"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Harga jatuh, petani Pujon Malang biarkan wortel membusuk di sawah

Petani di Lereng Gunung Argowayang Menghadapi Tantangan Ekstrem

Di lereng Gunung Argowayang, Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, para petani sedang menghadapi tantangan berat. Mereka tidak hanya bertarung dengan cuaca ekstrem, tetapi juga dengan anjloknya harga jual sayuran yang mereka tanam. Salah satu komoditas utama mereka adalah wortel, namun saat ini, kondisi pasar membuat mereka kesulitan.

Banyak petani wortel yang tidak bisa memanen meski hasil panen mereka bagus. Mereka bahkan memilih untuk tidak memanen tanaman mereka sehingga dibiarkan membusuk di tegalan. Alasannya sederhana: harga jual yang sangat rendah.

Kondisi ini terjadi karena harga wortel yang awalnya normal sekitar Rp 5 ribu per kg kini turun drastis menjadi hanya Rp 2 ribu per kg. Bahkan, ada periode di mana harganya turun ke Rp 1 ribu per kg. Dengan harga segitu, para petani merasa tidak mungkin mendapatkan untung, sehingga lebih memilih untuk tidak memanen.

Harga Sayur-Mayur yang Fluktuatif

Alfan, seorang petani asal Desa Tawangsari, menjelaskan bahwa biasanya, menjelang Lebaran, harga sayur-mayur seperti tomat dan cabai meningkat tajam. Contohnya, harga cabai bisa naik dari Rp 20 ribu per kg menjadi Rp 100 ribu per kg. Namun, situasi berbeda untuk wortel dan lobak merah. Saat musim panen wortel selama awal bulan Ramadhan, harga jual justru turun bebas.

Menurut Alfan, pada awalnya, harga wortel turun menjadi Rp 3 ribu per kg, dan meskipun tidak untung, petani masih memanen. Namun, ketika harga turun ke bawah Rp 2 ribu per kg, mereka tidak lagi bisa melakukan apa-apa.

Penjelasan dari Kepala Desa

Miftakhul Anwar, Kepala Desa Tawangsari, juga menyampaikan bahwa banyak petani wortel yang tidak bisa memanen meski hasil panen mereka bagus. Hal ini bukan disebabkan oleh serangan hama, melainkan karena harga yang sangat rendah.

“Dengan harga segitu, para petani di daerah kami, nggak mau memanen. Itu dibiarkan jadi semak belukar dan membusuk di tegalan,” ujar Salim, panggilan akrab Miftakhul Anwar.

Menurut Salim, jika petani memaksakan diri untuk memanen, mereka justru akan mengeluarkan biaya tambahan. Misalnya, biaya tenaga kerja yang tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.

Petani Belajar dari Pengalaman Pasar

Salim menambahkan bahwa akibat kondisi pasar yang sulit diprediksi, para petani mulai belajar untuk diversifikasi tanaman. Bukan hanya satu jenis tanaman yang ditanam, tetapi bisa sampai empat jenis. Beberapa di antaranya adalah tomat, cabai, kubis, dll. Namun, bawang merah batu ijo tetap menjadi komoditas utama bagi petani di lereng Gunung Argowayang, Gunung Kawi, dan Gunung Gentong.

Desa Tawangsari menjadi salah satu sentra penghasil bawang ijo. Setiap panen raya, produksi mencapai sekitar 800 ton atau senilai Rp 16 miliar. Namun, hal ini hanya terjadi jika harga jualnya mencapai Rp 20 ribu per kg.

Tantangan Cuaca dan Biaya Tambahan

Selain harga pasar yang tidak stabil, para petani juga harus menghadapi cuaca ekstrem. Hujan yang terus-menerus selama musim tanam membuat banyak bibit yang baru ditanam membusuk. Akibatnya, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyemai benih yang busuk.

Para petani di lereng Gunung Argowayang terus berjuang menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari cuaca yang tidak menentu hingga fluktuasi harga pasar. Meski begitu, mereka tetap berupaya untuk bertahan dan beradaptasi agar bisa tetap bertani di wilayah ini.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *