Gubernur Jambi Memutuskan Mutasi dan Tes Kejiwaan untuk Guru SMK yang Dikeroyok Siswa
Gubernur Jambi Al Haris menunjukkan perhatian serius terhadap kasus pengeroyokan yang dialami Agus Saputra, seorang guru SMK di Jambi. Insiden tersebut berawal dari konflik antara guru dan siswa, yang akhirnya memicu tindakan keras dari pihak siswa. Menanggapi kejadian ini, Gubernur Al Haris mengambil langkah tegas dengan memutuskan mutasi Agus Saputra dari sekolah asalnya serta meminta ia menjalani tes kejiwaan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya meredam potensi konflik yang mungkin terulang jika Agus tetap berada di lingkungan yang sama. “Yang pasti guru itu kita pindahkan dari situ. Enggak mungkin dia tetap di situ, mesti harus dipindah,” tegas Gubernur Al Haris dalam pernyataannya. Ia menegaskan bahwa keputusan ini tidak bisa ditawar lagi.
Selain mutasi, Gubernur juga memerintahkan Dinas Pendidikan untuk melakukan assessment kejiwaan terhadap Agus Saputra. Hasil dari pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar penentuan apakah ia masih layak menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik. Jika dinyatakan tidak layak, maka ia akan dipindahkan ke jabatan non-guru, seperti staf biasa.
Dugaan Penghinaan Terhadap Orang Tua Murid Jadi Pemicu
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan penghinaan terhadap orang tua murid disebut menjadi salah satu pemicu terjadinya pengeroyokan. Salah satu ayah siswi yang diduga dihina diketahui bekerja sebagai tukang kebun di sekolah tempat anaknya belajar. Hal ini memicu ketegangan antara Agus dan para siswanya.
Sebelum insiden pengeroyokan terjadi, beberapa peristiwa lain turut memperburuk situasi. Seorang guru menyebutkan bahwa Agus sempat tersinggung karena pintu kelas tertutup saat ia hendak mengajar. Akibatnya, lima hingga tujuh siswa diminta untuk membuat pernyataan maaf. Pernyataan tersebut dinilai cukup sulit, karena para siswa harus membuat video bersama orang tua dan menulis surat pernyataan maaf di atas materai.
Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, dua siswi tampak menangis. Salah satunya menangis karena Agus disebut membawa-bawa pekerjaan ayah siswi tersebut. Keesokan harinya, ayah siswi yang menangis datang ke sekolah, namun ia tidak langsung dipertemukan dengan Agus.
Kesaksian Siswa Mengenai Peristiwa Awal
Seorang siswa bernama Jm mengungkapkan bahwa kejadian bermula saat Agus marah karena pintu kelas tertutup. Ia menyebut bahwa Ag yang menutup pintu, tetapi dirinya yang menyuruhnya. Agus kemudian menyentuh latar belakang orang tua Ag yang bekerja sebagai petugas kebersihan dan tukang kebun sekolah. Pembicaraan bahkan melibatkan soal gaji dan dana komite.
Setelah mereka keluar dari kelas, Ag menangis di kantin. Keesokan harinya, Jm menceritakan kejadian lain. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, seorang siswa berteriak di dalam kelas. Agus yang melintas merasa tersinggung dan masuk ke kelas. Salah satu siswa, MLF, mengaku dan ditampar. Ia membenarkan kejadian tersebut dalam wawancara video yang diperoleh Tribun Jambi.
Guru dan Siswa Saling Lapor
Pasca kejadian, baik pihak guru maupun siswa menempuh jalur hukum. Siswa berinisial LF datang ke Polda Jambi pada Senin (19/1/2026) malam didampingi keluarga dan kuasa hukumnya. Mereka melaporkan kasus tersebut ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Kuasa hukum LF, Dian Burlian, menyatakan bahwa laporan dibuat karena adiknya merasa dirugikan secara mental dan psikis.
Agus Saputra juga melaporkan kasus pengeroyokan tersebut ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026). Ia datang didampingi kakaknya dan menjalani proses pembuatan laporan selama hampir empat jam. Kakak kandung Agus, Nasir, menyebut bahwa adiknya telah menjalani visum dan ada bekas lebam.
Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Pol Erlan Munaji, menyatakan bahwa pihaknya tengah menyelidiki laporan tersebut. “Kita akan tindak lanjuti pelaporan tersebut, sesuai aturan yang berlaku,” kata Erlan. Ia juga menambahkan bahwa kepolisian telah memberikan edukasi kepada pihak-pihak terkait.











