"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Catatan Orang Tua Siswa Soal MBG Selama Ramadan: Kualitas dan Kebutuhan Audit

Penyesuaian MBG Selama Ramadan: Kritik dan Harapan Orang Tua

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama bulan Ramadan 2026 kembali menjadi perhatian orang tua. Meskipun secara umum disambut positif, sejumlah catatan penting disampaikan oleh para orang tua terkait aspek gizi, penyimpanan, dan kenyamanan anak dalam menjalankan puasa.

Aspek Gizi dan Kualitas

Salah satu isu utama yang muncul adalah mengenai kualitas dan keamanan pangan dari makanan kemasan yang akan diberikan kepada siswa. Oktaviana, seorang ibu rumah tangga, menyatakan bahwa meski mendukung program tersebut, ia menilai pengawasan kualitas harus lebih ketat. “Makanan kemasan memang lebih tahan lama, tetapi justru di situ tantangannya, apakah penyimpanannya di sekolah sudah sesuai standar? Apakah suhu ruangan memadai? Jangan sampai niat baik memberi makanan bergizi justru berisiko pada keamanan pangan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti aspek kenyamanan anak selama berpuasa. Menurut Oktaviana, pembagian makanan pada siang hari berpotensi menjadi distraksi bagi siswa yang sedang menahan lapar dan dahaga. “Mungkin bisa dipertimbangkan pembagian menjelang pulang sekolah agar lebih efektif,” tambahnya.

Transparansi dan Akuntabilitas

Selain itu, Wulansari, seorang ibu asal Bantul, menegaskan perlunya transparansi anggaran dan audit khusus selama Ramadan. Ia mengkhawatirkan adanya konsekuensi biaya akibat perubahan bentuk distribusi makanan. “Terus terang saya mendukung niat baiknya, tetapi harapannya ada transparansi anggaran. Mengubah makanan siap santap menjadi kemasan sehat tentu ada konsekuensi biaya—baik dari sisi pengemasan, distribusi, maupun pengawasan kualitas. Apakah anggarannya tetap efisien? Apakah ada audit khusus selama Ramadan?” ujar Wulansari.

Ia juga mengusulkan agar proses monitoring tidak hanya dilakukan secara internal oleh dinas, melainkan melibatkan komite sekolah atau perwakilan orang tua. “Saya juga menilai monitoring harus melibatkan komite sekolah atau perwakilan orang tua. Jangan hanya mengandalkan laporan internal. Kalau memang ada laporan dari lapangan, sebaiknya dipublikasikan secara terbuka agar masyarakat tahu sejauh mana program ini berjalan efektif,” katanya.

Penyesuaian Teknis dan Pemantauan

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY telah memastikan bahwa program MBG tetap berjalan selama Ramadan 1447 Hijriah. Mengacu pada Surat Edaran (SE) Nomor 3 Tahun 2026 yang diterbitkan Badan Gizi Nasional (BGN), menu MBG siap santap dialihkan menjadi makanan kemasan sehat yang memiliki masa simpan lebih lama.

Kepala Disdikpora DIY, Suhirman, menegaskan bahwa skenario penyaluran MBG selama bulan puasa tidak akan ditiadakan, melainkan mengalami penyesuaian teknis di lapangan. “Skenario yang kemarin tetap ada dari SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi). Itu biasanya nanti akan ada koordinasi antara pihak sekolah dengan SPPG. Ada, tetap diberikan,” ujarnya.

Terkait pengawasan kualitas gizi dan higienitas, Suhirman menegaskan pihaknya terus melakukan pemantauan intensif di lapangan untuk memastikan setiap paket yang diterima siswa memenuhi standar yang ditetapkan. “Kami memantau ke sekolah-sekolah. Ada beberapa laporan dan teman-teman kami juga melakukan monitoring ke sekolah. Bahkan kemarin ada permintaan, misalnya untuk kegiatan buka puasa bersama, apakah bisa (menggunakan MBG)?” jelasnya.

Pengaturan Waktu dan Keberagaman

Selain itu, Disdikpora DIY juga menaruh perhatian pada sekolah-sekolah dengan populasi siswa nonmuslim. Penyaluran MBG di sekolah tersebut akan didasarkan pada pendataan kebutuhan riil di lapangan guna menghormati keberagaman dan toleransi antarumat beragama.

Suhirman menekankan pentingnya pendataan oleh pihak sekolah agar distribusi tetap sasaran dan tidak mengganggu kekhusyukan siswa yang sedang berpuasa. “Ya, nanti didata. Apakah siswanya meminta untuk langsung dimakan di situ, atau bisa disamakan dengan kebijakan dari sekolah muslim untuk menghormati yang berpuasa. Nanti didata sesuai keinginan dari sekolah. Tapi kalau kami, inginnya ya tetap saling menghormati teman-teman yang sedang berpuasa di sekolah,” katanya.

Mengenai waktu pendistribusian, makanan kemasan tersebut direncanakan tetap diserahkan kepada siswa pada siang hari atau saat jam operasional sekolah berlangsung. Hal ini dilakukan agar siswa dapat membawa pulang paket tersebut atau menyimpannya untuk dikonsumsi saat waktu berbuka. “”

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *