"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Opini  

Pandangan: Mengungkap Kekuatan Manusia

Ramadan, Bulan Pembersihan Jiwa

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah bagi umat Muslim di seluruh dunia. Di tengah gempuran arus modernisasi yang terus mengikis nilai spiritual dan moralitas manusia, momentum ini menjadi kesempatan terbaik untuk menaikan kualitas ibadah spiritual sekaligus merefleksikan diri tentang posisi kehambaan dan kekhalifaan kita sebagai manusia di hadapan Sang Ilahi.

Modernitas sering kali dianggap sebagai kemajuan peradaban. Teknologi berkembang pesat, akses informasi semakin luas, dan kehidupan manusia tampak lebih mudah dibanding masa lalu. Dunia bergerak cepat, batas geografis seolah lenyap, dan manusia hidup dalam kenyamanan yang sebelumnya tak terbayangkan. Namun di balik kemudahan tersebut, tersembunyi paradoks yang kompleks: kemudahan akses dan kelimpahan materi justru dilumuri dengan rutinitas yang kosong tanpa makna.

Erich Fromm membaca gejala ini sebagai krisis eksistensial. Dalam bukunya To Have or To Be, ia menegaskan bahwa manusia modern semakin terjebak dalam modus having—dorongan untuk memiliki—ketimbang modus being—kesadaran untuk menjadi. Nilai diri diukur melalui kepemilikan, sehingga manusia mengalami dehumanisasi. Makna hidup direduksi hingga manusia diukur dari simbol-simbol material yang melekat pada dirinya.

Manusia saling berburu pengakuan, terus mengejar, membandingkan, dan mencari validasi. Secara tak sadar, ego menuntun mereka pada fenomena yang disebut oleh Sayyed Hosein Nasr: manusia telah bergerak keluar dari pusat eksistensi menuju eksistensi pinggiran. Akibatnya, manusia terasing oleh dirinya sendiri. Ia teralienasi ketika nafsu menjadi pusat, materi menjadi orientasi, dan nilai spiritual perlahan terkikis.

Ramadan, Bulan Pembakaran Dosa

Kata “Ramadan” berasal dari kata ar-ramdhu, yang bermakna teriknya sinar matahari (keadaan yang sangat panas). Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab Shafwat al-Tafasir menjelaskan bahwa secara maknawi, Ramadan adalah bulan membakar semua dosa-dosa dan membumi hanguskan sifat-sifat angkara murka yang bertahta di dalam diri dengan amaliah puasa dan amal saleh lainnya. Di bulan ini, semua amal baik akan dilipatgandakan pahalanya.

Ramadan menawarkan kita mekanisme pendidikan batin untuk melakukan gerak back to basic, kembali pada diri yang suci (fitrah), yakni puasa (al-shaum/as-shiyam). Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat menjelaskan bahwa secara etimologis, shaum berarti mutlak menahan, sedangkan secara syariat, menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya—seperti makan, minum, dan berhubungan badan—mulai dari waktu subuh hingga waktu maghrib dengan disertai niat.

Tujuan dari perintah puasa adalah agar kita bertakwa. Seperti dalam firman Allah SWT: “Diwajibkan atas kamu berpuasa … agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:183). Secara syariat, puasa adalah menahan diri dari kebutuhan biologis. Secara hakikat, puasa mendidik kita untuk menahan diri dari segala bentuk perbuatan buruk, mengendalikan nafsu, dan mendekatkan diri kepada Ilahi, sang Sangkan paran dumadi.

Puasa sebagai Madrasah Ruhaniah

Puasa adalah madrasah ruhaniah untuk penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Inti dari ibadah puasa bukan sekadar tindakan lahiriah, melainkan transformasi batin. Nafsu—yang dalam kerangka Al-Ghazali merupakan sumber dominasi hasrat dan ego—harus dididik, bukan dituruti. Puasa menjadi jalan disiplin diri yang menata ulang struktur batin manusia untuk menemukan kembali dirinya yang hanif.

Dengan demikian, puasa menjadi tirakat pembakaran keakuan (nafsu) yang menguasai diri, mematikan berhala dalam diri, dan memutus mata rantai penghambaan kepada selain Allah yang membelenggu diri manusia. Berpuasa di bulan Ramadan menjadi api kesadaran yang perlahan mengikis kerakusan, meredam egoisme, dan menenangkan hasrat yang tak pernah puas yang menjadi problem penyakit manusia modern.

Ramadan, Momentum Meruntuhkan Tirani “Aku”

Dunia kontemporer saat ini mengakibatkan manusia kehilangan orientasi transcendental, mendorong manusia terus merespons hasratnya. Puasa justru mengajarkan sebaliknya: kemampuan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan, memilih mengendalikan dibanding melampiaskan. Ia membangun kesadaran bahwa tidak semua yang diinginkan harus dipenuhi, tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan.

Dengan demikian, Ramadan adalah proyek meramadankan keakuan manusia. Ramadan sejatinya adalah momentum paling tepat untuk meruntuhkan tirani “aku” yang absolut. Menata ulang pusat kehidupan agar menjadi manusia merdeka, tak teralienasi. Ramadan menghadirkan kembali Tuhan dalam kesadaran manusia, menjadi manusia yang bertakwa.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *