Ultimatum Dedi Mulyadi: Siswa Baru Wajib Menandatangani Surat Perjanjian Soal Motor dan Knalpot
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan ultimatum kepada seluruh pelajar di wilayah kekuasaannya. Ia menegaskan bahwa siswa baru harus menandatangani surat perjanjian yang dibubuhi materai bersama orang tua mereka di hadapan Dinas Pendidikan Jabar. Aturan ini berkaitan dengan penggunaan kendaraan bermotor dan knalpot yang tidak sesuai standar.
Instruksi ini diberikan kepada Dinas Pendidikan Jabar agar lebih memperketat aturan bagi siswa baru. Setiap siswa baru dan orang tuanya wajib menandatangani surat pernyataan yang berisi beberapa poin penting:
- Tidak membawa kendaraan bermotor ke sekolah jika tersedia akses transportasi umum
- Tidak menggunakan knalpot brong
- Tidak merokok
- Tidak mengonsumsi minuman keras
Dedi menyatakan bahwa jika siswa melanggar aturan tersebut, ia bersedia mengundurkan diri dari sekolah tersebut. Keputusan ini disetujui oleh orang tua dan dilegalisasi oleh notaris.
Tujuan Membentuk Karakter Peserta Didik
Menurut Dedi, kebijakan tegas ini merupakan upaya untuk membentuk karakter peserta didik sejak dini. Ia menekankan bahwa esensi pendidikan tidak hanya terbatas pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan sikap dan budaya disiplin.
“Karena pendidikan itu untuk membentuk karakter. Nah, ini harus menjadi bagian,” ujarnya. Dedi menilai bahwa pendidikan yang baik harus mampu membentuk individu yang memiliki disiplin dan tanggung jawab.
Penegakan Hukum Lalu Lintas yang Lebih Tegas
Dedi juga mendorong penegakan hukum lalu lintas yang lebih tegas terhadap pelajar yang melanggar aturan, khususnya penggunaan knalpot tidak standar. Ia mengusulkan agar motor pelanggar ditahan hingga knalpot tersebut diganti sendiri oleh orang tua siswa sesuai standar pabrikan.
“Nanti ditebusnya itu ketika knalpotnya diganti, kemudian nanti orang tuanya datang membawa knalpot baru yang sesuai standarnya,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap ketertiban, Dedi berencana memberikan insentif atau bonus bagi Polisi Lalu Lintas yang konsisten menindak pelanggaran pelajar. Hal ini pernah ia terapkan saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
“Saya itu selalu memberikan bonus setiap Satlantas yang menilang anak-anak sekolah yang pakai knalpot brong,” katanya. Ia juga mengatakan bahwa jika diberi izin sesuai undang-undang, ia akan berkoordinasi dengan Kepala Samsat Kabupaten Kota untuk memberikan bonus pada satlantas yang menilang dan ditilangnya harus ditahan.
Keraguan Aparat dalam Penindakan
Dedi menilai kesemrawutan lalu lintas saat ini terjadi karena adanya keraguan aparat dalam melakukan penindakan. Ia menegaskan bahwa ketertiban lalu lintas adalah cermin dari tingkat peradaban sebuah wilayah.
“Kenapa lalu lintas itu mengalami problem hari ini? Karena apa? Karena satuan lalu lintas ragu melakukan tindakan,” ujarnya. Dedi menjelaskan bahwa keraguan dalam penindakan menyebabkan banyak pelanggaran seperti tidak menggunakan helm, knalpot brong, dan pelat nomor yang tidak sesuai.
Ia menekankan bahwa konsistensi dalam penindakan menjadi kunci utama untuk menciptakan ketertiban sekaligus membangun budaya disiplin di Jawa Barat.
“Keraguan ini akan mengakibatkan kesemrawutan di jalan. Kesemrawutan di jalan adalah cermin meningkatnya kriminalitas dan cermin sebuah wilayah yang tidak beradab,” ujarnya. Dedi menegaskan bahwa peradaban sebuah wilayah dinilai dari lalu lintasnya. Jika lalu lintasnya tertib, maka daerah itu adalah daerah beradab.











