"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Dosen Unsulbar: Konflik AS-Israel dan Iran Ancam Jalur Energi Global

Peran Selat Hormuz dalam Stabilitas Energi Global

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus meningkat, dan hal ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap stabilitas energi global. Dosen Politik Luar Negeri Universitas Sulawesi Barat, Andi Ismira, menyatakan bahwa dari perspektif geoekonomi, konflik tersebut dapat memengaruhi pasokan energi dunia. Ia menjelaskan bahwa Iran memiliki posisi strategis karena menguasai jalur perdagangan minyak dan energi yang melintasi Selat Hormuz.

Pada awal eskalasi konflik, Iran sempat membatasi jalur pelayaran di kawasan tersebut dengan alasan keamanan. Dalam dua hari awal saja, sekitar 150 kapal dagang sempat tertahan di wilayah itu, termasuk kapal yang mengangkut komoditas energi. Ia menambahkan bahwa kondisi ini bukan pertama kali terjadi ketika konflik di kawasan Timur Tengah meningkat.

Ancaman Distribusi Energi Global

Andi Ismira menilai situasi tersebut mirip dengan dampak konflik antara Rusia dan Ukraina beberapa waktu lalu. Saat itu, Rusia menguasai jalur distribusi gas di kawasan Eurasia sehingga mengganggu perdagangan energi global dan memicu kenaikan harga berbagai komoditas. Menurutnya, dampak serupa berpotensi terjadi apabila konflik di kawasan Teluk semakin meluas. Terlebih, terdapat kecenderungan negara-negara Teluk lebih berpihak kepada Amerika Serikat.

Iran dinilai sebagai negara dengan tingkat endurance yang sangat resilient atau memiliki tingkat resiliensi yang tinggi. Selama hampir tiga dekade menghadapi embargo, Iran mampu memanfaatkan posisi geo-strategisnya untuk meningkatkan daya tawar.

Dampak bagi Indonesia

Eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi dunia yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga bahan pangan. Terlebih Indonesia saat ini tengah berada pada periode Ramadan, ketika kebutuhan konsumsi masyarakat meningkat, sehingga tentu akan menjadi beban bagi masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah.

Andi Ismira juga menyoroti pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang menyebut stok BBM, minyak mentah, dan LPG Indonesia diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar tiga pekan apabila terjadi gangguan pasokan global. Selain itu, harga minyak non-subsidi juga mulai menunjukkan tren kenaikan.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan Jepang yang mengklaim memiliki cadangan energi hingga sembilan bulan, kondisi tersebut menunjukkan ketahanan energi Indonesia berada pada level yang cukup mengkhawatirkan.

Kebijakan Impor Energi dan Tantangan Ekonomi

Bahlil menyebut pemerintah mulai menjajaki pasokan minyak dari Amerika Serikat. Langkah ini tidak lazim karena Indonesia biasanya mengandalkan pasokan dari negara-negara Teluk seperti Qatar atau Arab Saudi. Namun situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang semakin tidak stabil membuat pasokan dari negara-negara tersebut menjadi lebih sulit diperoleh. Demikian pula minyak dari Venezuela, mengingat negara tersebut saat ini juga menghadapi ketidakstabilan politik.

Di sisi lain, impor energi dari Amerika Serikat menjadi pembahasan yang lebih kompleks karena dikaitkan dengan kesepakatan perdagangan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang salah satu poinnya memungkinkan komoditas energi dari AS masuk dengan skema bebas pajak. “Bisa bayangkan dampaknya bagi Indonesia? Bagaimana industri energi di Indonesia yang proses hilirisasinya masih seumur jagung dan belum mapan harus dihantam dengan pasokan minyak dan komoditas energi lainnya yang masuk dari AS tanpa pajak? Industri kita akan semakin co-dependent,” pungkasnya.

Posisi Indonesia dalam Konflik Global

Ia juga menyoroti upaya Indonesia untuk mengambil posisi sebagai negara penengah dalam konteks politik maupun ekonomi politik global. Menurutnya, langkah Presiden Prabowo cukup riskan dalam memposisikan Indonesia baik secara geo-strategis maupun secara moral. “Sekarang, Indonesia mau mencoba bertindak sebagai penengah, sementara Iran menegaskan tidak akan mundur dan berkompromi. Ini langkah yang tidak mudah, apalagi setelah meningkatnya ketegangan politik di Iran yang memicu kemarahan masyarakatnya.”

“Jadi apa guna posisinya Indonesia di sini dalam menengahi dua Goliath yang sedang berperang? Apakah dengan status sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar kedua di dunia Indonesia berharap akan melembutkan Iran? Tentu masyarakat dunia sudah tahu bagaimana posisi Indonesia ketika secara sepihak bergabung dengan Board of Peace (BoP). Lalu apa yang harus dinegosiasikan?” sambungnya.

Status Selat Hormuz dan Potensi Gangguan

Sementara itu, Duta Besar Iran baru-baru ini menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup. Meski demikian, Andi Ismira menilai konflik bersenjata tetap berpotensi memicu gangguan distribusi energi global yang dapat menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga komoditas, termasuk di Indonesia.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *