Kondisi Global yang Mengancam Pasokan Minyak dan Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia
Peta dunia saat ini tampak seperti peta cuaca, di mana perubahan bisa terjadi dengan cepat dan tidak terduga. Setelah menghadapi masalah perang dagang dan gangguan rantai pasok global, kini dunia harus berhadapan dengan konflik baru antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran. Respons Iran atas serangan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026) kemarin memicu penutupan Selat Hormuz, jalur penting yang melayani 26 persen perdagangan minyak mentah dunia.
Dampak dari penutupan Selat Hormuz ini langsung terasa dalam pasokan minyak global. Harga minyak mentah mulai merangkak naik. Pada awal pekan lalu, harga minyak mentah Brent masih berada di kisaran 71,24 dolar AS per barel. Namun, pada Senin (2/3/2026), harga minyak di pasar Asia meningkat menjadi 80 dolar AS per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate, minyak mentah ringan yang diproduksi di AS, dijual sekitar 72 dolar AS per barel pada Senin pagi.
Laporan data dari grup CME menunjukkan bahwa harga minyak naik sekitar 7,3 persen dari harga perdagangan pada Jumat, yakni 67 dolar AS per barel. Prediksi selanjutnya menyebutkan bahwa harga minyak mentah bisa terus naik hingga mencapai 99 dolar AS per barel. Hal ini tentu memberi tekanan besar terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Langkah Pemerintah dalam Menghadapi Krisis Minyak
Pemerintah Indonesia segera mengambil sikap untuk menghadapi ancaman kenaikan harga minyak. Salah satu strategi yang diambil adalah mendiversifikasi pasokan minyak mentah. Sebelumnya, sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah. Namun, kini pemerintah lebih fokus pada pasokan dari kawasan di luar Timur Tengah, seperti Afrika, Amerika Serikat, dan Brasil.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin RON 90, 93, 95, dan 98, impor selama ini tidak berasal dari Timur Tengah, melainkan dari kawasan Asia Tenggara. Hal ini membuat BBM tersebut relatif tidak terdampak oleh situasi di Selat Hormuz.
Meskipun demikian, kepercayaan masyarakat terhadap ketersediaan BBM tetap menjadi isu yang memprihatinkan. Beberapa hari terakhir, banyak orang memilih antre berjam-jam demi mendapatkan bensin. Pengumuman berkali-kali dari pemerintah tentang ketersediaan BBM terasa seperti angin lalu. Masyarakat tetap mengalami kesulitan, karena mereka melihat tetangga dan teman-temannya juga kewalahan.
Ketergantungan Indonesia terhadap Pasokan Minyak
Saat ini, kebutuhan minyak mentah Indonesia sehari sebesar 1,5-1,6 juta barel, sementara lifting minyak Indonesia hanya sekitar 500.000-600.000 barel per hari. Artinya, Indonesia harus mengimpor sekitar 900.000-1 juta barel per hari. Kenaikan harga minyak mentah semakin diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah.
Kenaikan harga minyak mentah juga berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi pada APBN sebesar Rp 10,3 triliun. Sementara itu, tambahan penerimaan pajak dan royalti hanya sekitar Rp 3,5 triliun. Sampai saat ini, belum ada kenaikan harga untuk BBM bersubsidi, baik pertalite maupun solar subsidi.
Pelajaran Geopolitik dan Ketahanan Ekonomi
Konflik di satu wilayah dapat memengaruhi harga energi di wilayah lain. Ini menunjukkan bahwa tidak ada ekonomi yang benar-benar kebal terhadap gejolak global. Dalam kondisi seperti ini, ketahanan ekonomi masyarakat harus dipertimbangkan kembali.
Pemerintah perlu meninjau kembali nasib jutaan pelaku usaha kecil, petani, nelayan, pekerja, dan kelas menengah. Krisis sering datang melalui pintu yang kita buka sendiri, seperti kebijakan yang keliru atau tata kelola yang lemah.
Menjaga Ketahanan Ekonomi
Pada akhirnya, ketika badai dunia tidak pernah benar-benar berhenti, yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa rumah kita tidak runtuh ketika angin datang. Ini ditentukan oleh kualitas institusi, kejujuran, pengelolaan yang handal, dan kemampuan masyarakat untuk bertahan.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











