PALEMBANG — Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang terjadi akibat konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz, mulai memberi dampak pada industri karet di Sumatra Selatan (Sumsel). Biaya produksi karet diperkirakan mengalami lonjakan lebih dari 10% karena kenaikan harga bahan baku utama seperti plastik.
Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K Eddy, menjelaskan bahwa perang dan penutupan jalur Selat Hormuz tidak hanya memicu kenaikan harga energi tetapi juga meningkatkan biaya produksi. Ia menyatakan:
“Akibat perang dan penutupan Selat Hormuz berdampak langsung terhadap harga minyak dan pelemahan rupiah. Hal ini menyebabkan biaya produksi membengkak, terutama naiknya harga bahan baku penolong utama seperti plastik,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Meski harga karet alam internasional turut meningkat akibat kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik, kondisi ini belum sepenuhnya menguntungkan produsen karet. Alex menambahkan:
“Kenaikan harga internasional otomatis juga menaikkan harga beli bahan baku ke petani. Di tengah persaingan pembelian bahan baku, pabrik-pabrik betul-betul harus melakukan efisiensi dan pengetatan anggaran agar bisa tetap eksis,” katanya.
Menurut Alex, ancaman terbesar datang dari sisi permintaan global jika perang berkepanjangan dan melibatkan lebih banyak negara. Gapkindo mengkhawatirkan ekonomi negara-negara tujuan ekspor akan melemah, sehingga belanja masyarakat menurun dan pabrik ban dunia mengurangi kapasitas produksi.
“Kalau perang berkelanjutan dan menarik banyak negara ikut berperang, kami khawatir ekonomi negara-negara tersebut melemah dan pabrik-pabrik ban mengurangi produksi mereka. Ini tentu akan berdampak terhadap permintaan karet alam kita,” jelasnya.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut. Gangguan pada jalur ini telah memicu kekhawatiran pasar internasional.
Hingga saat ini, industri karet Sumsel belum menerima laporan keterlambatan pengiriman ekspor. Alex menyatakan:
“Sampai saat ini belum ada laporan delay shipment.”
Komposisi pasar tujuan ekspor Sumsel masih relatif stabil tanpa perubahan signifikan. Negara-negara tujuan ekspor antara lain Amerika Serikat, Eropa, Jepang, India, dan Korea Selatan.
Berdasarkan data Gapkindo Sumsel, produksi karet Sumsel pada Januari 2026 turun menjadi 58.742 ton atau sebesar 14,1% dibandingkan Januari 2025 yang tercatat sebesar 68.367 ton. Pada Februari 2026, produksi juga menurun menjadi 63.674 ton atau 7% dibandingkan Februari 2025 yang berada di level 68.466 ton.
Secara kumulatif, total produksi selama Januari–Februari 2025 mencapai 136.833 ton, sedangkan pada periode yang sama 2026 sebesar 122.416 ton. Dengan demikian, total produksi turun 14.417 ton atau sekitar 10,5%.
Dari sisi ekspor, pada Januari 2025 tercatat sebesar 62.354 ton, turun menjadi 51.569 ton pada Januari 2026 atau sebesar 17,3%. Pada Februari 2025, volume ekspor mencapai 71.127 ton, lalu turun menjadi 59.151 ton atau 16,8% pada Februari 2026.
Secara total, ekspor pada dua bulan pertama 2025 mencapai 133.481 ton, sedangkan pada periode yang sama 2026 sebesar 110.720 ton atau turun sekitar 17%.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











