Ancaman Pemakzulan terhadap Donald Trump di Tengah Krisis dengan Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kini menghadapi ancaman pemakzulan di tengah situasi yang semakin memburuk. Hal ini terjadi setelah krisis dengan Iran semakin memperburuk citra dan kepercayaan publik terhadapnya. Dukungan politik terhadap Trump terus merosot, menunjukkan bahwa masa kepemimpinannya sudah berada di ambang kehancuran.
Menurut analisis dari profesor dan ahli politik University of America, John Kenneth White, dukungan politik terhadap Trump telah mengalami penurunan tajam karena ia gagal memenuhi janji-janji yang diucapkannya selama kampanye pemilu. Trump memulai “perang pilihan” dengan Iran di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, inflasi yang meningkat, serta kebijakan imigrasi yang keras yang menyebabkan deportasi tanpa dasar yang jelas. Kinerjanya dalam mengatasi isu-isu penting seperti inflasi, biaya hidup, dan imigrasi juga mendapat penilaian buruk.
White menulis bahwa sebagian besar survei menunjukkan tingkat persetujuan Trump hanya sekitar 40 persen. Namun, di balik angka tersebut, ada penurunan signifikan dalam kinerja presidennya. Citra Trump kini semakin gelap, dengan gambar-gambar warga sipil yang terbunuh oleh aparat imigrasi, anak-anak ditahan dalam kandang, dan tentara pulang dalam kondisi luka atau tewas dari perang yang dimulainya di Timur Tengah.
“Gambar-gambar itu akan selamanya melekat pada Trump,” tulis White. Meski masih memiliki pengikut setia, sebagian besar rakyat Amerika kini menolaknya. Bahkan, para pemilih Hispanik yang sempat mendukung Trump pada 2024 kini beralih ke Partai Demokrat, sementara 67 persen independen, yang menjadi kelompok penentu dalam pemilu, tidak menyetujui kinerjanya.
White memprediksi bahwa sisa masa jabatan Trump akan diwarnai dengan pemerintahan yang tidak memiliki legitimasi publik. “Selama dua tahun ke depan, Trump masih memiliki kekuasaan sebagai presiden: memveto rancangan undang-undang, mengeluarkan perintah eksekutif, bahkan berperang. Tapi ia akan memerintah tanpa persetujuan rakyat.”
Unjuk Rasa di Memphis Tolak Kehadiran Trump
Di tengah situasi ini, gelombang aksi unjuk rasa terjadi di sejumlah kota di Amerika Serikat. Salah satunya terjadi saat Trump mengunjungi Memphis pada Senin kemarin. Banyak warga yang tidak menyambut kunjungan Presiden tersebut, termasuk dalam operasi Memphis Safe Task Force yang digelar di kota mereka.
Para demonstran, khususnya komunitas imigran, menegaskan bahwa keberadaan task force justru membuat mereka tidak merasa aman. Komunitas Latino Memphis menyebut kampanye penegakan imigrasi telah mengguncang mereka, dengan perkiraan 900 penangkapan imigran — sebagian besar tanpa latar belakang kriminal.
“Imigran tidak merasa aman. Orang-orang tidak merasa aman. Ada kemungkinan lebih dari 900 penangkapan terhadap imigran. Angka resmi beberapa bulan lalu sekitar 600, tapi mereka tidak pernah memberikan jumlah sebenarnya. Sebagian besar dari mereka tidak punya catatan kriminal,” kata Mauricio Calvo, CEO Latino Memphis.
Warga juga mempertanyakan klaim Gedung Putih bahwa penurunan angka kriminal di Memphis adalah hasil kerja task force. Statistik kota menunjukkan angka kriminal sudah menurun dalam dua tahun terakhir dan mencapai titik terendah dalam 25 tahun sebelum task force hadir.
Anggota DPR Tennessee sekaligus calon Kongres AS, Justin Pearson, menilai Trump menggunakan Memphis sebagai pengalih isu. “Tidak ada kemenangan di sini bagi Donald Trump. Faktanya, angka kriminal sudah turun sebelum task force yang tidak aman itu diumumkan,” kata Pearson.
Para demonstran juga menyoroti waktu kunjungan Trump yang bertepatan dengan perang Iran dan kenaikan harga bahan bakar. “Kenyataannya, ia memulai perang yang tak bisa dimenangkan di Iran. Harga bensin naik, harga kebutuhan pokok naik. Ia hanya menjadikan kami pion dalam buku otoritarian miliknya,” ujar Pearson.
Bagi sebagian besar orang Amerika, tidak ada kemenangan saat ini. Ekonomi tidak berjalan, demokrasi diserang. Presiden seharusnya membicarakan hal-hal itu. Urusan luar negeri perlu ditangani. Datang ke Memphis hari ini jelas waktu yang buruk, kritik Calvo.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











