Profesi Guru Honorer, Cita-cita dan Amanat Orang Tua
Menjadi guru honorer bukan sekadar pilihan pekerjaan bagi Ahmad Falih Al Hafid (24). Bagi pemuda yang kini mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 6 Sragen, Jawa Tengah, profesi tersebut merupakan perwujudan cita-cita sekaligus amanat orang tua, meski harus dijalani dengan penghasilan yang jauh dari kata layak.
Falih mulai mengajar di MIN 6 Sragen sejak Juli 2025. Masa kerjanya baru berjalan satu semester. Dalam surat keputusan (SK), statusnya tercatat sebagai guru ekstra. Namun, menurut Falih, dari sisi tugas dan tanggung jawab, pekerjaannya tak berbeda dengan guru honorer lainnya. Status guru ekstra itu muncul karena namanya belum tercantum dalam Sistem Informasi Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan (SIMPATIKA) yang hingga kini belum dibuka. “Sebenarnya ya guru honorer. Cuma di SK tertulis guru ekstra karena SIMPATIKA belum dibuka. Katanya nanti kalau sudah dibuka, data saya akan dimasukkan,” ujar Falih saat diwawancarai, Kamis (22/1/2026).
Honor Rp 500.000 Per Bulan
Sebelum mengajar di madrasah negeri, Falih sudah lebih dulu menekuni dunia pendidikan di sekolah swasta, bahkan sejak sebelum lulus kuliah. Ia memilih bertahan di jalur pendidikan karena ingin ilmu yang dipelajarinya tidak sia-sia. Selain itu, pengalaman mengajar ia anggap penting sebagai bekal jika kelak mengikuti seleksi calon aparatur sipil negara (ASN) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Kalau saya kerja di tempat lain, ilmu yang saya dapat bisa tidak terpakai. Apalagi kalau nanti ada tes CPNS atau PPPK yang mempertimbangkan pengalaman kerja, pasti akan lebih berat,” ujarnya. Namun, idealisme itu harus berhadapan dengan realitas ekonomi. Saat ini, Falih hanya menerima honor sekitar Rp 500.000 per bulan. Ia mendengar kabar nominal tersebut akan naik, meski belum mengetahui kepastiannya. Dengan penghasilan tersebut, Falih mengaku belum mampu mencukupi kebutuhan hidup secara mandiri.
“Kalau ditanya cukup atau tidak, ya jelas tidak. Banyak kebutuhan. Apalagi saya laki-laki, dengan pendapatan segitu untuk melangkah lebih jauh juga masih ragu,” ucapnya.
Beternak Ayam dan Kambing demi Bertahan
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Falih memilih bekerja sampingan. Di luar jam mengajar, ia beternak ayam dan kambing. Penghasilan dari usaha ternak inilah yang menjadi penopang utama kehidupannya. Tanpa pekerjaan tambahan tersebut, ia mengaku akan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Menurut Falih, beban kerja guru honorer tidak sebanding dengan honor yang diterima. Selain mengajar, ia harus menghadapi puluhan hingga ratusan siswa dengan karakter yang beragam, yang menuntut tenaga, kesabaran, dan kesiapan mental. “Kalau dilihat dari cara kerjanya, tenaga yang dikeluarkan, tuntutan saat bekerja, apalagi menghadapi banyak siswa dengan karakter berbeda, itu menurut saya masih belum layak,” katanya.
Keinginan Kuat Menjadi Guru dan Harapan Ibu
Falih mengaku sempat terpikir untuk berpindah pekerjaan, terutama ketika melihat peluang kerja lain dengan penghasilan lebih tinggi. Namun, niat itu kembali ia urungkan. Selain karena keinginannya sendiri menjadi guru, ia juga merasa terikat dengan harapan ibunya. “Sebenarnya niatan untuk pindah kerja itu ada, apalagi kalau diiming-imingi gaji lebih tinggi. Tapi karena keinginan ibu juga, mau tidak mau saya tetap ambil jalan ini,” ujarnya.
Kondisi ekonomi yang belum stabil juga memengaruhi rencana hidup Falih. Ia mengaku belum berani memikirkan pernikahan. Dengan penghasilan yang sebagian besar masih bergantung pada pekerjaan sampingan, ia memilih menunda berkeluarga. “Untuk sekarang saya belum menikah. Ini juga jadi faktor memperlambat untuk berkeluarga karena pemasukan belum stabil dan belum cukup,” katanya.
Harapan pada Jalur PPPK dan CPNS
Ke depan, Falih berencana mengembangkan usaha ternaknya agar bisa menjadi penopang ekonomi yang lebih kuat. Di sisi lain, ia tetap menyimpan harapan untuk bisa diangkat menjadi ASN melalui jalur PPPK atau CPNS. Namun, harapan itu ia nilai semakin berat. Menurutnya, jumlah formasi PPPK tidak sebanding dengan jumlah lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) prajabatan yang terus bertambah setiap tahun.
“Setiap tahun PPG prajabatan dibuka beberapa gelombang, artinya lulusan makin banyak. Tapi formasi PPPK atau CPNS yang dibuka justru semakin sedikit,” ujarnya. Ia mencontohkan pengalamannya saat mengikuti PPG prajabatan di Blora. Dari sekitar 800 pendaftar, awalnya tersedia 130 formasi. Namun, menjelang pelaksanaan tes, jumlah itu terus menyusut hingga tersisa sekitar 50-an.
Kondisi tersebut menempatkan guru honorer muda seperti Falih dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, mereka dituntut mengabdi dan menjaga kualitas pendidikan. Di sisi lain, kesejahteraan yang diterima belum mampu menjamin kehidupan yang layak. Meski demikian, Falih memilih bertahan. Ia terus mengajar, beternak, dan menunggu peluang untuk mendapatkan pekerjaan sebagai guru dengan penghasilan yang lebih manusiawi.
“Ke depan saya ingin tetap mengajar, tapi juga memperbesar usaha ternak supaya ekonomi bisa lebih kuat,” jelasnya.











