Kedatangan Bupati Blora ke Desa Nglebak Menimbulkan Kontroversi
Kedatangan Bupati Blora, Arief Rohman, ke Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan, pada Rabu (18/3/2026) lalu, sempat menjadi perbincangan di media sosial. Bupati Arief Rohman dinilai hanya sekadar ikut nimbrung membuat konten, usai viralnya aksi warga membangun jalan dengan cara iuran swadaya. Namun, warga setempat membantah anggapan bahwa kunjungan tersebut sekadar untuk membuat konten.
Kepala Desa Nglebak, Eko Puryono, menegaskan bahwa kehadiran Bupati Arief justru membawa bantuan nyata bagi pembangunan jalan di wilayahnya. “Pak Bupati datang ke sini diundang oleh pemerintah desa Nglebak, dan beliau juga membawa bantuan. Ada bantuan semen, kemudian material grosok yang digunakan untuk perbaikan jalan,” katanya, saat ditemui, Selasa (24/3/2026).
Lebih lanjut, Eko menegaskan, narasi yang berkembang di media sosial tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. “Kalau masyarakat Nglebak itu pastinya senang Pak Bupati datang ke sini. Baru kali ini Pak Bupati mau datang ke sini.” “Di media sosial itu cuma diplintir, aslinya di sini Pak Bupati bawa angin segar kok, enggak seperti di medsos-medsos itu,” terangnya.
Selain itu, Eko menyampaikan bahwa Bupati Arief saat berada dihadapan warga Nglebak, juga menjanjikan kelanjutan pembangunan melalui anggaran pada 2026 perubahan atau paling lambat 2027. “Dijanjikan sama beliau Pak Bupati, nanti kalau ada anggaran 2026 perubahan nanti bisa direalisasi. Kalau belum bisa di perubahan 2026, nanti 2027 dianggarkan untuk ruas Nglebak sampai Megeri sekitar 7 kilometer,” katanya.
Warga Perbaiki Jalan dengan Iuran
Terlepas dari kontroversi kunjungan Bupati Blora Arief Rohman tersebut, tersimpan cerita panjang tentang warga berinisiatif iuran demi bisa merasakan jalan bagus. Berada di wilayah perbatasan Blora (Jawa Tengah) – Ngawi (Jawa Timur), Desa Nglebak tersebut selama ini dinilai kurang tersentuh pembangunan, terutama infrastruktur jalan. Padahal, jalan yang diperbaiki dengan iuran warga itu merupakan jalan kabupaten. Namun, kondisinya rusak dan menyulitkan aktivitas warga.
Mayoritas penduduk Nglebak berprofesi sebagai petani. Jalan menjadi akses utama untuk mengangkut hasil panen seperti padi, jagung, dan tebu. Karena kondisi jalan yang rusak, warga akhirnya berinisiatif melakukan perbaikan secara swadaya. “Kalau tidak dibangun sendiri, truk tidak bisa lewat. Hasil tani juga tidak bisa keluar,” kata Eko.
Pembangunan swadaya ini telah berjalan hampir satu bulan dan kini memasuki tahap kedua. Total panjang jalan yang diperbaiki secara swadaya mencapai sekitar 1,5 kilometer, dengan sisa sekitar 200 meter di tahap akhir. Untuk menjaga transparansi, warga bahkan memasang papan berisi daftar donatur, bukan papan proyek seperti pada umumnya. “Ini ditulis di sini biar transparan yang ngasih bantuan-bantuan,” jelasnya.
Bentuk partisipasi warga pun beragam, mulai dari menyumbang semen, tenaga kerja, bahan bakar solar, hingga konsumsi. “Ada yang nyumbang semen dua sak, ada yang tenaga, ada yang beli rokok, ada yang beli makan juga, ada yang itu nyumbang solar,” jelasnya.
Harapan Warga Nglebak
Eko menyampaikan warga Nglebak, mengharapkan sisa ruas jalan yang kondisinya masih rusak, agar ke depan bisa dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora. Hal senada juga diungkapkan oleh warga Dukuh Kalikangkung, Desa Nglebak, Suyatno. Suyatno berharap pembangunan jalan dilanjutkan oleh Pemkab Blora. Sebab, sudah lama, Dia menilai ruas jalan di Nglebak tersebut sudah lama tidak tersentuh pembangunan. “Pengene nggih diterusne Pak Bupati pembangunane (Inginnya ya pembangunan jalan yang masih rusak dilanjutkan Pak Bupati),” harapnya.
Sebagai informasi, jumlah warga di Desa Nglebak ada sekitar 3.000 an warga, dari 1.300 an KK. Aktivitas ekonomi dan mobilitas warga Nglebak lebih banyak mengarah ke wilayah Ngawi dibandingkan ke Blora. Jarak menuju pusat Kota Blora lebih jauh sekitar 55 kilometer, dengan waktu tempuh hingga 2 jam. Sementara jika ke Ngawi, warga hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan jarak kurang lebih 10 kilometer. Tak heran, jika aktivitas warga lebih banyak ke Ngawi, mulai dari menjual hasil pertanian dan lainnya.











