Situasi Kapal Pertamina di Selat Hormuz dan Dampak Terhadap Pasokan Energi Nasional
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan terkait situasi dua kapal milik Pertamina yang sedang melintasi Selat Hormuz. Pemerintah saat ini sedang melakukan upaya diplomasi untuk memastikan keamanan dan kelancaran perjalanan kapal tersebut dari kawasan tersebut.
Penutupan Selat Hormuz terjadi akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Jalur ini merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia, karena sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melewati wilayah ini, yang mencakup hampir seperlima pasokan minyak global.
“Yang pertama adalah menyangkut dua kapal dari Selat Hormuz yang sekarang sedang kembali. Tadi juga sudah dibahas oleh Pertamina, kita lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta.
Bahlil menjelaskan bahwa rapat perdana Dewan Energi Nasional (DEN) yang dipimpinnya menghasilkan beberapa kebijakan strategis untuk menghadapi dinamika global yang berdampak pada stabilitas energi nasional. Rapat yang berlangsung selama sekitar dua jam membahas berbagai isu terkait pasokan dan harga energi.
Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Indonesia
Selat Hormuz menjadi jalur krusial bagi pasokan minyak dunia. Sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melewati jalur ini, yang berdampak signifikan terhadap stabilitas harga minyak global. Untuk Indonesia, ketergantungan terhadap pasokan minyak mentah melalui Selat Hormuz berkisar antara 20–25 persen dari total impor crude oil.
“Sekitar 20 sampai 25 persen impor crude kita lewat Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana,” ujar Bahlil. Ia menambahkan bahwa pasokan crude oil Indonesia berasal dari berbagai daerah seperti Afrika, termasuk Angola, serta Amerika Serikat dan Brasil.
Pemerintah telah menyiapkan skenario mitigasi jika ketegangan di Selat Hormuz berlangsung lama. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengalihkan 25 persen pembelian crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, guna menjaga kepastian pasokan.
Ketersediaan BBM dan LPG di Indonesia
Untuk produk bahan bakar minyak (BBM), Indonesia tidak bergantung sepenuhnya pada pasokan dari Timur Tengah. Impor bensin RON 90, 93, 95, dan 98 berasal dari kawasan lain seperti Asia Tenggara, dengan kontrak jangka panjang.
Sementara itu, impor LPG nasional mencapai 7,3 juta ton per tahun dan diperkirakan meningkat menjadi 7,8 juta ton pada tahun ini. Sekitar 70 persen pasokan berasal dari Amerika Serikat dan 30 persen dari Timur Tengah. Pemerintah juga menyiapkan opsi pengalihan tambahan untuk mengurangi risiko gangguan rantai pasok.
Perkembangan Harga Minyak Mentah
Lonjakan harga minyak mentah menjadi perhatian serius. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), asumsi Indonesian Crude Price (ICP) ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel. Saat ini, harga bergerak di kisaran 78–80 dolar AS per barel. Pemerintah terus menghitung dampaknya terhadap subsidi dan penerimaan negara, mengingat produksi nasional berada di sekitar 600 ribu barel per hari.
Tanggapan dari Praktisi Energi
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (AsperMigas), Elan Biantoro, menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz akan berdampak langsung terhadap ketahanan energi Indonesia. “Harga crude oil akan naik cukup signifikan karena 20–30 persen distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz,” ujarnya.
Menurut Elan, kondisi ini tidak menguntungkan bagi Indonesia yang masih defisit kebutuhan energi, baik crude oil maupun produk kilang seperti BBM dan LPG.
Praktisi migas sekaligus Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) periode 2025–2028, Hadi Ismoyo, menambahkan bahwa risiko gangguan Selat Hormuz sangat besar. “Kalau 20 persen suplai minyak dunia terhambat di Selat Hormuz, tentu harga akan naik signifikan,” katanya.
Ia menilai kenaikan harga minyak mentah menempatkan pemerintah pada posisi sulit. Pemerintah harus membeli energi dengan harga tinggi, namun tetap menjaga stabilitas harga dalam negeri melalui skema subsidi.
Dalam jangka pendek, pilihan kebijakan terbatas pada menambah ruang fiskal untuk subsidi atau melakukan penyesuaian harga BBM. Jika eskalasi konflik berlanjut, harga minyak dunia berpotensi mencapai 80–90 dolar AS per barel dan mendorong kenaikan harga BBM domestik sekitar 10–15 persen.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











