"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Pendiri Pesantren Darul Istiqamah, Sepupu Pendiri Hidayatullah: Agh Marzuki, Guru KH Abdullah Said

Sejarah dan Perkembangan Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros

Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros, Sulawesi Selatan, memiliki sejarah panjang yang dimulai dari perjalanan hidup pendirinya, KH Ahmad Marzuki Hasan. Pada Maret 2026, pesantren ini akan merayakan miladnya yang ke-56 tahun. Pendirian pesantren ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah keagamaan, tetapi juga menjadi simbol perjuangan dalam menjaga syariat Islam di tengah dinamika politik dan sosial.

KH Ahmad Marzuki Hasan adalah putra dari AGH Hasan Syuaib, qadhi Bulo-Bulo di Sinjai. Ia dikenal dengan nama panggilan Kali Cambang. AGH Hasan Syuaib juga memiliki saudara, yaitu Abdul Kahar Syuaib, yang dikenal sebagai dai dan imam kampung setempat. Masyarakat lokal sering menyebutnya dengan gelar Puang Imang. Istri AGH Hasan Syuaib, Syarifah Aminah, melahirkan KH Ahmad Marzuki Hasan pada tanggal 31 Januari 1917 di Sinjai.

Beberapa tahun kemudian, istri dari Abdul Kahar Syuaib, Aisyah, melahirkan Muhsin Kahar pada 17 Agustus 1945. Muhsin Kahar, yang merupakan sepupu dari KH Ahmad Marzuki Hasan, akan menjadi tokoh penting dalam perkembangan pesantren.

Sebelum mendirikan pesantren, KH Ahmad Marzuki Hasan belajar pada AGH Muhammad As’ad di Sengkang, Wajo. Kehadiran DI/TII di Sulawesi, yang dipimpin oleh Abdul Qahhar Mudzakkar, memengaruhi minat KH Ahmad Marzuki Hasan dalam berjuang untuk menegakkan syariat Islam. Dalam buku biografi KH Ahmad Marzuki Hasan yang ditulis oleh anaknya, KH Arif Marzuki, disebutkan bahwa KH Ahmad Marzuki Hasan keluar dari hutan dan ikut berjuang menegakkan syariat Islam pada tahun 1965.

Setelah berada di kota, KH Ahmad Marzuki Hasan khawatir jamaah pengajian di hutan akan terpengaruh oleh kehidupan kota dan melupakan syariat. Awalnya, ia membuka pengajian di Masjid Nurul Hidayah Jalan Kapoposang (sekarang Jalan Andalas) Makassar dan di rumahnya. Muhsin Kahar, sepupunya, ikut mengaji dan memperdalam ilmu al-Qur’an dari KH Ahmad Marzuki Hasan.

Di sela aktivitasnya, Muhsin Kahar juga giat sebagai aktivis Pemuda Muhammadiyah. Pada akhir tahun 1969, ia bersama kawan-kawannya melakukan penyerbuan terhadap tempat perjudian lotto, yang menjadi salah satu sumber pendanaan olahraga di era Orde Baru. Banyak tokoh muda Muslim setempat diamankan di ruang tahanan Kodim 1408 Makassar saat itu.

Sementara jumlah peserta pengajian KH Ahmad Marzuki Hasan semakin banyak, muncul ide untuk mendirikan pesantren. Badan hukumnya dibentuk di rumah Haji Latanrang, yang merupakan tokoh berpengaruh saat itu. Haji Latanrang juga memberikan dukungan dalam penyediaan rumah dan fasilitas ketika lembaga baru dibentuk.

Pada tahun 1970, Yayasan Pendidikan Dakwah Islamiah (YPDI) berdiri dan berkantor di Jalan Merpati Masjid Jendral Sudirman, Makassar. Pada bulan Maret 1970, Muhsin Kahar memutuskan meninggalkan Makassar dan mengganti namanya menjadi Abdullah Said. Ia pindah ke Balikpapan, Kalimantan Timur, dan berhasil mengumpulkan sejumlah anak muda untuk kaderisasi dai melalui Training Center (TC) Darul Arqam.

Di Makassar, KH Ahmad Marzuki Hasan menemukan lokasi yang cocok untuk mendirikan pesantren, yaitu di Maccopa, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros. Lokasi ini diperoleh dari Bupati Maros saat itu, Kasim DM, melalui perantara Kodim Maros, Arifuddin, dengan luas 0,5 hektare.

Awalnya, pesantren hanya memiliki 7 orang santri yang belajar di masjid bambu dan asrama di bawah rumah KH Ahmad Marzuki Hasan. Ketika kabar tentang pesantren menyebar, banyak bekas anggota DI/TII mengirimkan anak-anak mereka ke Maccopa. Dalam tempo beberapa bulan, jumlah santri bertambah dari 7 menjadi 175 orang, lalu terus meningkat menjadi 400 orang.

Pada tahun 1983, KH Ahmad Marzuki Hasan memutuskan pulang ke kampung halamannya, Kabupaten Sinjai, dan menyerahkan kepemimpinan kepada anaknya, KH Arif Marzuki. Di Sinjai, KH Ahmad Marzuki Hasan aktif membawakan pengajian di Masjid Nurul Tijarah Pasar Sentral Sinjai, yang masih sederhana berdinding bambu dan atap daun nipah.

Selama masa kepemimpinan KH Arif Marzuki, pesantren mengalami ekspansi yang signifikan, termasuk perluasan lahan dari 2 hektare menjadi sekitar 65 hektare. Pesantren Darul Istiqamah kini memiliki 30 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Kawasan Timur Indonesia, seperti Sulsel, Sulteng, Sulut, Sulbar, Papua, dan Jakarta.

KH Arif Marzuki wafat pada dini hari Kamis 26 Juni 2025 dalam usia 83 tahun. Menurut Prof Dr Firdaus Muhammad, kematian KH Arif Marzuki sangat indah, karena ia wafat saat hendak shalat lail atau tahajud. Ia wafat pada tanggal dan bulan yang sama dengan ayahnya, KH Ahmad Marzuki Hasan, yang wafat pada 26 Juni 2006.

Keteladanan KH Arif Marzuki terlihat dari kesehariannya, seperti mendorong santri menghafal al-Qur’an. Beliau memberikan tips menghafal al-Qur’an, yaitu niat, tekad, merasa butuh, dan keyakinan betapa mulianya menghafal al-Qur’an. Setiap hari, beliau membaca al-Qur’an.

KH Arif Marzuki dikaruniai putra-putri, yaitu Mudzakkir Arif, Muzayyin Arif, Mukhlisah Arif, dan Mujawwid Arif.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *