Peran Tiongkok dalam Pembangunan Global dan Kerja Sama dengan Indonesia
Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Bali, Zhang Zhisheng menyampaikan pandangan mengenai Sidang Dua Sesi Nasional 2026 yang baru saja berlangsung di Beijing. Sidang ini menjadi momen penting dalam praktik demokrasi rakyat di Tiongkok. Para perwakilan Kongres Rakyat Nasional dan anggota Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) dari berbagai kelompok etnis dan sektor membahas isu-isu utama nasional, memastikan bahwa rencana pembangunan mencerminkan kehendak rakyat serta sesuai dengan realitas dan tren zaman.
Salah satu hasil utama dari Sidang Dua Sesi adalah pengesahan Garis Besar Rencana Lima Tahun ke-15 untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Tiongkok (2026–2030). Dokumen ini menjadi rencana aksi bagi Tiongkok untuk memajukan modernisasi ala Tiongkok dan peta jalan kerja sama antara Tiongkok dan dunia.
Fokus pada Pembangunan Berkualitas Tinggi
Rencana Lima Tahun ke-15 menekankan pentingnya pembangunan berkualitas tinggi dengan kekuatan produktif tipe baru. Selama lima tahun ke depan, Tiongkok akan memperkuat kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi strategis nasional, melakukan pengaturan di bidang-bidang mutakhir seperti kecerdasan buatan, biomanufaktur, informasi kuantum, energi baru, dan eksplorasi ruang angkasa. Di samping itu, Tiongkok juga akan mempromosikan transformasi digital, cerdas, dan hijau dari industri tradisional, serta memperluas industri strategis yang sedang berkembang.
Pada tahun 2030, nilai tambah industri ekonomi digital inti akan mencapai 12,5 persen dari PDB, sementara total pengeluaran R&D akan tumbuh dengan rata-rata tahunan lebih dari 7 persen. Transformasi ini tidak hanya membentuk struktur ekonomi Tiongkok, tetapi juga memberikan panggung luas untuk kerja sama global dan berbagi teknologi.
Mengkoordinasikan Pembangunan dan Keamanan
Mengkoordinasikan pembangunan dan keamanan menjadi landasan utama Rencana Lima Tahun ke-15. Tiongkok mengintegrasikan keamanan di seluruh bidang dan proses pembangunan nasional, memperkuat fondasi untuk pembangunan jangka panjang. Berbagai aspek seperti ketahanan pangan, energi, ekonomi, dan keamanan data diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi global.
Menempatkan Rakyat sebagai Pusat
Modernisasi Tiongkok bertujuan untuk kemakmuran bersama. Dalam lima tahun ke depan, Tiongkok akan menerapkan strategi yang mengutamakan lapangan kerja, meningkatkan sistem layanan publik pendidikan, kesehatan, dan perumahan, serta meningkatkan harapan hidup penduduk hingga 80 tahun.
Mendorong Pembangunan Hijau dan Rendah Karbon
Tiongkok menerapkan konsep bahwa “air jernih dan pegunungan hijau adalah asset yang tak ternilai harganya”. Selama lima tahun ke depan, emisi karbon dioksida per unit PDB akan secara kumulatif menurun sebesar 17 persen, sementara perlindungan ekosistem dan restorasi lingkungan diperkuat. Transformasi hijau ini memberikan solusi Tiongkok untuk mengatasi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Mendorong Keterbukaan dan Berbagi Peluang
Tiongkok berkomitmen untuk terus membuka diri terhadap dunia luar, memperluas keterbukaan kelembagaan, dan memperkuat kerja sama dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan. Tiongkok juga menjunjung multilateralisme sejati, melindungi sistem internasional, serta bekerja sama untuk mengatasi tantangan global seperti ketahanan pangan dan energi.
Tiongkok dan Indonesia: Kemitraan Strategis
Tiongkok dan Indonesia merupakan negara berkembang utama dan kekuatan penting di “Global Selatan.” Kerja sama antara kedua negara di berbagai bidang terus berkembang. Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok dan visi “Indonesia Emas 2045” memiliki tujuan dan proses yang kompatibel.
Ada pepatah Tiongkok: “Satu orang tidak bisa berjalan jauh, tetapi banyak orang bersama bisa pergi jauh.” Tiongkok siap bekerja sama dengan Indonesia untuk menyelaraskan rencana pembangunan dan memperdalam kerja sama yang saling menguntungkan.











