JAKARTA — Konflik di kawasan Timur Tengah memberi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat komponen dalam negeri (TKDN) pada industri elektronik. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa gangguan rantai pasok global bisa menjadi momentum untuk mendorong substitusi impor. Namun, ia menekankan bahwa karakter industri elektronik yang sangat bergantung pada komponen impor membuat proses substitusi tidak bisa dilakukan secara instan.
“Yang lebih realistis dalam jangka pendek adalah peningkatan peran domestik pada beberapa tahapan produksi, bukan penggantian penuh terhadap produk impor,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (6/3/2026).
Menurutnya, penguatan TKDN harus diposisikan sebagai bagian dari strategi industrialisasi yang lebih mendalam, bukan sekadar kewajiban administratif. Upaya tersebut harus diiringi dengan pengembangan industri komponen, transfer teknologi, serta penguatan ekosistem pemasok domestik.
“Jika dilakukan dengan pendekatan yang tepat, TKDN bisa menjadi instrumen untuk mempercepat pendalaman industri, tetapi jika dipaksakan tanpa kesiapan, justru berisiko menaikkan biaya produksi dan menekan daya saing,” jelasnya.
Yusuf menjelaskan bahwa kenaikan biaya logistik global memang secara teori membuat produk lokal lebih kompetitif dibandingkan produk impor. Ketika ongkos pengiriman meningkat, harga barang impor ikut terdorong naik, sehingga produk lokal menjadi lebih menarik secara relatif. Akan tetapi, dalam praktiknya, efek ini tidak sepenuhnya sederhana. Produsen dalam negeri juga masih bergantung pada impor komponen, sehingga berisiko ikut terkena dampak kenaikan biaya logistik.
Artinya, keunggulan kompetitif yang muncul sangat bergantung pada seberapa dalam rantai pasok sudah terlokalisasi.
“Semakin tinggi kandungan lokal, semakin besar peluang menikmati keuntungan dari perubahan ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yusuf melihat konflik geopolitik juga membuka peluang relokasi produksi global ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Akan tetapi, peluang tersebut sangat bergantung pada kesiapan domestik dan daya saing dibandingkan negara lain seperti Vietnam, India, dan Thailand yang lebih dahulu memiliki ekosistem manufaktur matang.
Dalam jangka pendek, ia memperkirakan respons industri lebih banyak datang dari pelaku usaha yang telah beroperasi di dalam negeri melalui peningkatan kapasitas produksi. Sementara itu, investasi baru berskala besar menurutnya cenderung tertahan akibat ketidakpastian global.
Di tengah dinamika tersebut, Yusuf berpendapat bahwa peran pemerintah dinilai menjadi kunci dalam mendorong penguatan TKDN. Selain memberikan insentif fiskal, pemerintah juga perlu memastikan pengembangan sumber daya manusia, integrasi kawasan industri, serta sinkronisasi kebijakan perdagangan dan industri.
“Pemerintah juga perlu menciptakan kepastian permintaan, misalnya melalui pengadaan barang dengan TKDN tinggi, sehingga pelaku industri memiliki dasar kuat untuk berekspansi,” tutur Yusuf.
Strategi Penguatan TKDN yang Efektif
Untuk mendorong penguatan TKDN, diperlukan langkah-langkah strategis yang terarah dan berkelanjutan. Berikut beberapa poin penting:
-
Pengembangan Industri Komponen Lokal
Diperlukan investasi dalam pengembangan industri komponen lokal agar dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor. Ini akan memperkuat rantai pasok dan meningkatkan daya saing produk elektronik nasional. -
Transfer Teknologi
Kerja sama dengan perusahaan asing dapat menjadi pintu masuk untuk transfer teknologi, yang akan meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri dan mempercepat inovasi. -
Peningkatan Kualitas SDM
Pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia sangat penting untuk memastikan ketersediaan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan teknologi modern dan memproduksi komponen berkualitas. -
Kebijakan yang Konsisten dan Progresif
Pemerintah perlu merancang kebijakan yang konsisten dan progresif, baik dalam hal insentif fiskal maupun regulasi, agar industri dalam negeri dapat berkembang secara stabil.
Peluang Relokasi Produksi Global
Konflik di kawasan Timur Tengah juga membuka peluang bagi relokasi produksi global ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Namun, peluang ini hanya akan terwujud jika Indonesia mampu memenuhi standar kualitas dan efisiensi produksi yang diperlukan oleh perusahaan multinasional.
-
Daya Saing yang Tinggi
Indonesia perlu meningkatkan daya saing melalui peningkatan infrastruktur, kestabilan politik, dan akses ke pasar yang luas. -
Ekosistem Manufaktur yang Matang
Negara-negara seperti Vietnam dan Thailand telah memiliki ekosistem manufaktur yang lebih matang, sehingga Indonesia perlu mempercepat pembangunan infrastruktur dan kawasan industri. -
Kepastian Hukum dan Regulasi
Kepastian hukum dan regulasi yang jelas akan meningkatkan rasa percaya investor, terutama dari luar negeri, untuk melakukan investasi di Indonesia.
Peran Pemerintah dalam Mendorong Pertumbuhan Industri
Peran pemerintah sangat krusial dalam mendorong pertumbuhan industri elektronik dan penguatan TKDN. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
-
Insentif Fiskal
Pemberian insentif fiskal, seperti pajak rendah atau subsidi, dapat mendorong industri dalam negeri untuk berkembang dan meningkatkan kapasitas produksi. -
Pengadaan Barang dengan TKDN Tinggi
Pemerintah dapat menciptakan kepastian permintaan dengan membeli barang-barang yang memiliki kandungan lokal tinggi, sehingga industri dalam negeri memiliki dasar yang kuat untuk berkembang. -
Integrasi Kawasan Industri
Pengintegrasian kawasan industri akan mempermudah akses ke sumber daya, infrastruktur, dan pasar, sehingga meningkatkan efisiensi produksi. -
Sinkronisasi Kebijakan
Kebijakan perdagangan dan industri perlu disinkronkan agar tidak saling bertentangan dan dapat mendukung pertumbuhan industri secara keseluruhan.
Dengan strategi yang tepat dan dukungan pemerintah yang konsisten, Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat industri elektronik dalam negeri dan meningkatkan kandungan lokal dalam produksi.











