"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Sampah dan Kekurangan Imajinasi Pemerintah Kota

Peran Pemeratif dalam Pengelolaan Sampah



Oleh:

Muhtadi, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Di tengah kota yang seharusnya menjadi ruang publik yang bersih dan nyaman, keadaan justru berbeda. Warga sering kali mengeluhkan adanya gunungan sampah yang mengular di pinggir jalan, terutama di pasar-pasar di kota-kota perbatasan ibukota. Pemandangan ini sangat ironis karena kota seharusnya menjadi tempat yang tertib dan indah. Namun, realitasnya justru menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak berjalan dengan baik.

Sampah yang berserakan tidak hanya merusak keindahan kota, tetapi juga menyebabkan polusi udara dan bau menyengat. Hal ini membuat kenyamanan kota menjadi terganggu. Banyak warganet di ruang digital mengkritik kemampuan pemerintah dalam mengelola sampah. Sayangnya, respons pemerintah sering kali terdengar normatif, seperti alasan TPA yang bermasalah atau armada yang terbatas. Alasan-alasan ini justru menegaskan satu hal—adanya ketiadaan peta jalan dan minimnya imajinasi kebijakan.

Masalah sampah bukan sekadar soal teknis, melainkan soal kreativitas dan visi. Ketika pemerintah kota kehilangan daya imajinasi, penyelesaian sampah pun menjadi sporadis, reaktif, dan jangka pendek. Pemerintah tampak kebingungan saat sampah menumpuk, lalu tergagap ketika protes warga ramai di media sosial. Solusi yang ditawarkan sering kali bersifat sementara, tanpa menyentuh akar persoalan.

Pemerintah kota sebagai pelayan masyarakat harus memiliki imajinasi yang kreatif dan inovatif. Kota yang bersih dan indah adalah indikator nyata hadirnya imajinasi itu. Banyak kota besar dunia mampu menata ruang publik secara cermat dan presisi—bahkan tempat sampah pun dipendam agar tidak mengganggu estetika dan ketertiban kota. Mengapa hal serupa terasa mustahil dilakukan?

Pemerintah perlu memiliki keluasan imajinasi kreatif dan inovatif dalam mengelola kotanya. Karena masalah memang hadir bersama kehadiran sebuah kota, mulai dari kepadatan penduduk, kebisingan, hingga sampah baik dari aktivitas ekonomi maupun rumah tangga. Pemerintah dituntut memiliki pengetahuan, komitmen, dan konsisten dalam implementasinya dalam merawat kota agar tetap menjadi ruang publik yang nyaman bagi warganya tersebut.

Dalam konteks pengelolaan sampah, setidaknya ada empat langkah strategis yang perlu ditempuh:

  • Memperbanyak dan mengaktifkan bank sampah hingga tingkat rukun tetangga

    Bank sampah bukan sekadar tempat menabung sampah, tetapi ruang edukasi warga untuk memilah sampah sejak dari rumah. Sampah basah dapat diolah melalui biopori, sementara sampah anorganik didaur ulang menjadi bernilai ekonomi oleh warga yang diberdayakan.

  • Pemerintah kota perlu hadir melalui penganggaran dan regulasi yang berpihak

    Lapak-lapak pembeli sampah perlu didukung agar usaha mereka berkelanjutan, misalnya melalui insentif pajak atau kemudahan perizinan. Regulasi yang jelas akan memperkuat ekosistem ekonomi sirkular berbasis sampah.

  • Pemerintah kota harus berani berinvestasi pada teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan

    Ketergantungan pada TPA semata terbukti menyimpan banyak masalah: keterbatasan daya tampung, pencemaran, bau tak sedap, hingga gangguan kesehatan warga sekitar.

  • Yang paling mendasar, pemerintah kota harus memiliki perencanaan dan peta jalan pengelolaan sampah yang berkelanjutan

    Peta jalan ini perlu disosialisasikan secara luas agar tumbuh partisipasi masyarakat. Tanpa keterlibatan warga, pengelolaan sampah yang berkelanjutan hanya akan menjadi jargon kebijakan.

Keempat langkah tersebut menuntut kesiapan sejak awal: rencana yang matang, tim yang kompeten, serta evaluasi dan refleksi yang berkelanjutan. Lebih dari itu, dibutuhkan komitmen politik yang kuat untuk konsisten menjalankan peta jalan melalui dukungan regulasi, pendanaan, dan sumber daya manusia.

Pemerintah kota berada di garda terdepan untuk memimpin perubahan ini. Sudah saatnya mereka keluar dari keterbatasan imajinasi dan beralih menuju surplus kreativitas dalam mengelola kotanya. Dengan imajinasi yang hidup dan kebijakan yang inovatif, sampah bukan lagi beban, melainkan peluang ekonomi yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi warga kota. Dan kota pun dapat kembali menjadi ruang publik yang bersih, nyaman, dan lestari.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *