"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Polisi Israel Tahan 18 Orang dalam Demo Penolakan Perang Iran

Demonstran Israel Turun ke Jalan Menentang Perang dengan Iran

Ratusan demonstran di Israel turun ke jalanan Tel Aviv, Haifa, dan Yerusalem untuk mengecam perang yang sedang berlangsung melawan Iran. Aksi protes yang terjadi pada Sabtu (28/3/2026) malam tersebut berlangsung sangat panas karena memicu bentrokan fisik antara pengunjuk rasa dan aparat kepolisian setempat. Para peserta aksi mengkritik perang di Iran karena dinilai tidak memiliki tujuan jelas dan tidak memberikan solusi yang jelas bagi masyarakat.

Pasukan keamanan diterjunkan untuk membubarkan kerumunan massa yang berkumpul secara ilegal di tengah status darurat nasional. Akhirnya, polisi menahan belasan pengunjuk rasa karena diduga telah memicu kerusuhan dan mengganggu ketertiban umum. Salah satu peserta aksi, Joanne Levine, menyampaikan kritik terhadap pemerintah, “Tidak ada yang memikirkan bagaimana kita akan keluar dari masalah ini, dan sama sekali tidak ada akhir yang terlihat. Ini semua tak lebih dari sekadar bagian rencana permainan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.”

Penangkapan 18 Demonstran di Tel Aviv dan Haifa

Kepolisian Israel telah menangkap setidaknya 18 orang selama gelombang protes. Penangkapan terbesar terjadi di Lapangan Habima, Tel Aviv, dengan total 13 demonstran diamankan oleh aparat. Lima pengunjuk rasa lainnya juga ditahan saat menggelar aksi protes serupa di Persimpangan Horev, Kota Haifa.

Pasukan keamanan menuduh massa bertindak rusuh karena mulai memblokir jalan raya dan menolak patuh pada instruksi petugas. Upaya pembubaran paksa oleh petugas penegak hukum tersebut diwarnai berbagai tindakan represif terhadap warga sipil. Wartawan di lapangan melaporkan aparat mendorong demonstran hingga terjatuh dan mencekik setidaknya satu peserta aksi.

Gelombang unjuk rasa akhir pekan ini mulai diikuti oleh berbagai organisasi sayap kiri serta mantan anggota parlemen. Kelompok aktivis terkemuka seperti Standing Together, Peace Now, hingga Women Wage Peace juga dilaporkan ikut turun ke jalan. Perwakilan kelompok aktivis Standing Together mengatakan, “Pemerintah takut akan meluasnya gerakan protes ini. Polisi telah diinstruksikan untuk melakukan penangkapan demi membungkam perbedaan pendapat.”

Larangan Berkumpul di Tengah Ancaman Rudal

Pihak kepolisian membubarkan massa karena demonstrasi tersebut tidak mengantongi izin. Perwakilan Komando Front Dalam Negeri Israel menegaskan bahwa perkumpulan semacam itu melanggar peraturan darurat. Pedoman keamanan masa perang yang berlaku saat ini melarang segala bentuk pertemuan massal yang melebihi 50 orang. Kebijakan diterapkan untuk melindungi warga dari ancaman serangan balasan pihak Iran dan Lebanon.

“Sangat mustahil menggunakan pedoman Komando Front Dalam Negeri sebagai alasan untuk membungkam protes politik. Polisi di negara demokrasi harus melindungi hak untuk berdemonstrasi, bukan malah takut terhadapnya,” ujar perwakilan koalisi Peace Partnership.

Mayoritas Warga Israel Dukung Perang Melawan Iran

Survei terbaru dari Institut Demokrasi Israel menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap operasi militer ini masih cukup tinggi. Tercatat 78 persen warga Yahudi Israel menyetujui operasi perang melawan Iran. Sentimen tersebut berbanding terbalik dengan pandangan minoritas Arab Israel yang hanya mencatatkan angka dukungan sebesar 19 persen.

Meski mayoritas mendukung perang, jumlah masyarakat penentang konflik merangkak naik dari 4 persen pada awal Maret menjadi 11,5 persen saat ini. Operasi serangan udara militer Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran sendiri telah dimulai sejak 28 Februari lalu. Serangan tersebut telah merenggut lebih dari 1.340 nyawa, termasuk menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *