Pandangan Pakar Terkait Pertemungan Presiden dan Ketua Umum PDIP
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, memberikan analisis mengenai pertemuan antara Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dengan Presiden ke-5 RI yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Ia menyatakan bahwa pertemuan ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik yang sedang berlangsung di Tanah Air saat ini.
Ray menjelaskan bahwa dalam kesempatan tersebut, Megawati hadir di Istana Jakarta atas undangan pihak Presiden, bukan karena inisiatif dirinya sendiri untuk menemui Prabowo. Ia menilai, pertanyaan utama adalah mengapa Istana mengundang Ibu Mega. Menurutnya, akhir-akhir ini terlihat adanya kegalauan di lingkaran Istana menghadapi situasi yang semakin sulit di masa depan.
“Jadi mungkin ada suasana di lingkaran Istana itu bahwa Pak Prabowo sering kali menerima laporan yang justru sebetulnya tidak sesuai dengan fakta di lapangan,” ujarnya dalam program Sapa Indonesia Pagi yang tayang di Kompas TV, Jumat (20/3/2026).
Ia menambahkan bahwa Prabowo ingin menerima masukan dari tokoh-tokoh di luar pemerintahan, seperti Megawati, agar bisa memperoleh informasi yang lebih realistis tentang kondisi di lapangan. “Saya kira pertemuan ini lebih banyak mengandung unsur keinginan Pak Prabowo untuk menyerap pandangan-pandangan yang memungkinkan kita menghadapi situasi yang kelihatan akan makin sulit di masa yang akan datang ini,” tambahnya.
Penjelasan Hasto Kristiyanto
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan isi pertemuan antara Prabowo dan Megawati. Ia menyebut bahwa pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (19/3/2026) itu disebut berjalan sangat akrab. Hasto menuturkan bahwa Megawati menceritakan bahwa momen tersebut merupakan pertemuan dua orang teman lama yang sudah lama tidak duduk bersama.
“Ibu Megawati menyampaikan kepada saya bahwa itu adalah pertemuan teman lama dan berlangsung secara akrab selama lebih dari 2 jam,” kata Hasto dalam keterangannya, Kamis. Dalam pertemuan tersebut, Megawati tidak datang sendirian. Ia tampak didampingi oleh putrinya yang juga Ketua DPR RI, Puan Maharani.
Menurut Hasto, kehadiran Puan mempertegas sinyal komunikasi politik yang cair antara kedua belah pihak di level tertinggi pemerintahan. Meski dibalut dengan suasana kekeluargaan, Hasto tak menampik bahwa ada hal-hal strategis yang dibicarakan oleh kedua pemimpin tersebut.
Pembahasan Isu Strategis dan Geopolitik Dunia
Pertemuan dua jam itu nyatanya juga menjadi ruang diskusi serius mengenai persoalan bangsa, negara, hingga dinamika geopolitik global. “Dibahas hal-hal strategis tentang persoalan bangsa dan negara, serta berbagai persoalan geopolitik,” ungkap Hasto.
Hasto menambahkan, dalam diskusi itu, Prabowo tampak menyerap pengalaman luas Megawati saat menjabat sebagai Presiden ke-5 RI, terutama saat membawa Indonesia keluar dari krisis multidimensional. Mereka juga mendiskusikan pentingnya sense of priority dan sense of urgency dalam pengambilan kebijakan negara.
“Demikian juga terkait persoalan geopolitik, khususnya kepeloporan Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok, hingga peran membangun tata dunia baru melalui politik luar negeri bebas aktif,” jelas Hasto.
Bahkan, Megawati juga sempat menceritakan pengalamannya dalam kunjungan terakhir ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi kepada Presiden Prabowo. Hasto menegaskan bahwa PDI Perjuangan melihat pertemuan ini sebagai manifestasi dari kultur bangsa Indonesia, yakni gotong royong.
Menurutnya, dialog dan musyawarah antarpemimpin bangsa adalah hal yang sangat diperlukan demi kepentingan rakyat dan negara. “Pertemuan antarpemimpin bangsa sebagaimana terjadi dengan Presiden Prabowo dan Presiden Kelima Megawati Soekarnoputri selain sesuai dengan kultur bangsa untuk saling berdialog, juga ditujukan bagi kepentingan rakyat, bangsa, dan negara,” tandasnya.











