Tiyo Ardianto: Dari Sekolah Alami ke Kritik Keras terhadap Program Pemerintah
Nama Tiyo Ardianto kini menjadi sorotan publik setelah melontarkan kritik tajam terhadap program pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG). Kekuasaan yang dipegang oleh pemerintahan baru membuatnya merasa perlu untuk menyuarakan kekhawatiran terhadap kebijakan yang dinilainya tidak berpihak pada rakyat.
Tiyo bukanlah mahasiswa dari jalur pendidikan konvensional. Ia adalah lulusan Paket C dari PKBM Omah Dongeng Marwah di Kudus sebelum menembus Universitas Gadjah Mada (UGM). Proses pendidikannya tidak mudah, dan ia sendiri mengungkapkan bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat kecil dengan latar belakang ekonomi yang tidak stabil. Ayah dan ibunya bekerja sebagai tenaga kerja biasa, tanpa memiliki kebanggaan material apa pun.
Latar Belakang yang Berbeda
Kesadaran akan kondisi keluarganya membuat orang tua Tiyo sangat waspada terhadap masa depan anaknya. Bagi Tiyo, sekolah bukanlah takdir, melainkan lahan untuk menanamkan nilai-nilai hidup yang lebih dalam. Beberapa bulan sebelum lulus SMP, ia memutuskan bahwa ijazah dan pendidikan formal tidak sepenuhnya menentukan arah hidup seseorang.
“Sekolah bagi saya seperti sepetak tanah yang siap ditanami padi: beberapa di antaranya mungkin lebih subur dan lebih luas, tetapi skill sebagai petani yang akan banyak menentukan,” ujarnya.
Tiga tahun setelah lulus SMP, Tiyo memilih pendidikan alternatif yang sering dianggap tidak resmi: sekolah alam di Omah Dongeng Marwah. Keputusan ini diambil setelah melalui proses panjang dan penuh pertimbangan. Ia mengaku bahwa keputusan itu diambil setelah menjalani sidang panjang dan akhirnya pasrah kepada Tuhan.
Kritik terhadap Pemerintah
Tiyo Ardianto juga mengirimkan surat kepada UNICEF untuk menyuarakan kegelisahannya terhadap dampak program MBG. Ia bahkan menyebut pemerintahan Prabowo-Gibran sebagai “Rezim yang Bodoh dan Inkompeten”. Kritiknya tidak hanya terbatas pada kebijakan tersebut, namun juga mencakup isu-isu yang lebih luas, seperti kemerosotan demokrasi, krisis politik, serta ancaman krisis ekonomi.
Menurut Tiyo, krisis politik saat ini hadir dalam bentuk apatisme publik yang semakin tinggi. Ia memberikan contoh tentang ketidakstabilan eksekutif antara Purbaya dengan Trenggono, yang menunjukkan bahwa koordinasi antar lembaga masih jauh dari harapan.
Bayang-Bayang Krisis Ekonomi
Ancaman terbesar menurut Tiyo adalah krisis ekonomi. Ia menyampaikan kekhawatiran terkait lonjakan utang negara yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya, penjelasan pemerintah bahwa utang diperlukan agar Indonesia tidak mengalami krisis seperti 1998 justru menjadi tanda bahaya.
Bagi Tiyo, jika negara terus berutang demi bertahan, maka krisis hanya sedang ditunda, bukan dihindari. Ia menilai bahwa utang negara dapat berdampak buruk pada masa depan rakyat, terutama dalam hal penganggaran pendidikan dan layanan publik lainnya.
MBG dan Kritik yang Tak Surut
Semua kekhawatiran itu bermuara pada kritik terhadap program MBG. Tiyo memlesetkan istilah “Makan Bergizi Gratis” menjadi “Maling Berkedok Gizi”, karena ia merasa bahwa program tersebut justru membebani keuangan negara yang bersumber dari pajak rakyat. Menurutnya, MBG bukan sekadar kebijakan, melainkan simbol salah arah prioritas negara.
Ia juga mengungkap bahwa dirinya menjadi target teror di media sosial, bahkan sampai menyasar ranah personal dan keluarganya. Namun, ia tetap teguh dalam menyuarakan pendapatnya, karena ia percaya bahwa suara rakyat harus didengar, meskipun terkadang sulit.











