"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

71 delegasi Iran tiba di Pakistan, perang memanas di tengah negosiasi AS

Delegasi Iran Berangkat ke Pakistan untuk Negosiasi dengan AS

Negosiasi penting antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dimediasi oleh Pakistan telah memulai prosesnya di Islamabad. Delegasi Iran yang terdiri dari 71 anggota tiba di kota tersebut untuk membahas isu-isu nuklir dan keamanan. Proses ini berlangsung dalam situasi yang penuh tantangan, mengingat sejarah konflik dan ketidakpercayaan antara kedua negara.

Delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Selain para negosiator utama, rombongan juga dilengkapi oleh tim teknis, pakar, dan unsur keamanan. Hal ini menunjukkan kompleksitas tinggi dari perundingan yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, bersama utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner. Meski demikian, suasana emosional menyelimuti pertemuan ini. Banyak yang merasa bahwa pengalaman masa lalu tidak dapat diabaikan begitu saja.

Isu Nuklir dan Keamanan yang Dibahas

Pembicaraan ini menjadi sorotan global karena melibatkan proposal 15 poin dari pemerintahan Donald Trump. Proposal ini mencakup tuntutan tegas, seperti komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, menyerahkan uranium yang telah diperkaya tinggi, membatasi kemampuan pertahanan, hingga membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, selain isu teknis, ada aspek emosional yang turut memengaruhi proses negosiasi. Rekaman yang dirilis media lokal menunjukkan bahwa Araghchi disambut dengan karpet merah dan senyum diplomatik. Namun, simbol-simbol yang ia bawa di dalam pesawat—seperti tas sekolah dan foto anak-anak korban serangan udara—menggambarkan sisi lain dari konflik ini.

Serangan yang dimaksud terjadi di Minab, di mana menurut media Iran, sedikitnya 168 anak dan 14 guru tewas dalam serangan militer AS yang disebut sebagai kesalahan akibat informasi intelijen yang usang. Tragedi ini menjadi bayang-bayang dalam setiap langkah negosiasi.

Sikap Iran yang Penuh Skeptisisme

Ghalibaf sendiri menegaskan sikap negaranya: terbuka untuk kesepakatan, namun tidak lagi menaruh kepercayaan penuh pada Washington. Ia menyatakan bahwa mereka memiliki itikad baik, tetapi tidak percaya. Pernyataannya ini menyinggung pengalaman masa lalu yang disebutnya penuh pelanggaran komitmen.

Negosiasi yang dimediasi Pakistan antara Iran dan AS selama gencatan senjata sementara setelah 40 hari agresi militer AS-Israel terhadap Iran dimulai di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026) sore. Menurut koresponden Tasnim yang dikirim ke Islamabad, karena konsultasi intensif di Islamabad, kemajuan dalam pembicaraan, dan pembatasan serangan oleh rezim Zionis dari Beirut hingga Lebanon selatan diputuskan bahwa negosiasi antara Iran dan AS akan dimulai di Islamabad untuk menyelesaikan masalah-masalah ini.

Iran menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon belum sepenuhnya terwujud, dan bahwa AS berkewajiban untuk memaksa rezim Israel untuk memenuhi komitmen ini. Delegasi Iran menindaklanjuti masalah ini secara serius melalui mediator Pakistan dan juga di dalam ruang negosiasi.

Meski ada skeptisisme terhadap pihak lain, Iran telah setuju untuk berpartisipasi dalam putaran pembicaraan ini di bawah mediasi Pakistan. Sebanyak 71 anggota delegasi Iran tiba di Pakistan untuk menjalani perundingan krusial dengan AS, membawa harapan sekaligus ketidakpercayaan mendalam setelah konflik yang meninggalkan luka kemanusiaan.

Ketegangan antara harapan damai dan trauma perang kini bertemu di meja perundingan Islamabad. Dunia menanti apakah dialog ini mampu membuka jalan menuju stabilitas, atau justru kembali memperdalam jurang ketidakpercayaan antara dua kekuatan lama yang berseteru.


Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *