"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

IRGC Kuasai Hizbullah, Iran Siap Perang Lawan AS dan Israel

Pengambilalihan Kepemimpinan Hizbullah oleh IRGC

Laporan terbaru menyebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengambil alih komando operasional Hizbullah di Lebanon. Langkah ini dilakukan sebagai persiapan untuk melancarkan perang total melawan Israel jika AS memutuskan untuk menyerang wilayah Iran. Peralihan kendali ini merupakan respons langsung terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump yang semakin gencar menyuarakan opsi militer terhadap program nuklir Teheran.

Kabar ini datang dari sumber intelijen yang menyebutkan bahwa IRGC tidak lagi hanya menjadi penyokong dana atau penasihat militer, tetapi sudah berada pada tingkat kendali komando dan kontrol langsung terhadap milisi Syiah tersebut. Dengan demikian, Iran memastikan bahwa respons militer dari Lebanon akan terkoordinasi secara ketat dengan unit-unit militer Iran lainnya di kawasan tersebut.

Strategi Iran dalam Menghadapi Ancaman Militer

Intelijen menyebutkan bahwa Iran telah memposisikan Hizbullah sebagai “benteng pertahanan terdepan”. Jika fasilitas nuklir atau infrastruktur vital Iran dihantam oleh rudal Amerika, IRGC akan memerintahkan Hizbullah untuk segera menghujani wilayah Israel dengan ribuan roket dan rudal presisi. Strategi ini dirancang untuk menciptakan tekanan balik bagi Washington melalui ancaman terhadap sekutu terdekatnya, Israel.

Berdasarkan data lapangan, IRGC dilaporkan telah meningkatkan pengiriman senjata canggih melalui koridor darat Suriah menuju Lebanon. Senjata-senjata tersebut meliputi sistem pertahanan udara modern, pesawat tanpa awak (drone) bunuh diri, dan rudal jarak jauh yang mampu menjangkau pusat populasi serta instalasi energi di Israel. Selain perangkat keras, laporan tersebut juga mengindikasikan kehadiran sejumlah besar perwira senior Pasukan Quds — unit elit IRGC untuk operasi luar negeri — di wilayah Lebanon Selatan dan Lembah Bekaa.

Kesiapan Militer Hizbullah

Mereka bekerja sama dengan komandan lapangan Hizbullah untuk memperbarui doktrin tempur dan memastikan kesiapan tempur berada pada level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Bagi Israel, perkembangan ini merupakan ancaman eksistensial. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan telah meningkatkan status kewaspadaan di sepanjang perbatasan utara.

Para pejabat militer Israel memperingatkan bahwa perang di masa depan tidak akan terbatas pada pertempuran gerilya, melainkan konflik skala penuh yang melibatkan serangan udara masif dan potensi invasi darat di kedua belah pihak.

Dinamika Politik di Lebanon

Di sisi lain, pengambilalihan kendali Hizbullah oleh IRGC ini juga menimbulkan dinamika politik di dalam negeri Lebanon. Para pengamat politik menilai langkah Iran tersebut semakin mengikis kedaulatan Lebanon dan menyeret negara yang sedang dilanda krisis ekonomi tersebut ke dalam pusaran konflik yang bukan miliknya.

Diplomasi Nuklir di Ujung Tanduk

Iran dan AS dengan cepat menuju konflik militer seiring memudarnya harapan akan solusi diplomatik untuk kebuntuan mereka terkait program nuklir Teheran. Pemerintah Israel meyakini Teheran dan Washington berada dalam kebuntuan dan sedang mempersiapkan kemungkinan aksi militer gabungan dengan AS, meskipun belum ada keputusan yang dibuat mengenai apakah akan melakukan operasi tersebut.

Ini akan menjadi kali kedua AS dan Israel menyerang Iran dalam waktu kurang dari setahun, menyusul serangan udara AS dan Israel terhadap fasilitas militer dan nuklir pada Juni lalu. Para pejabat regional mengatakan negara-negara Teluk sedang bersiap menghadapi kemungkinan konfrontasi militer yang mereka khawatirkan dapat lepas kendali dan mendestabilisasi Timur Tengah.

Perkembangan Terkini

Dua pejabat Israel mengatakan kepada Reuters bahwa mereka percaya jurang pemisah antara Washington dan Teheran tidak dapat dijembatani dan kemungkinan eskalasi militer dalam waktu dekat sangat tinggi. “Kedua belah pihak tetap berpegang teguh pada pendirian mereka,” kata Alan Eyre, mantan diplomat AS dan spesialis Iran.

Eyre menambahkan bahwa tidak ada hal berarti yang dapat muncul “kecuali AS dan Iran mundur dari garis merah mereka”. “Yang tidak bisa dilakukan Trump adalah mengumpulkan semua militer ini, lalu kembali dengan kesepakatan yang ‘biasa-biasa saja’ dan menarik kembali militer.” “Saya pikir dia khawatir akan kehilangan muka. Jika dia menyerang, situasinya akan cepat memburuk,” pungkasnya.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *