Presiden Prabowo Subianto dalam taklimatnya kepada para menteri dan pimpinan BUMN di Jakarta pada 8 April 2026, menyatakan bahwa pemerintahannya telah bekerja secara efektif dan andal selama satu setengah tahun terakhir. Ia tampak percaya diri bahwa popularitasnya masih sangat tinggi. Kepercayaan diri ini memang wajar, mengingat survei terbaru dari Indikator Politik Indonesia yang dirilis pada Februari 2026 menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,9 persen.
Selain itu, riset Praxa Institute terhadap pemberitaan dan postingan media sosial tentang pertemuan Presiden dengan para jurnalis dan pengamat di Hambalang pada 19 Maret 2026 menunjukkan paradoks komunikasi yang unik. Pertemuan ini merupakan upaya cerdas untuk melakukan narrative orchestration. Presiden membuka ruang bagi pengkritik paling keras dalam satu meja yang sama. Banyak pertanyaan tajam dilontarkan kepada Presiden yang sulit dijawab secara gamblang. Tak heran jika muncul dugaan bahwa pertemuan tersebut akan memangkas popularitas presiden.
Nyatanya, selama 11 hari setelah pertemuan, hingga akhir Maret 2026, percakapan publik mengenai pertemuan tersebut memang meledak hingga lebih dari 41 ribu mention. Percakapan justru didominasi oleh fragmen perdebatan panas antara Presiden dan Najwa Shihab. Namun, sentimen yang terbaca justru didominasi oleh nada netral. Media arus utama mencatat angka netralitas hingga 99,1 persen. Di ruang digital, meskipun kebisingan luar biasa tinggi, sikap publik tidak serta-merta mengkristal apalagi menghakimi.
Narasi negatif muncul terbatas, terutama terkait kekhawatiran atas kebebasan sipil, sementara tone positif menyoroti ketegasan dalam penegakan hukum. Di ruang digital, pola serupa juga terlihat: percakapan memang ramai, bahkan intens, tetapi tidak mengkristal menjadi sikap kolektif yang tegas. Platform X menjadi arena amplifikasi dan kritik paling aktif, sementara Facebook dan YouTube berkembang sebagai ruang diskursus yang lebih dalam.
Topik yang mengemuka pun tidak tunggal. Isu geopolitik dan hubungan internasional mendominasi percakapan, diikuti debat antara Presiden dan Najwa Shihab, kebijakan fiskal, hingga isu kebebasan sipil. Fragmentasi isu ini memperlihatkan publik menyerap banyak informasi sekaligus, namun belum mengkristalkannya menjadi satu penilaian yang utuh. Maka muncullah paradoks itu: percakapan yang bising tanpa penghakiman yang jelas.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa boleh saja mengklaim minimnya tone negatif terhadap presiden adalah hasil dari kebijakan APBN yang sukses menjaga harga energi tetap terjangkau. Tapi fenomena ini tidak dapat dibaca simplistis begitu. Klaim Pak Menteri masih rentan karena tidak dibangun di atas transformasi fundamental ekonomi atau perbaikan kesejahteraan warga.
Lebih masuk akal jika fenomena netral ini dipahami sebagai fase transisi dalam pembentukan opini publik—sebuah kondisi yang dalam ilmu komunikasi dikenal sebagai pre-consensus stage, ketika perhatian telah terkonsolidasi, tetapi makna belum terbentuk. Ada semacam sikap wait and see yang kolektif dari kelas menengah. Mereka memperhatikan dengan sangat teliti, namun belum cukup percaya untuk mengambil posisi yang tegas. Mereka lebih suka menahan diri—mengamati, membandingkan, dan menunggu sebelum memutuskan posisi.
Dalam kerangka agenda-setting theory (McCombs & Shaw), media mungkin juga belum menentukan bagaimana publik harus berpikir, tetapi telah berhasil menentukan apa yang harus dipikirkan. Isu-isu kunci; geopolitik, kebijakan fiskal, hingga kebebasan sipil, telah masuk ke dalam agenda publik. Namun, interpretasi atas isu-isu tersebut masih cair dan terbuka.
Fenomena ini juga mencerminkan pergeseran klasik dalam two-step flow of communication (Katz & Lazarsfeld). Media tidak lagi menjadi aktor tunggal dalam pembentukan opini. Publik kini menunggu artikulasi dari opinion leaders—analis, akademisi, hingga figur publik—untuk membantu mengkristalkan makna. Ketiadaan framing dominan di media menunjukkan proses ini masih berlangsung.
Berisik tapi Aman
Dominasi sentimen netral juga dapat dibaca melalui lensa spiral of silence (Noelle-Neumann) berupa kecenderungan para aktor untuk menahan diri dan tidak mengambil posisi yang terlalu tegas ketika arah opini mayoritas masih belum jelas. Makanya, lanskap komunikasi tampak stabil namun sesungguhnya mudah bergeser.
Bagi pemerintah, kondisi ini bisa menghadirkan peluang strategis yang jarang terjadi. Perhatian publik tercapai tanpa diikuti kerusakan reputasi yang signifikan. Hanya berisik tapi masih aman. Dalam perspektif komunikasi krisis, bisa jadi ini merupakan kondisi high attention, low attribution—eksposur tinggi tanpa pelabelan negatif yang dominan. Narasi masih belum terkunci. Interpretasi masih kosong.
Namun, kekosongan interpretasi itu tidak pernah benar-benar kosong. Interpretasi selalu menunggu untuk diisi. Jika pemerintah gagal, maka pemaknaan akan dilakukan oleh aktor lain yang memiliki kepentingan, kapasitas framing, dan kecepatan artikulasi.
Di titik inilah komunikasi publik pemerintah diuji. Pemerintah tak bisa semata mengandalkan kemampuan dalam menyampaikan informasi. Lebih dari itu, komunikasi pemerintah harus menunjukkan kemampuan dalam membentuk makna. Kemampuan untuk mengaitkan peristiwa dengan narasi yang lebih besar tentang kepemimpinan, arah kebijakan, dan nilai yang diperjuangkan. Kemampuan meaning-making strategy.
Tanpa itu, viralitas hanya akan menjadi kebisingan sesaat—ramai, tetapi tidak bermakna. Lebih baik pemerintah menggeser pendekatan dari sekadar message delivery menuju narrative orchestration. Ini mencakup tiga langkah utama. Pertama, mempercepat artikulasi makna melalui kanal-kanal kredibel, baik pernyataan resmi, tulisan opini, maupun keterlibatan pihak ketiga yang memiliki otoritas intelektual. Kedua, mengelola diferensiasi platform dengan memahami bahwa setiap medium memainkan peran berbeda dalam ekosistem narasi. Ketiga, menjaga konsistensi antara pesan, sikap, dan kebijakan, karena pada akhirnya kredibilitas tidak dibangun oleh retorika, melainkan oleh koherensi.
Menahkodai arus komunikasi publik adalah juga tentang bagaimana menjadi lebih baik dalam memaknai wacana publik secara otentik dan meyakinkan publik bahwa pemaknaan yang ditawarkan adalah yang paling akurat, masuk akal, dan layak didukung. Sekali lagi, mengundang para kritikus untuk bertemu dalam satu meja jelas merupakan langkah yang cerdik.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











