Serangan Rudal ke Pangkalan Militer AS-Inggris di Diego Garcia
Pangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Pulau Diego Garcia, yang terletak di Laut India, dilaporkan menjadi target serangan rudal. Israel mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan oleh Iran, sementara Teheran menyangkal tudingan tersebut.
Menurut laporan media AS, upaya penargetan pangkalan militer tersebut terjadi antara malam hari hingga pagi hari. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa salah satu rudal gagal dalam penerbangan, sementara rudal lainnya berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan AS yang ditembakkan dari kapal perang.
Peristiwa ini terjadi beberapa jam sebelum para menteri Inggris berkumpul di London untuk membahas situasi perang Iran. Pada pertemuan tersebut, Inggris sepakat memberikan izin kepada AS menggunakan pangkalan militer mereka untuk pertahanan diri kolektif, termasuk menyerang lokasi rudal Iran yang digunakan dalam serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Pejabat Inggris tidak memberikan rincian apapun mengenai upaya serangan ke pangkalan Diego Garcia. Pentagon, markas Kementerian Perang AS, juga belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai rudal yang menyerang Diego Garcia beberapa jam setelah serangan.
Pernyataan bahwa Iran melakukan serangan awalnya berasal dari Panglima Militer Israel, Eyal Zamir. Ia menyatakan bahwa Iran menggunakan “rudal balistik antarbenua dua tahap dengan jangkauan 4.000 km” untuk menyerang pangkalan AS-Inggris di Diego Garcia. Dalam sebuah pernyataan video, Zamir mengatakan: “Rudal-rudal ini tidak dimaksudkan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencapai ibu kota Eropa. Berlin, Paris, dan Roma semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung.”
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggunakan alasan serangan ke Diego Garcia untuk meminta seluruh pemimpin dunia memerangi Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dengan Presiden Donald Trump sebelum keberangkatan presiden dari Bandara Internasional Ben Gurion Israel pada 23 Mei 2017. – (Kobi Gideon/GPO)
“Mereka menembakkan rudal balistik antarbenua ke arah Diego Garcia. Jaraknya 4.000 kilometer. Saya sudah memperingatkan, mereka sekarang punya kapasitas untuk menjangkau jauh ke Eropa,” katanya saat mengunjungi lokasi serangan Iran di Israel. “Mereka telah menyerang negara-negara Eropa – Siprus. Mereka menempatkan semua orang dalam jangkauan mereka.”
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Teheran tidak bertanggung jawab atas peluncuran rudal tersebut. Awal bulan ini dalam wawancara dengan stasiun televisi AS NBC, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Teheran telah mengembangkan rudal yang mampu mencapai wilayah AS.
“Anda tahu, kami mempunyai kemampuan untuk memproduksi rudal, namun kami sengaja membatasi jangkauan kami di bawah 2.000 km karena kami tidak ingin dianggap sebagai ancaman oleh siapapun di dunia,” kata Araghchi pada 8 Maret.
Sebaliknya, Israel yang diketahui memiliki kemampuan tersebut. Entitas Zionis itu diketahui memiliki Jericho 3, rudal balistik jarak menengah (IRBM) tiga tahap atau rudal balistik antarbenua (ICBM) berbahan bakar padat dan mulai selesai diproduksi sekitar tahun 2011. Rudal ini dirancang untuk pengiriman nuklir dengan jangkauan 4.800–6.500 km, mampu menyerang sasaran di seluruh Timur Tengah, Eropa, Asia, dan Afrika.
Iran berulang kali mengingatkan bahwa Israel akan melakukan operasi False Flag untuk menarik pihak-pihak lain terlibat perang. Teorinya, Israel akan melakukan serangan ke target sensitif dan menyalahkan Iran atas serangan tersebut.
Pangkalan udara Diego Garcia adalah rumah bagi hampir 2.500 personel yang sebagian besar adalah personel Amerika dan telah mendukung operasi militer AS mulai dari Vietnam hingga Irak, Afghanistan, dan serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Pangkalan udara tersebut merupakan bagian dari Kepulauan Chagos, sebuah kepulauan terpencil di tengah Samudera Hindia, di selatan ujung India, dan berada di bawah kendali Inggris sejak tahun 1814.
Pangkalan udara tersebut telah menjadi pusat perselisihan antara Trump dan Starmer mengenai rencana Inggris untuk menyerahkan kedaulatan kepulauan Chagos kepada Mauritius setelah keputusan Mahkamah Internasional.
Trump mengecam sekutu-sekutunya di Eropa karena tidak ikut serta dalam perang melawan Iran, yang telah meluas ke seluruh Timur Tengah. Trump juga menyebut sekutu Baratnya sebagai “pengecut” setelah negara-negara NATO menolak ikut perang, yang telah menyebabkan lonjakan biaya energi global.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











