Ancaman Iran terhadap Infrastruktur Energi di Timur Tengah
Militer Iran telah mengeluarkan ancaman keras terhadap infrastruktur energi yang terkait dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Timur Tengah. Dalam pernyataannya, Iran menyatakan akan menyerang semua fasilitas desalinasi serta infrastruktur teknologi informasi yang terkait dengan kedua negara tersebut jika pembangkit listrik Iran menjadi sasaran serangan.
Ebrahim Zolfaghari, juru bicara komando pusat Khatam al-Anbiya Iran, menjelaskan bahwa ancaman ini muncul sebagai respons terhadap tindakan AS-Israel yang sebelumnya menargetkan instalasi nuklir Iran di Natanz. Ia juga menegaskan bahwa Iran akan membalas setiap serangan yang ditujukan ke arah infrastruktur energi negaranya.
Peringatan tersebut muncul setelah mantan Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Iran gagal membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Selat Hormuz merupakan jalur laut penting yang digunakan untuk pengangkutan minyak mentah global.
Kantor berita Fars melaporkan bahwa mendiang ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, telah memperingatkan bahwa “seluruh wilayah akan padam dalam waktu setengah jam” jika jaringan listrik Iran menjadi sasaran. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran sangat waspada terhadap ancaman dari pihak luar.
Sejauh ini, Iran selalu memenuhi ancamannya. Setelah serangan pembuka AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, Iran langsung memenuhi ancamannya dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan. Akibat serangan tersebut, belasan prajurit AS tewas.

Tim pembawa Angkatan Darat AS memindahkan jenazah tentara AS yang tewas akibat balasan Iran di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, AS, 9 Maret 2026. – (EPA/JASON MINTO/US AIR FORCE)
Selain itu, Iran juga memenuhi ancamannya untuk menutup Selat Hormuz jika AS-Israel melakukan tindakan serupa. Penutupan ini menyebabkan lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati 150 dolar AS per barel. Jika terus berlanjut, kenaikan harga migas ini bisa menggoncang perekonomian dunia.
Pada 19 Maret lalu, saat Israel menyerang ladang gas Iran di Pars Selatan, Iran langsung memberikan balasan dengan menyerang fasilitas minyak dan gas di Qatar, Saudi, dan Kuwait yang dikelola perusahaan negara-negara Barat. Kerusakan terparah terjadi di fasilitas gas alam cair (LNG) Ras Laffan di Qatar.
Akibat lumpuhnya dua kilang utama di lokasi tersebut, QatarEnergy terpaksa menyatakan status force majeure (keadaan darurat yang membatalkan kontrak) pada kontrak jangka panjang selama lima tahun ke depan. Negara-negara yang terdampak langsung meliputi Italia, Belgia, Korea Selatan, dan China. ExxonMobil (AS) yang memegang saham di kilang S4 dan S6, serta Shell (Inggris-Belanda) yang menjadi mitra di fasilitas GTL, kini harus menghadapi ketidakpastian operasional. Qatar menyatakan produksi hanya bisa dimulai kembali jika perang di kawasan benar-benar dihentikan.
Peran Fasilitas Desalinasi di Teluk
Yang terkini, Iran membalas kontan serangan AS-Israel ke fasilitas nuklir di Natanz pada Sabtu, 23 Maret. Iran mengirimkan misil yang berhasil menembus pertahanan Iron Dome Israel dan jatuh di Dimona, kota lokasi fasilitas nuklir Israel; serta Kota Arad. Serangan ini menyebabkan lebih dari 100 warga Israel dirawat di rumah sakit.
Presiden AS Donald Trump pada Ahad mengancam akan mengebom dan menghancurkan infrastruktur energi Iran kecuali Selat Hormuz dibuka sepenuhnya untuk pelayaran internasional dalam waktu 48 jam. Ancaman ini datang melalui platform “Truth Social”, di mana Trump menetapkan batas waktu tertentu bagi pihak berwenang Iran, dan menekankan bahwa Amerika Serikat siap untuk menyerang berbagai pembangkit listrik Iran, dimulai dengan fasilitas utama, jika ancaman terhadap jalur air penting tersebut terus berlanjut.
Proses desalinasi utamanya mengubah air laut menjadi air yang layak untuk keperluan minum serta untuk irigasi dan keperluan industri. Fasilitas desalinasi penting karena air langka di Teluk sebab iklim kering dan curah hujan tidak teratur. Negara-negara di kawasan Teluk juga memiliki sumber daya air tawar alami yang sangat terbatas.
Menurut laporan tahun 2020 oleh Gulf Research Center, air tanah bersama dengan air desalinasi menyumbang sekitar 90 persen sumber daya air utama di kawasan ini. Namun dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan memburuknya kualitas air tanah akibat perubahan iklim, negara-negara Teluk mulai sangat bergantung pada desalinasi air laut yang intensif energi untuk memenuhi kebutuhan air mereka.
Lebih dari 400 pabrik desalinasi berlokasi di pantai Teluk Arab yang membentang dari Uni Emirat Arab (UEA) hingga Kuwait, menyediakan air ke salah satu wilayah yang paling kekurangan air di dunia. Menurut makalah penelitian tahun 2023 yang diterbitkan oleh Arab Center Washington DC, negara-negara anggota GCC menyumbang sekitar 60 persen dari kapasitas desalinasi air global, menghasilkan hampir 40 persen dari total air desalinasi di dunia.
Sekitar 42 persen air minum di UEA berasal dari pabrik desalinasi, sementara angka tersebut adalah 90 persen di Kuwait, 86 persen di Oman, dan 70 persen di Arab Saudi. Arab Saudi juga memproduksi lebih banyak air desalinasi dibandingkan negara lain. Desalinasi juga memainkan peran penting dalam memungkinkan pembangunan ekonomi di wilayah tersebut, menurut Naser Alsayed, seorang peneliti lingkungan yang berspesialisasi di negara-negara Teluk. Dia mencatat bahwa setelah penemuan minyak pada akhir tahun 1930-an, negara-negara Teluk memiliki sumber daya air tawar yang sangat terbatas dan tidak dapat memenuhi permintaan yang disebabkan oleh pertumbuhan penduduk dan perluasan aktivitas ekonomi.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











