Perdana Menteri Israel Menjelaskan Serangan ke Fasilitas Gas Iran
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan pernyataan terkait serangan udara yang dilakukan terhadap fasilitas gas South Pars milik Iran. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pihak AS “tidak tahu-menahu” mengenai target spesifik dari serangan tersebut.
Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan secara sepihak oleh Israel tanpa campur tangan langsung dari Amerika Serikat (AS). Dalam konferensi pers di Jerusalem, ia menyampaikan bahwa Israel bertindak sendiri terhadap kompleks gas South Pars. Namun, meskipun membantah adanya koordinasi langsung dalam serangan itu, Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya kini mengikuti arahan Trump untuk meredakan ketegangan.
“Fakta kedua, Presiden Trump telah meminta kami untuk menahan diri dari serangan serupa di masa depan, dan kami mematuhinya,” tambahnya. Meski terdapat kesan ketidaksinkronan antara pernyataan Trump dan aksi militer Israel, Netanyahu menepis isu keretakan hubungan dengan Gedung Putih. Ia menegaskan bahwa tidak perlu meyakinkan Trump mengenai bahaya nuklir Iran karena sang Presiden diklaim sudah memahami risiko tersebut lebih baik dari siapa pun.
“Saya tidak perlu meyakinkan Presiden Trump tentang apa pun. Beliau yang menjelaskan risiko rudal nuklir Iran kepada saya, bukan sebaliknya,” kata Netanyahu.
Dalam kesempatan yang sama, Netanyahu sesumbar bahwa kekuatan militer dan ekonomi Teheran tengah berada di ambang kehancuran. Ia menyebut rezim Iran mulai “retak” dan kehilangan kemampuan vitalnya.
“Mereka kehilangan industri yang dibangun selama puluhan tahun—industri kematian. Jika mereka mencoba (melawan) lagi, mereka akan dipukul lebih keras,” tegasnya. Netanyahu menutup pernyataannya dengan seruan kepada negara-negara demokrasi untuk berani melawan “tirani” sebelum terlambat. Menurutnya, serangan terhadap infrastruktur strategis Iran adalah langkah preventif yang mutlak diperlukan demi masa depan keamanan global.
Trump Kembali Peringatkan Israel
Sementara itu, Trump kembali memperingatkan Netanyahu soal serangan energi Iran. Dalam peringatan terbarunya, Trump meminta Netanyahu untuk menyetop serangan tersebut guna mencegah krisis ekonomi global yang semakin parah. Langkah ini diambil setelah aksi saling balas antara Israel dan Iran di sektor energi menyebabkan harga minyak dan gas dunia melonjak gila-gilaan.
“Saya sudah bilang ke dia (Netanyahu), ‘Jangan lakukan itu lagi’, dan dia tidak akan melakukannya,” tegas Trump, mengutip Reuters. Selain itu, peringatan Trump ini bukan tanpa alasan. Baru-baru ini, Iran membalas serangan Israel dengan menghantam pusat industri Ras Laffan di Qatar. Padahal, fasilitas tersebut merupakan urat nadi pasokan gas alam cair (LNG) dunia. Kerusakannya diperkirakan sangat parah hingga butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih.
Tak hanya itu, pelabuhan utama Arab Saudi di Laut Merah juga ikut jadi sasaran. Padahal, jalur ini menjadi alternatif utama sejak Iran menutup Selat Hormuz. Hal ini membuktikan bahwa sistem pertahanan udara secanggih apa pun masih kesulitan membendung serangan balasan Teheran terhadap aset-aset energi strategis.
Di balik ketegasan tersebut, ada faktor politik domestik yang menghantui Trump. Kenaikan harga bahan bakar di AS menjadi isu sensitif bagi pemilih setianya, apalagi menjelang pemilihan sela bulan November mendatang. Meskipun Trump sempat mengancam akan “meluluhlantakkan” ladang gas Iran jika serangan terus berlanjut, kini ia tampak mulai mengerem tensi guna menstabilkan pasar global.











