"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Banyak Pekerja AS Keluhkan Kenaikan Harga Hidup

Keluhan Pekerja di Amerika Serikat terhadap Kenaikan Biaya Hidup



Banyak pekerja di Amerika Serikat (AS) mengeluhkan kenaikan biaya hidup yang semakin menghimpit, meskipun sebelumnya Presiden AS Donald Trump berjanji akan mengatasi krisis keterjangkauan. Berbagai laporan menunjukkan bahwa kekhawatiran ini tidak hanya datang dari satu kelompok masyarakat, tetapi juga lintas partai.

Dawn Levie, seorang pekerja layanan pos di Paulden, Arizona, mengatakan pendapatannya berkurang ribuan dolar dalam setahun terakhir akibat pemotongan jam kerja. Kondisi ini membuatnya kesulitan membayar kebutuhan pokok seperti bahan makanan dan tagihan utilitas. “Sulit menggambarkan perasaan ketika Anda tidak bisa mempertahankan penghidupan karena uang Anda terdampak. Anda tidak bisa membayar tagihan dan para kreditur menjadi marah,” katanya.

Di sisi lain, Gedung Putih menilai persoalan keterjangkauan tersebut tidak mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Dalam sebuah rapat umum di Kentucky, Trump menyatakan inflasi menurun, pendapatan meningkat, dan ekonomi AS kembali bangkit. Namun, banyak pekerja mengatakan kenaikan harga membuat gaji mereka tidak mampu mengejar biaya hidup.

Kenaikan Harga dan Stagnasi Upah

Bryan Williams, pekerja perawatan rumah di Wisconsin dengan upah USD 17,65 per jam, mengatakan dia harus hidup dari gaji ke gaji untuk membayar sewa, makanan, dan BBM. Vernice Thompson, pekerja ritel di Virginia, juga menyampaikan keluhan serupa. Meski menerima manfaat jaminan sosial, biaya perumahan masih menyerap sekitar setengah dari pendapatannya, sementara harga bahan makanan dan pakaian terus meningkat.

Data menunjukkan bahwa harga pangan pada Januari tercatat 2,9 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan diperkirakan naik 3,1 persen dalam setahun ke depan. Harga utilitas di AS juga meningkat lebih dari 6 persen pada Januari 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.



Kenaikan biaya kebutuhan pokok turut mendorong peningkatan utang rumah tangga. Total utang rumah tangga pada kuartal IV 2025 mencapai USD 18,8 triliun, sementara utang kartu kredit mencetak rekor USD 1,28 triliun. Di sisi lain, banyak pekerja mengalami stagnasi upah. Sebanyak 10 persen pekerja dengan upah terendah yang rata-rata menerima USD 14,56 per jam mengalami penurunan upah riil sebesar 0,3 persen setelah disesuaikan dengan inflasi pada 2025.

Upah minimum federal sebesar USD 7,25 per jam juga tidak berubah sejak 2009, menjadi periode terpanjang tanpa kenaikan sejak aturan tersebut diberlakukan.

Kelompok Berpendapatan Tinggi Makin Kaya

Sebaliknya, kelompok berpendapatan tinggi di AS justru mencatat kenaikan penghasilan lebih cepat. Sejak 1979, upah kelompok ini tumbuh dua kali lebih cepat dibandingkan pekerja berpendapatan rendah dan menengah. Keluarga di AS diperkirakan telah mengeluarkan lebih dari USD 1.700 akibat kebijakan tarif pemerintahan Trump selama periode Februari 2025 hingga Januari 2026.

Selain itu, pemerintah juga memangkas sejumlah program perlindungan sosial. Undang-Undang One Big Beautiful Bill Act yang disahkan tahun lalu mencakup pemotongan lebih dari 1 triliun dolar AS untuk program Medicaid, 536 miliar dolar AS dari Medicare, serta USD 186 miliar dari Program Bantuan Nutrisi Tambahan (Snap). Gedung Putih juga membiarkan subsidi Affordable Care Act berakhir, yang bermanfaat kurang lebih bagi 22 juta warga AS. Lalu mencabut kebijakan yang sebelumnya menaikkan upah minimum bagi kontraktor federal menjadi 15 dolar AS per jam. Kebijakan tersebut berdampak pada lebih dari 300.000 pekerja.



Selain itu, pemerintah juga berupaya menghapus perlindungan lembur bagi hampir 4 juta pekerja perawatan rumah yang pada 2024 menerima upah median sebesar USD 16,78 per jam.

Meski demikian, Juru bicara Gedung Putih Kush Desai menolak anggapan bahwa kondisi ekonomi memburuk. Menurut dia, ekonomi AS di bawah pemerintahan Trump tetap berada pada jalur yang kuat. Dia mengatakan laporan inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga mulai mereda, sementara agenda pemotongan pajak, tarif, dan deregulasi pemerintah dinilai mendorong pertumbuhan upah riil dan investasi.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *