"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Ulasan Film: Bolehkah Sekali Saja KuMenangis, Bukan Keluarga Bahagia Tapi Mengajarkan Kehidupan

Film yang tayang pada tahun 2024 di bioskop, saya berkesempatan menyaksikan film ini pada bulan Desember 2025. Film ini menceritakan tentang seorang anak bernama Tari yang diperankan oleh Prilly Latuconsina. Ia tinggal bersama ayahnya, Surya Saputra, yang memiliki sifat temperamental dan keras serta sering melakukan hal kasar terhadap istrinya, Dominique Sandra. Tari juga memiliki seorang kakak bernama Bunga yang sudah lama tidak pulang ke rumah karena tidak ingin bertemu ayahnya yang keras dan sering mengatur.

Ibu Tari sangat sabar dan selalu berharap suaminya bisa berubah. Dari kondisi keluarga seperti itu, Tari menjadi orang yang siaga dan banyak memperhatikan hal-hal di sekitarnya. Ia berusaha terlihat baik-baik saja dan menjadi manusia “Yes Man” yang tidak bisa menolak jika dimintai sesuatu oleh teman kerjanya. Hal ini membuatnya merasa tidak nyaman.

Pernah dalam suatu situasi, Tari merasa penuh beban. Saat ia akan bekerja di toilet stasiun LRT, ia berkaca sejenak untuk berlatih tersenyum agar mood-nya lebih baik. Karena tidak kuat dengan tekanan mental di dalam keluarganya, Tari akhirnya memutuskan untuk ikut kelas ke psikolog. Di sana, ia bergabung dalam lingkaran diskusi dengan ahli untuk berbagi dan mencoba meringankan beban pikiran dan mentalnya.

Ayah Tari sering membawa masalah kantor ke rumah. Jika ada masalah di tempat kerja, istri dan anak-anak menjadi pelampiasannya. Ibu Tari menyukai membuat kue, namun pesanan kue yang datang silih berganti membuat biaya listrik meningkat. Meskipun sudah dianggap sebagai bagian dari harga jual kue, ayah Tari tidak setuju. Masalah kecil ini menjadi besar karena sikap ayah Tari yang selalu mencari masalah.

Suatu hari, Tari ingin pergi dari rumah dan ingin ngekost bersama ibunya. Tujuannya adalah untuk menghindari ayahnya yang selalu kasar. Namun, ibunya terus menolak dengan alasan bahwa ayahnya telah berjanji akan berubah. Tari merasa lelah dan marah karena ibunya tetap berharap ayahnya akan berubah meskipun tidak pernah terwujud.

Baskara (diperankan oleh Pradikta Wicaksono), seorang atlet terkenal pada masa lalunya, adalah teman kerja Tari. Sayangnya, Baskara sering tersulut emosi dan cenderung memukul orang jika sedikit tersinggung. Hal ini membuat rekan kerjanya enggan bekerja sama dengannya. Akhirnya, Baskara bekerja sama dengan Tari. Ia juga lama tidak pulang ke rumah orangtuanya karena malu dengan perilaku buruknya.

Baskara memberikan informasi mengenai kosan strategis untuk Tari dan ibunya. Mereka akhirnya pergi ke kos yang direkomendasikan Baskara. Ayah Tari yang baru saja di-PHK dari kantor mencari keberadaan istrinya dan putrinya. Ia mendatangi tempat kerja Tari dan mencari jejak keberadaan mereka. Namun, semua orang menutupi keberadaan Tari karena mengetahui bahwa ayahnya adalah penyebab masalah dan beban yang dihadapi Tari. Handphone ibunya dipegang oleh Tari. Pras menghubungi istrinya berkali-kali namun tidak ada jawaban.

Akhirnya, ayah Tari menemukan kosan mereka. Ia mendapatkan informasi lokasi dari ibu Tari. Saat Tari sudah di rumah, ayahnya meminta mereka pulang. Dengan terpaksa, Tari dan ibu kembali ke rumah. Ayah Tari selalu berjanji akan berubah, namun hal itu tidak pernah terwujud. Perilaku kerasnya masih terjadi. Sang ayah masih mencari-cari masalah hingga akhirnya Tari menangis karena lelah membujuk sang ibu. Ia masih berpikir ayahnya akan berubah.

Ayah Tari tidak suka melihat Baskara dekat dengan Tari. Karena pernah ada kejadian di mana Baskara tak sengaja memukul ayahnya. Ketika melihat Tari masih bersama Baskara di kantor, ayah Tari dengan tegas menyuruh Tari tidak boleh bekerja lagi. Tari menolak dan tetap ingin bekerja. Akhirnya, Pras (ayah Tari) menampar Tari cukup keras.

Melihat anak bungsunya dihukum oleh suaminya, ibu Tari mengajak anaknya pergi dari rumah. Ia sudah lelah dengan perilaku suaminya. Melihat hal itu, ibu Tari mantap untuk segera pergi bersama anaknya. Setelah dihalang-halangi, akhirnya Tari dan ibu bisa pergi dengan bantuan psikolog yang menjadi tempat konsultasi Tari.

Tari dan ibunya mencari tempat tinggal baru yang lebih layak. Mereka ingin hidup tenang tanpa tekanan dan tangis. Beberapa hari kemudian, surat gugatan cerai sampai ke rumah. Ibu Tari menggugat cerai ayahnya. Kini, Pras (ayah Tari) kehilangan pekerjaan dan keluarga yang ia sayangi. Ia merasa selama ini telah berjuang untuk keluarganya, namun Tari sebagai anak justru memiliki banyak trauma yang didapat dari ayahnya sendiri.

Berbulan-bulan telah berlalu. Ibu Tari membuka toko kue yang didanai oleh Tari dan Bunga, kakaknya. Mereka bersemangat membuka lembaran baru bertiga. Berusaha menyenangkan hati ibunya tanpa beban.

Akhirnya, Pras mengikuti sesi konsultasi dengan psikolog yang sama dengan Tari. Di sesi itu, Tari datang terlambat, namun mendapati seorang Bapak yang sedang bercerita bahwa ia mengakui sudah gagal menjadi bapak dan suami yang baik. Pras selalu diajarkan dengan tegas dan keras. Hukuman demi hukuman sering ia dapat sejak kecil. Sayangnya, luka itu juga di torehkan pada keluarganya sendiri. Hingga akhirnya, ia kehilangan istri dan anak-anaknya.

Jika ada anakku dihadapan saya, ingin bilang: “Maafkan Ayah yang sudah membuat sakit hati. Harusnya ayah bisa jadi rumah untuk keluarga kita.” Lelaki itu adalah Pras, ayah Tari.

Tari mendengar pernyataan ayahnya sambil menangis. Kini Tari mengetahui bahwa ayah telah mengakui kesalahannya. Namun luka itu tetap ada di batin istri dan anak-anaknya.

Pelajaran yang Bisa Kuambil:
– Berusaha tidak menjadi people pleaser atau yes man. Karena itu sangat berat. Bekerjalah sewajarnya, jangan bekerja untuk hal yang bukan job desk kita.
– Setiap orang mungkin memiliki luka masa lalu, namun tugas kita tidak membiarkan luka tersebut ditorehkan ulang ke keturunan kita.
– Menjadi istri kadang perlu pemikiran yang kritis dan realistis. Ketika perempuan sudah memberi kesempatan seseorang namun terus mengulang kesalahan yang sama dan fatal akibatnya, maka pikirkan apakah orang itu tepat menjadi pasangan kita selamanya?
– Pergi, menepi untuk sesaat tak apa. Menangis pun boleh. Agar hati tenang, lega, dan pikiran tidak gusar.
– Menjadi seorang ayah memang tidak ringan. Namun berusahalah menjadi ayah yang memberikan contoh baik pada anak-anak, jadi teladan bagi anak-anak. Bukan jadi beban pikiran bagi anak.
– Saat mengobrol dengan anak jangan menggunakan kalimat yang meninggi, karena hal itu membuat anak tertekan. Sebaliknya, jika bicara pada anak harus dengan nada lemah lembut dan akrab supaya anak tidak merasa terintimidasi jika mengobrol bersama orangtuanya.

Itulah ulasan film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis. Dan pelajaran yang saya dapatkan dalam film ini. Film ini memang tidak memberikan gambaran visual keluarga yang bahagia. Namun film yang disutradarai oleh Reka Wijaya, ditulis oleh Junisya Aurelita, Rezy Junio, Santy Diliana, dan Alim Sudio ini sarat makna dan pelajaran. Bagaimana cara kita menyikapi hidup. Dan bagaimana seorang ayah/suami yang toksik itu kadang ada saja di kehidupan nyata…

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *