Sejarah TNI di Lebanon dan Peran Tiga Menteri dalam Kabinet Prabowo Subianto
Misi perdamaian TNI di Lebanon telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Awalnya, tugas ini dianggap sebagai penugasan yang relatif aman. Namun, situasi kini semakin memburuk karena pergeseran medan tugas dari zona aman menjadi area konflik aktif. Hal ini menimbulkan risiko yang lebih besar bagi pasukan penjaga perdamaian PBB, termasuk prajurit TNI.
Dalam konteks ini, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 RI, mengungkap bahwa tiga menteri dalam Kabinet Prabowo Subianto pernah menjadi bagian dari kontingen pertama TNI di Lebanon. Mereka adalah Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Ossy Dermawan. Berikut profil lengkap ketiganya:
1. Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara
Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara lahir pada 10 Maret 1977 di Banten. Ia dikenal sebagai seorang pengusaha dan purnawirawan TNI AD. Sebelum terjun ke dunia sipil, Iftitah menjalani karier militer yang cukup cemerlang. Lulusan Akademi Militer tahun 1999 ini pernah menjabat sebagai Komandan Peleton di Yonkav 8-Tank/Kostrad serta Perwira Seksi Operasi.
Ia juga pernah ditugaskan di Aceh untuk membentuk satuan baru, Yonkav 11/Kodam Iskandar Muda. Selama tiga tahun, ia bertugas di medan tempur dalam operasi Rencong (2003) dan operasi Pemulihan Keamanan (2004).
Pada 2006, Iftitah terpilih sebagai penjaga perdamaian di Lebanon melalui Kontingen Garuda-XXIII A/UNIFIL. Ia bahkan terpilih sebagai pembawa bendera PBB dalam Hari Nasional Italia tahun 2007 bersama perwira India dan Polandia.
Karier militernya sangat gemilang, hingga pernah dinominasikan sebagai peraih penghargaan “General Dwight D. Eisenhower Award”. Setelah 20 tahun mengabdi di militer, Iftitah pensiun dini pada 2018 dengan pangkat Letnan Kolonel.
Setelah pensiun, ia bergabung dengan Partai Demokrat dan saat ini menjabat sebagai Menteri Transmigrasi di Kabinet Merah Putih sejak 21 Oktober 2024.
2. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) adalah putra sulung Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Ia lahir di Bandung pada 10 Agustus 1978. AHY saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Indonesia.
Sebelum terjun ke dunia politik, AHY berkarier di dunia militer selama 16 tahun. Ia lulusan terbaik Akademi Militer tahun 2000 dan pernah meraih penghargaan Adhi Makayasa dan Pedang Trisakti Wiratama.
Selama masa dinasnya, AHY pernah menjalani tugas operasi pemulihan keamanan di Aceh pada 2002. Pada 2006, ia ditugaskan sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon. Setelah 16 tahun berdinas, AHY memilih pensiun dini pada 2016 dengan pangkat Mayor.
Setelah pensiun, ia memutuskan untuk berkarir di dunia politik dan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta.
3. Ossy Dermawan
Ossy Dermawan lahir di Jakarta pada 9 November 1976. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang merangkap Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Ossy dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024.
Ossy merupakan lulusan sekolah perwira karier TNI. Ia juga lulusan Norwich University, Military School of Vermont, Amerika Serikat. Ia menjadi lulusan terbaik dari Akademi Militer swasta tertua di Amerika pada tahun 2000 dan menjadi orang asing lulusan terbaik pertama sejak universitas tersebut dibuka pada 1819.
Pada 2006, Ossy ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di Lebanon. Ia mendapatkan Medali dari PBB atas pengabdiannya menjaga perdamaian di perbatasan Israel-Lebanon.
Ossy juga pernah menjadi asisten pribadi Presiden SBY dari tahun 2014 hingga 2018. Setelah 17 tahun berdinas di militer, ia pensiun dini pada 2018 dengan pangkat Mayor.
Kesimpulan
Tiga menteri dalam Kabinet Prabowo Subianto—Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Ossy Dermawan—memiliki latar belakang militer yang kuat. Mereka pernah menjadi bagian dari kontingen pertama TNI di Lebanon dalam misi perdamaian PBB. Meski kini mereka berada di dunia politik, pengalaman mereka sebagai prajurit TNI tetap menjadi fondasi penting dalam karier mereka saat ini.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











