pelemahan rupiah juga berarti beban subsidi BBM yang lebih besar serta meningkatnya biaya pembayaran utang luar negeri, yang pada akhirnya dapat kembali menekan defisit anggaran.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











