Kim Jong Un Memperkuat Kekuatan Militer Korut
Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, kembali memanaskan mesin perang negaranya dengan melakukan uji coba rudal jelajah strategis dan pameran kapal perusak baru. Tindakan ini meningkatkan ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, sekaligus memperkuat legitimasi rezim di dalam negeri. Situasi ini memicu kekhawatiran akan konflik militer dan pertanyaan serius tentang respons Presiden Donald Trump.
Dalam beberapa hari terakhir, Kim Jong Un secara mengejutkan memanaskan mesin perang Korea Utara dengan uji coba rudal jelajah strategis dan inspeksi kapal perusak kelas Choe Hyon. Kegiatan militer ini menunjukkan ambisi Pyongyang untuk memperkuat kemampuan angkatan laut, termasuk potensi persenjataan nuklir pada kapal permukaan dan kapal selam.
Korut menegaskan bahwa manuver militer AS dan sekutunya merupakan ancaman langsung yang memaksa mereka bersiap mengambil tindakan ofensif. Demonstrasi kekuatan ini juga dimaksudkan untuk memperkuat legitimasi Kim Jong Un di dalam negeri serta menegaskan posisi tawarnya dalam diplomasi internasional.
Situasi ini memunculkan sinyal bahaya nyata bagi AS, sekaligus menimbulkan kekhawatiran akan konflik militer dan ketidakstabilan regional. Seperti diketahui, Kim Jong Un memeriksa kapal perusak baru milik angkatan laut negaranya, sekaligus mengawasi uji peluncuran rudal jelajah strategis dalam rangkaian kegiatan militer yang berlangsung pekan ini.
Inspeksi tersebut dilakukan selama dua hari terhadap kapal perusak Choe Hyon berbobot 5.000 ton, menurut laporan South China Morning Post pada Kamis (5/3/2026). Media Pemerintah Korut KCNA melaporkan, Kim juga meninjau kemampuan operasional kapal perang tersebut setelah menyelesaikan pelayaran uji coba atau uji laut pertama pada Selasa (3/3/2026).
Menurut KCNA, Kim memuji kapal perang itu sebagai simbol baru kekuatan pertahanan laut Korea Utara. Ia juga menegaskan ambisi Pyongyang memperkuat kekuatan angkatan laut, termasuk dengan memperluas platform persenjataan nuklir pada kapal permukaan dan kapal selam.
“Kekuatan Angkatan Laut kita untuk menyerang dari bawah dan di atas air akan tumbuh pesat. Persenjataan Angkatan Laut dengan senjata nuklir menunjukkan kemajuan yang memuaskan,” kata Kim seperti dikutip KCNA.
Kim juga memperingatkan pihak luar agar tidak meremehkan peningkatan kekuatan militer Korea Utara. “Jika ada kekuatan yang meragukan penguatan kekuatan pertahanan kita, itu berarti mereka akan langsung menjadi musuh kita,” kata Kim seperti dikutip oleh surat kabar resmi Partai Buruh Korea, Rodong Sinmun.
Sinyal Bahaya untuk Amerika
Para analis menilai, demonstrasi kekuatan Angkatan Laut Korea Utara berkaitan dengan situasi geopolitik terbaru, termasuk serangan militer AS terhadap Iran, serta latihan militer gabungan AS-Korea Selatan yang akan dimulai pada 9 Maret 2026.
Hong Min, peneliti senior di Institut Unifikasi Nasional Korea, mengatakan bahwa situasi tersebut tampaknya turut andil dalam keputusan Kim memanaskan mesin perangnya. “Iran dan latihan militer gabungan AS-Korea Selatan yang akan dimulai pada 9 Maret tampaknya sangat membebani pikiran Kim,” kata Hong.
Menurut Hong, pernyataan Kim juga merupakan sinyal kepada Washington agar tidak memperlakukan Korea Utara seperti Iran. “Ini akan membantu mencegah Amerika Serikat melakukan serangan dari laut, seperti yang terlihat dalam perang melawan Iran,” ujarnya.
Profesor Yang Moo-jin dari Universitas Studi Korea Utara berpendapat, aktivitas militer terbaru Kim juga berkaitan dengan target yang ditetapkan dalam kongres partai sebelumnya. Namun, peluncuran rudal jelajah strategis dari kapal perusak tersebut juga mencerminkan demonstrasi kekuatan yang direncanakan.
“Mengingat waktunya, hal itu mencerminkan kekhawatiran atas situasi Iran dan tampaknya dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan militer menjelang latihan militer gabungan AS-Korea Selatan yang akan datang,” kata Yang.
Penguatan Armada Laut dan Nuklir Korut
KCNA melaporkan bahwa kunjungan Kim juga mencakup evaluasi kemampuan operasional kapal perang melalui uji coba laut, untuk menilai kemampuan manuver kapal perusak. Kim juga meninjau kemajuan pembangunan kapal perusak lain dari kelas Choe Hyon yang sedang dibuat di Galangan Kapal Nampo di pantai barat Korea Utara.
Langkah tersebut menjadi bagian dari program yang disebut Kim sebagai upaya “persenjataan nuklir” Angkatan Laut Korea Utara. Dalam rencana lima tahun mendatang, Kim menyatakan bahwa Korea Utara harus membangun dua kapal tempur permukaan kelas Choe Hyon atau yang lebih tinggi setiap tahun.
Selama ini, angkatan laut Korea Utara dianggap jauh lebih lemah dibandingkan armada modern milik Korea Selatan. Akan tetapi, para analis menilai Pyongyang kini berupaya memperluas peran angkatan lautnya dari sekadar pertahanan pantai, menjadi kekuatan yang mampu beroperasi di laut lepas.
“Dengan membangun armada modern, angkatan laut Korea Utara berupaya untuk memperluas perannya yang terbatas pada pertahanan pantai ke misi laut lepas,” kata Hong.
Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un (kanan) bersama anaknya, Kim Ju Ae, saat menghadiri uji tembak kapal penghancur Choe Hyon dalam lokasi yang dirahasiakan. Foto ini dirilis kantor berita Pemerintah Korea Utara KCNA pada 30 April 2025.(KCNA via KNS/AFP)
Pyongyang juga terus meningkatkan program senjata nuklirnya. Strategi Pertahanan Nasional Pentagon menilai, program tersebut menghadirkan bahaya nyata dan langsung berupa kemungkinan serangan nuklir terhadap wilayah Amerika.
Pernyataan Kim muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengomentari operasi militer negaranya terhadap Iran. Trump mengatakan bahwa jika senjata nuklir berada di tangan “orang gila”, maka hal-hal buruk bisa terjadi.
Korea Utara kali terakhir menguji rudal jelajah strategis laut-ke-darat pada Oktober 2025. Uji coba tersebut dilakukan dengan meluncurkan beberapa rudal ke Laut Kuning menjelang kedatangan Trump di Korea Selatan untuk menghadiri KTT APEC (Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik.
Meski begitu, menurut Lee Il-woo peneliti senior di Jaringan Pertahanan Korea, rudal jelajah tetap memiliki kelemahan. “Bagaimanapun, rudal jelajah adalah yang paling rentan terhadap proyektil pencegat dalam pertempuran,” kata Lee.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











